
Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia”
ORGANISATION for Economic Co-operation and Development (OECD) resmi merilis laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 untuk 760 ribu pelajar dunia. 760 ribu anak manusia direduksi menjadi angka, 91 bangsa dibariskan di meja tanpa “bismillah”. Di puncak menara kaca itu Singapura bertahta, sejajar Cina, Korea Selatan, Jepang yang ulet dan disiplin.
Singapura disebut raja membaca, dan bayang kedua Cina dalam matematika dan sains. Nilainya melesat hampir 100 poin di atas rerata OECD yang lelah: 486 untuk sains, 466 untuk membaca, 469 untuk matematika. Indonesia merangkak naik dari luka 2022, namun tetap dipaksa menunduk, seolah kita bangsa yang terlambat lahir.
Lalu dalam hening malam, kita bertanya: pernahkah PISA mencium bau kayu dan sajadah di pesantren? Pernahkah ia singgah di Gontor Ponorogo, Darul Arqam Muhammadiyah Makassar, MBS Yogyakarta, Nurul Hakim Lombok, Al-Ikhlas Sumbawa, at-Taqwa Depok, Hidayatullah Balikpapan, Persis Bangil Pasuruan, Persis Pejagalan Bandung, Lirboyo Kediri, dan al-Amin Madura yang mengajarkan dunia dan akhirat secara bersamaan serta mengajarkan ilmu dan adab?
Pernahkah PISA menguji anak yang menghafal 30 juz al-Qur’an sambil memikul karung dagangan demi ibu yang sakit di bilik bambu? Pernahkah ia menguji santri yatim yang enam tahun memeluk ribuan hadis dalam perut lapar? Apakah ia tahu, ada anak yang menghafal bukan untuk piala, tapi untuk mahkota orangtua yang telah tiada di pusara? Tentu tidak, karena PISA adalah agama materialistik, ia hanya menyembah angka. Ia buta pada nilai kehidupan yang tak bisa diangkakan, tapi bisa dirasakan oleh langit. Ia bisa mengukur kecepatan, tapi tak pernah mengukur keikhlasan.
Renungkanlah timbangan yang timpang itu dengan jiwa yang jujur. Singapura 2026 hanya 5,9 hingga 6,1 juta jiwa, sebutir embun di daun talas Indonesia. Indonesia 290 juta jiwa, samudra manusia yang menghampar dari Sabang hingga Merauke. DKI Jakarta saja 10,67 juta jiwa menurut BPS, satu provinsi melampaui satu negara juara PISA. Membandingkan samudra dengan cangkir adalah dusta akademik yang dipoles menjadi kebenaran. Lebih jujur bandingkan Singapura dengan Jakarta, bukan dengan Indonesia yang termasuk lima raksasa dunia.
Brunei hanya 470 ribu jiwa, lebih kecil dari denyut satu kecamatan di Bekasi. Setara satu kabupaten kecil di provinsi di luar kota. Namun skornya dipakai untuk memukul harga diri kita, seolah kita kerdil selamanya. Seolah kita ditakdirkan menjadi bangsa bodoh yang abadi. Padahal sejak dalam pikiran pun perbandingan itu sudah curang: konsepnya beda, nilainya beda, kiblatnya beda.
Maka ini bukan evaluasi, ini adalah ilusi statistik yang disakralkan oleh mereka yang telah minder sebelum bertanding. Apa yang diuji PISA? Hanya tiga hal yang kering: membaca, matematika, dan sains. Apakah santri yang mengkaji kitab gundul tanpa harakat dianggap tidak bisa membaca? PISA tak pernah menguji air wudhu yang sempurna di subuh yang menggigil. Tak pernah menguji lirihnya doa untuk kedua orang tua di bibir yang pecah karena puasa. Tak pernah menguji sabar saat lapar, ikhlas saat dihina, syukur saat diberi secuil nasi. Bagaimana mungkin cahaya diukur dengan penggaris kegelapan? Bagaimana mungkin emas murni ditimbang dengan timbangan plastik mainan?
Kembalilah pada konstitusi, di sanalah rumah kita yang hilang. Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga berbisik seperti wahyu yang lembut: Atas berkat rahmat Allah. Bukan atas berkat OECD, bukan atas restu Singapura, Cina yang beda, atau Amerika yang pongah. Pasal 31 ayat 3 menegaskan dengan cinta: pendidikan meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia. Bukan hanya kepintaran yang bisa diuji, bukan hanya skor yang bisa dipamer. Itu kiblat langit yang abadi, bukan kiblat laboratorium yang dibuat kemarin sore lalu usang.
UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 memeluk konstitusi itu dengan mesra dan puitis. Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia beriman, bertaqwa, berakhlak mulia. Lalu sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, bertanggung jawab. Wahai yang berakal, perhatikan urutannya: iman disebut pertama, sebelum ilmu dan cakap. Akhlak disebut sebelum kreatif dan mandiri. Itulah urutan wahyu yang merindukan surga, bukan urutan PISA yang terbalik dan mabuk angka.
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, putra Melayu kelahiran Bogor yang harum itu, telah menangis jauh hari. Dalam “The Concept of Education in Islam” (1980) Prof. al-Attas berkata dengan air mata: Pendidikan adalah ta’dib. Bukan sekadar ta’lim, apalagi sekadar tahu yang bisa dihafal lalu dilupa saat ujian selesai. Dalam “Islam and Secularism” (1978, revisi 1993) Prof. al-Attas menegaskan: Ta’dib adalah penanaman adab. Adab kepada Allah, adab kepada ilmu, adab kepada sesama dan alam. Bukan sekadar mengisi kepala dengan angka yang mudah tumpah dan hilang ditelan zaman.
Sejak 1976, dalam “Preliminary Thoughts on the Nature of Knowledge” Prof. al-Attas menulis renungan yang menampar jiwa. Ilmu tanpa adab adalah kezaliman yang nyata, kezaliman yang paling dalam dan paling sunyi. Untuk apa cerdas otak tapi hati kering kerontang, minus moral, minus cinta? Untuk apa juara matematika tapi tega membunuh anak-anak tak berdaya demi minyak dan kuasa? PISA bisa melahirkan robot pintar tanpa nurani, tanpa air mata, tanpa doa. Pesantren melahirkan manusia yang gemetar karena takut pada Penciptanya, Allah, sehingga ia menjadi teladan bagi semesta dan kemanusiaan.
Sejak 1968, Paulo Freire dalam “Pedagogy of the Oppressed” menyebutnya pendidikan bank. Anak dianggap celengan kosong yang diisi skor demi skor, tanpa pernah ditanya siapa dirinya. Ki Hajar Dewantara dalam Pusara (1940) menjawab dengan tembang tanah air yang abadi: Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Pendidikan itu menuntun kodrat ilahi yang ada dalam diri, bukan mengejar ranking duniawi yang fana. Bukan “tut wuri PISA-nisasi” yang menjadikan anak budak angka dan pekerja pabrik global.
Kementerian Pendidikan Singapura pada 9 September 2026 berkata bangga: “Hasil PISA menegaskan kekuatan siswa memecahkan masalah kompleks.” Kita mengangguk hormat, itu peluh dan disiplin mereka, patut dipuji dengan jujur. Namun renungkan: masalah kompleks kita bukan hanya digital dan komputasional yang dingin. Masalah kita adalah anak jago sains tapi berani membentak ibunya yang renta di dapur. Bahkan di Singapura, tak sedikit anak yang menitipkan orang tuanya di panti sosial yang sepi. Itu tidak selesai dengan literasi, itu hanya selesai dengan ta’dib yang lembut dan mengakar.
Santri sengaja tidak dimasukkan dalam sampel PISA, dan itu bukan kelalaian, itu ketakutan yang disembunyikan. Karena jika santri diuji, PISA akan pecah dan malu di depan cerminnya sendiri. Bagaimana menguji anak yang tahajudnya tak pernah putus tapi belajarnya tetap disiplin hingga subuh? Bagaimana menilai anak yang shaum Senin-Kamis sejak kelas 1 SD tapi tubuhnya bugar dan ceria? Bagaimana mengukur air mata yang jatuh karena takut durhaka pada guru yang dicintainya? Nilai kehidupan tidak ada dalam kalkulator OECD yang dingin dan dituhankan. Nilai kehidupan ada di sajadah pendek yang basah oleh sujud shalat lima waktu dan dhuha yang panjang.
Ingatlah Pangeran Diponegoro, singa Indonesia yang agung, kekasih Allah yang berani. Penjajah Belanda mencatatnya sebagai kriminalis, pemberontak, perusuh yang hina di buku mereka. Mengapa? Karena standar penjajah memang busuk sejak lahir, ia membalikkan kebenaran menjadi kebatilan. Siapa yang membela haknya, ia penjahat di mata mereka. Siapa yang mempertahankan tanahnya, ia teroris di buku mereka yang penuh dusta.
Kini standar itu bereinkarnasi dengan wajah halus dan dasi: bernama PISA. Ia pun dipuja oleh budak-budak baru di negeri sendiri, yang silau oleh cahaya asing. Dulu penjajahan memakai bedil dan meriam yang menggelegar dan menumpahkan darah. Kini penjajahan memakai peringkat dan tabel yang menusuk harga diri tanpa darah. Dulu mereka berkata kita inlander bodoh dan malas yang harus dididik paksa. Kini mereka berkata skor kita rendah dan literasi kita lemah, agar kita terus minder dan meniru.
Tujuannya tetap sama dari abad ke abad, hanya bajunya berganti, aromanya sama. Agar kita minder, lalu meniru mereka, lalu mengalah tanpa perang, tanpa sadar terjajah. Agar kurikulum pendidikan dan pesantren kita yang agung diganti kurikulum OECD yang sekuler dan risih. Agar santri yang merdeka disulap jadi sekrup pabrik global yang patuh dan bisu. Agar generasi kita menjadi budak peradaban materialisme yang mereka puja siang malam. Padahal anak Indonesia adalah generasi terbaik untuk zamannya, generasi yang dirindukan langit dan bumi.
Lihatlah dengan mata hati, bukan mata angka: anak kelas 3 SMP yang menjaga adik sambil menghafal al-Qur’an di kontrakan bocor. Lihatlah anak piatu kelas 6 SD yang berjualan sepulang sekolah demi SPP dan mimpinya yang tinggi menjulang. Lihatlah anak kelas 1 SD yang mengeja sekian juz al-Qur’an di rumah yang belum lunas sewanya. Lihatlah balita hampir tiga tahun yang mengeja Juz ‘Amma dengan giat yang membuat malaikat tersenyum haru. Mereka tak punya skor PISA, tapi nama mereka diukir di langit dengan tinta emas yang tak pernah pudar. Pada jiwanya ada mahkota mulia yang tak bisa dibeli oleh seluruh kekayaan OECD.
Kita tidak anti sains, wahai dunia, kita tidak anti angka dan data yang jujur dan rendah hati. Kita hanya menolak menjadikan angka sebagai tuhan baru yang disembah pagi dan petang. Negara lain boleh menjadi inspirasi dalam perjalanan, tapi bukan kiblat mutlak yang mengikat leher. Singapura inspirasi disiplin, Jepang inspirasi kerja keras yang sunyi dan setia. Tapi rujukan kita tetap UUD 1945 dan UU Sisdiknas yang mulia dan berakar pada bumi ini. Rujukan kita tetap al-Qur’an dan Sunnah yang mengajarkan adab bersamaan dengan ilmu, agar kita tahu beda manusia dan manusia yang bermental binatang.
Jika Jakarta 10,67 juta saja sudah lebih besar dari Singapura 6,1 juta, lalu mengapa kita harus minder? Jika Depok lebih ramai dari Brunei yang 470 ribu jiwa itu, lalu mengapa kita harus tunduk dan merasa kecil? Mengapa kita harus sujud pada peringkat yang timpang sejak dalam pikirannya? PISA tidak pernah menguji santri, karena ia takut kalah oleh akhlak yang tak bisa diangkakan. Dan akhlak memang tidak bisa diukur oleh mereka yang tidak punya akhlak. Manusia tak berakhlak kerap merampas kekayaan alam negara lain dan membunuh balita tanpa rasa dosa.
Maka jangan pernah terhipnotis angka PISA, wahai bangsaku, wahai negeriku yang harum oleh doa santri di sepertiga malam. Skor boleh kalah, itu hanya debu di ujung sepatu, akan hilang tertiup angin sore. Tapi adab jangan pernah punah dari dada kita dan dada anak-anak kita, karena adab adalah nyawa. Angka boleh di bawah, itu tak mengapa, tapi akhlak harus menjulang di atas langit, menjadi bintang. Kita bukan bangsa pengekor PISA, kita adalah bangsa pejuang adab yang abadi dan setia. Tujuan kita bukan menjadi Singapura kedua, bukan Amerika yang pemimpinnya kerap pongah dan angkuh. Tujuan kita jelas dan mulia sejak pembukaan konstitusi: menjadikan Indonesia dihuni generasi yang diridhai Allah dan dirindukan surga. (*)

