
Oleh: Iwan Wahyudi
Penulis Buku “Pemuda Inspirasi Wajah Negeri”
USIANYA masih 19 tahun ketika meraih predikat lulusan terbaik Hogere Burger School (HBS) atau sekolah menengah di seluruh Hindia Belanda (sekarang Indonesia) pada 1903. Dengan kepintaran tersebut setidaknya akan menjadi tiket mulus beasiswa melanjutkan belajar kedokteran ke Belanda. Tapi usulan beasiswanya ditolak.
RA. Kartini yang mendapat beasiswa untuk belajar ke Belanda, karena terkendala “tradisi” perempuan tidak boleh sekolah apalagi jauh ke luar negeri, meminta agar beasiswanya dialihkan ke pemuda kelahiran Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat 8 Oktober 1884 itu. Dan dikabulkan pemerintah Belanda.
Sang pemuda yang terlanjur layu akibat kecewa oleh kebijakan beasiswa Belanda, malah menolak beasiswa pengganti dari RA. Kartini. Pendiriannya teguh, beasiswa harus berdasarkan kemampuan bukan kasihan. Kepandaian diri, bukan sekadar pengganti. Apalagi siasat kolonialisme bangsa penjajah. Nasionalismenya terlanjur terbakar dan mendekam erat dalam sanubarinya yang paling dalam.
Kecewa dan layu bukan akhir segalanya. Hanya titik rendah yang pernah singgah untuk kembali tumbuh. Sebagaimana halnya dirasakan tanaman saat kemarau panjang. Seperti halnya kegagalan yang memberi pelajaran bangkit kembali, bukan menyerah pada keadaan.
Pemuda itu tidak putus asa dan menyerah. Beasiswa ke Belanda bukan segala-galanya, pasti ada jalan lain yang telah di persiapkan Allah Swt untuknya, tentu hal itu pasti yang terbaik. Ia yakin dalam setiap kesulitan bersamanya hadir kemudahan. “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)
Pemuda di atas bernama H. Agus Salim. Tiga tahun kemudian Allah Swt membukakan jalan ke luar negeri, kali ini bukan ke Belanda, tapi ke ke Jeddah, Saudi Arabia. Ia bekerja sebagai penerjemah pada kedutaan Belanda sekaligus memperdalam keislaman pada Syaikh Ahmad Khatib bin Abdul Latif bin Abdullah bin Abdul Aziz al-Minangkabawi al-Jawi al-Makki asy-Syafi’i al-Asy’ari (atau sering dikenal sebagai Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi) yang juga masih pamannya. Pada usia 28 tahun, sekembalinya dari Jeddah ia mendirikan sekolah berbahasa Belanda Hollandsch Inlandsche School (HIS) dengan status swasta di kampung halamannya.
Sejarah kemudian mengabadikannya sebagai diplomat ulung republik yang menjadi salah satu tokoh kunci pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Mesir dan dunia Arab lainnya. Menjadi Menteri Luar Negeri di beberapa kabinet masa revolusi.
Sosok polyglot ini, tak hanya pandai berdiplomasi, tapi juga ampuh menulis. Ia menguasai 4 bahasa asing di Eropa (bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Jerman dan bahasa Prancis), 2 bahasa asing di Timur Tengah (bahasa Arab dan bahasa Turki), serta bahasa Jepang.
Buah penanya melahirkan beberapa buku karya seperti: Riwayat Kedatangan Islam di Indonesia, Dari Hal Ilmu Quran, Muhammad voor en na de Hijrah, Gods Laatste Boodschap, dan Hoekoem yang ke lima.
Selain itu ada juga kumpulan karya Agus Salim yang dikompilasi koleganya, Oktober 1954 berjudul Jejak Langkah Haji Agus Salim. Dan Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal, buku yang ia karang setelah mengundurkan diri dari dunia politik tahun 1953.
Tokoh yang pernah memimpin Sarekat Islam setelah HOS. Tjokroaminoto ini memiliki beberapa karya terjemahan. Sebut saja Menjinakkan Perempuan Garang dari karya Shakespeare yang berjudul The Taming of the Shrew, Cerita Mowgli Anak Didikan Rimba dari karya Rudyard Kipling yang memiliki judul asli The Jungle Book. Tidak ketinggalan juga Sejarah Dunia karya E. Molt.
Sosok yang pintar, tapi memilih hidup jujur juga sederhana sebagai mata air keteladanan generasi berikutnya ini wafat di Jakarta pada 4 November 1954. Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 27 Desember 1961 melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 657 Tahun 1961. (*)

