Karena Aib Kita Ditutupi, Bukan Direstui!

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis buku “Ketika Allah Memilihmu”

BELAKANGAN ini kita saksikan media sosial berubah menjadi panggung untuk membongkar aib orang lain tanpa rasa takut. Satu potongan video dipelintir, satu foto diberi narasi dusta, lalu ribuan orang ikut mencaci. Banyak orang merasa hebat ketika berhasil mempermalukan orang lain di ruang publik. Padahal yang ia kejar hanyalah tepuk tangan algoritma yang fana. Ia lupa bahwa setiap ketikan untuk membuka aib akan kembali ditanya di hadapan Allah.

Padahal aib kita sendiri terlalu banyak, hanya saja Allah masih menutupinya dengan rahmat-Nya. Kita berdosa di waktu terang dan gelap, namun Allah tidak langsung mempermalukan kita. Kita mengulang maksiat yang sama, namun Allah tetap memberi nafas, rezeki, dan kesempatan pulang. Tutupan itu bukan karena kita mulia dan suci tanpa cela. Jika tirai itu dibuka, niscaya tak ada dari kita yang berani menatap wajah manusia.

Kesadaran inilah yang seharusnya menghentikan kebiasaan menyebar aib orang lain. Orang yang sibuk membuka aib orang lain sejatinya sedang lupa pada aibnya sendiri. Ia merasa aman seolah dirinya bersih, padahal ia hidup dari tutupan Allah setiap hari. Ia lupa bahwa jika Allah berkehendak, aibnya bisa terbuka dalam sekejap mata. Maka jangan pernah bangga menjadi penyebar aib, karena itu tanda hati yang lalai.

Karena itu orang yang baik selalu memilih untuk melihat ke dalam dirinya terlebih dahulu. Melihat ke dalam artinya berani bercermin jujur di hadapan Allah tanpa topeng. Ia memeriksa lisannya yang tajam, hatinya yang hasad, dan shalatnya yang sering lalai. Ia tidak sibuk menjadi hakim atas dosa orang lain di kolom komentar. Dari kejujuran itulah jalan perbaikan bermula dengan lebih jernih dan tenang.

Ia pun sadar bahwa waktunya terlalu berharga untuk mengurusi aib orang lain. Waktunya ia pakai untuk menghitung dosa yang belum sempat ia taubati dengan sungguh-sungguh. Waktunya ia pakai untuk memperbaiki niat yang bengkok dan menata amal yang berantakan. Ia tahu yang akan ditanya di alam kubur bukan aib tetangganya, melainkan amalnya sendiri. Maka ia memilih diam, dan dalam diamnya ia terus berbenah.

Di dalam diam itu tumbuh satu kerinduan besar, yaitu rindu pada ampunan Allah. Ia sangat berharap pada ridha dan kasih sayang Allah yang tak pernah putus. Ia ingin setiap nafas dan langkahnya selalu dalam bimbingan dan rahmat-Nya. Rindu itu yang membuatnya terus kembali meski sering terjatuh pada lubang yang sama. Sebab ia tahu, tak ada tempat pulang yang lebih aman selain kepada Allah.

Allah sangat mencintai hamba yang mau menempuh jalan pulang meski tertatih-tatih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi) Hadis ini mengajarkan bahwa taubat adalah fitrah manusia, bukan aib. Allah tidak menuntut kita menjadi malaikat tanpa dosa, Allah hanya menuntut kejujuran untuk kembali. Setiap pengakuan dosa adalah langkah pulang yang dicintai langit.

Maka jangan pernah merasa aman ketika Allah masih menutupi aib kita hari ini. Tutupan itu adalah kesempatan untuk bertaubat, bukan tanda bahwa maksiat kita direstui. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim). Hadis ini menjadi pengingat agar kita menjaga lisan dan tulisan. Jika kita ingin aib kita dijaga oleh Allah, maka belajarlah menjaga aib saudara kita.

Orang yang sibuk mencari kesalahan orang lain akan kehilangan waktu untuk memperbaiki dirinya sendiri. Ia lupa bahwa pada hari kiamat, lembaran yang dibentangkan adalah catatan amalnya, bukan catatan orang lain. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan saling mendengki.” (Bukhari dan Muslim). Hadis ini adalah fondasi untuk menjaga hati tetap bersih. Hati yang bersih akan lebih mudah melihat aibnya sendiri daripada sibuk melihat aib orang lain.

Karena itu pulanglah sebelum tirai itu Allah singkapkan dengan keadilan-Nya. Menangislah atas dosa yang belum sempat kita tangisi dan atas waktu yang terbuang sia-sia. Jadikan sisa umur sebagai perjalanan pulang yang paling sungguh-sungguh menuju ridha Allah. Allah menanti kita dengan ampunan yang lebih luas dari langit dan bumi. Allah lebih suka hamba yang datang dengan hati yang patah, lalu kembali dengan cinta yang lebih utuh dari sebelumnya. (*)

Scroll to Top