Presiden dan Perut Rakyatnya

Oleh: Iwan Wahyudi

Penulis Buku “Hidup adalah Catatan”

Lelaki itu di malam gelap memanggul sediri karung berisi makanan dari gudang logistik negara, memasaknya sendiri, lalu memastikan tersantap oleh janda papa dan anaknya.

Kisah ini terkenal dan pasti di antara pembaca sudah ada yang mendengar bahkan sering. Umar bin Khattab Khalifah (kepala negara/presiden) setelah Abubakar Shiddiq terkenal dengan belusukan malamnya. Tanpa tim protokoler dan sorotan media. Kadang hanya ditemani oleh seseorang saja.

Daerah yang disisir bagian pelosok yang jauh dari ibukota dengan akses segala begitu mudah. Terluar, terpencil, dan tertinggal (3T). Saya membayangkan betapa kuatnya beliau. Siang sudah mengurusi negara dan rakyat, malam ibadahnya luar biasa, masih sempat dan ada waktu untuk belusukan.

Suatu malam dalam blusukannya ia mendengar suara anak yang menangis dari tenda kusam yang tak berhenti, memecah malam yang hening dan gelap. Umar pelan-pelan mendekati tempat itu tanpa disadari oleh janda tua yang terlihat merebus sesuatu dan tak kunjung matang.

Saat si anak lelah menangis dan tertidur, lalu Umar masuk dan bertanya, apa yang direbus tak kunjung masak itu? Saat panci dibuka ternyata beberapa batu di dalamnya. Wah kalau begini hingga kiamat juga tak akan matang direbus.

“Kenapa hal itu kamu lakukan?” Umar mencari tau, kok ada dan tega seorang ibu menipu anaknya macam ini. Apalagi kalau bukan karena masalah kemiskinan dan mereka tak masuk dalam daftar penerima bantuan kaum papa. Hingga dari bibir wanita tua itu keluar ucapan yang menyalahkan pemimpinnya Umar bin Khattab.

Mendengar dan mengetahui itu Umar tak langsung membantah bahwa mereka cuma satu keluarga dari ratusan keluarga yang diurus oleh Umar sebagai kepala negara.

Umar balik kanan kembali ke ibukota. Bukan untuk rapat dan koordinasi dengan pejabat struktural yang mengurus pangan atau kepala daerah yang membawahi tempat domisili janda tua dan anaknya itu. Bukan juga mengundang media untuk memberi klarifikasi atas protes dari penghuni tenda lusuh. Bukan pula menyiapkan tim media untuk liputan dan live atas blusukan malam ini.Umar langsung ke gudang logistik Bulog, memanggulnya sendiri karung bahan makanan.

Seorang yang menemaninya, bahkan menawarkan diri untuk memikulnya, masa selevel presiden harus eksekusi sendiri dan pendamping hanya lihat saja. Umar hanya menjawab, “Apa engkau sanggup memikul dosa Umar di akhirat kelak atas kelalaian ini?”. Sebuah jawaban seorang pemimpin sejati dan bernurani yang lahir dari kualitas keimanan.

Sesampainya kembali ke tenda lusuh dengan bahan makanan dipundaknya. Umar langsung memasak dengan tangannya sendiri. Ia kemudian memastikan si ibu perebus batu dan anak yang menangis kelaparan hingga mengantuk kelelahan itu menyantap menu ala Umar malam itu.

Tidak setara memang membandingkan kepemimpinan seorang Umar dengan pemimpin manapun di dunia saat ini. Tidak adil rasanya berharap apa yang dilakukan Umar pada pemimpin sekarang. Tapi lebih tidak adil lagi jika dengan fasilitas yang jauh lebih banyak dan struktur pemerintahan hingga level RT saat ini menjadi tameng tak bisa mendeteksi dini ada warga yang kelaparan. Tidak seimbang rasanya dengan alat komunikasi dan masyarakat yang melek media sosial saat ini, pemimpin tak mendengar tangisan kelaparan rakyatnya ditengah malam gelap dan sunyi.

Ada tanggungjawab sesama rakyat untuk peka pada tetangga dan lingkungannya, namun harus diiringi juga dengan hati lapang dan nurani yang jernih pemimpin pembuat kebijakan dengan segala instrumen pendukungnya.

Sebuah ungkapan Umar yang masyhur bukan hanya dalam urusan perut rakyat, tapi infrastruktur juga memberikan gambaran bagaimana kepemimpinan Islam memiliki standar moral yang tinggi, tidak kaleng-kaleng dan omon-omon saja.“Seandainya seekor keledai terperosok di Irak, aku takut Allah akan menanyakanku: Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?”

Keledai jatuh saja membuat gelisah Umar jika nanti ditanya kepemimpinannya oleh Allah Swt. Apalagi dengan rakyat yang perutnya lapar bahkan keracunan di mana-mana. Wallahu’alam. (*)

Scroll to Top