Negeri di Tepi Jurang

Oleh: Junaidi Ana

Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”

INDONESIA sudah hampir satu abad dalam perjalanannya—81 tahun kemerdekaan yang penuh hiruk-pikuk sejak Proklamasi dibacakan oleh sang Proklamator, Ir. Soekarno, didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta. Hingga kini, negeri ini selalu dihadiri oleh para pembaharu sekaligus para pengkhianat.

Sudah terasa panjang tapak anak negeri ini melangkah menyusuri lorong waktu. Kaki mulai lelah dan letih, raga mulai menua termakan usia, akal semakin tak sehat oleh kebohongan para bandit berdasi, keadilan semakin semrawut oleh hukum yang tak selalu berpihak kepada yang benar, dan pikiran dipenuhi oleh kesemena-menaan para penguasa yang berselingkuh dengan pengusaha rakus.

Indonesia adalah negara besar yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Sangihe dan Talaud sampai Pulau Rote. Negeri yang dilintasi garis khatulistiwa, bumi yang subur dan makmur dalam catatan sejarah bangsa ini. Bangsa yang kokoh dalam pijakan untuk mempertahankan marwah diri. Negeri yang selalu memberi kejutan dalam setiap momen kemerdekaan, tetapi sering sepi oleh riak kebaikan dan resah oleh setitik debu kebencian para penjajah bertopeng kemunafikan.

Indonesia memiliki ribuan budaya yang hidup dalam setiap suku bangsa, bahasa yang beragam, adat yang berjubel, serta karakter yang sungguh berbeda. Namun, semua itu disatukan oleh Sumpah Pemuda untuk memintal peradaban bangsa, menyatukan yang terserak, merekatkan yang tercerai, dan mengokohkan pijakan dalam setiap tapak menuju kejayaan.

Keberagaman suku dan budaya memberi ruang kepada setiap anak bangsa untuk belajar saling menerima, saling menghargai, saling mengayomi, saling merangkul, saling menguatkan, dan saling memberi harapan akan kemajuan bangsa. Ketika keragaman budaya menjadi jembatan menuju kemajuan, mengapa kita masih saling sikut dalam menghalau langkah maju bangsa?

Budaya bangsa yang beragam menjadi pijakan yang kokoh dalam merajut kebersamaan untuk memajukan negeri yang sudah semakin tua termakan usia, semakin jauh melangkah, dan semakin berkembang dalam pemanfaatan teknologi untuk kemajuan bangsa.

Bangsa yang besar tumbuh dari riak dan gesekan yang semakin kuat, bukan semakin redup karena dimanja oleh setiap kemajuan yang telah dicapai. Bangsa ini akan terus tumbuh dan menjadi suluh bagi bangsa lain yang sedang merangkak menuju kemajuan yang lebih besar.

Hari ini, bangsa ini selalu diterpa berbagai isu ketidakadilan dalam proses hukum, ketidakmerataan kesejahteraan, kesenjangan antara elite politik dan konstituennya, perbedaan kasta antara pejabat dan rakyat, serta kezaliman antara mereka yang berduit dan mereka yang bokek.

Negeri ini seolah berada di tepi jurang kehancuran. Segunung kebaikan yang dilakukan oleh negara dianggap tak berarti oleh segelintir orang yang mengatasnamakan rakyat. Ketika kepentingan politik jauh lebih besar daripada kepentingan rakyat banyak, kebaikan pun tak akan pernah dihargai; semuanya dianggap sebagai kesalahan.

Negeri ini seolah kembali merangkak seperti bayi yang sedang belajar mengenal lingkungan sekitar—merangkak perlahan untuk menggapai cita-cita yang diinginkan, selalu ingin menghadirkan senyum pada setiap orang di sekitarnya. Namun, semua itu terkadang hanya menjadi lelucon yang tak bertuah.

Negeri ini lucu, bahkan sangat lucu: yang benar dikekang, sedangkan yang salah dielu-elukan.

Bangsa ini sedang berjuang untuk keluar dari gelombang dahsyat yang menghantam dari semua sisi bahtera negeri. Kapalnya seolah karam oleh nakhoda yang dianggap tak berpengalaman. Arus menyeret bahteranya menuju tepian yang penuh lumpur kenistaan.

Dermaga dipenuhi kapal-kapal yang menghadiahkan kebisingan tak berkesudahan. Mesinnya mendengung seolah sudah tua dan tak lagi mampu menggerakkan kapal, hingga tak ada celah untuk maju walau hanya sejengkal.

Walau semua ini sedang terjadi pada bangsa ini, setiap tetes darah perjuangan para pahlawan terus menjadi suluh dan bara untuk membakar semangat para pionir bangsa, mereka yang sedang dan terus berusaha bangkit dari tidur panjang kesemrawutan dalam memegang kendali perjalanan bangsa ini agar menjadi bangsa yang besar.

Setiap jengkal langkah maju akan terus menjadi penyemangat bagi para pemuda yang rindu akan perubahan dan kemajuan bangsa. Langkah itu akan terus menjadi mercusuar yang menerangi negeri yang sedang kalut oleh kenestapaan, tetapi tetap berusaha tersenyum dalam ketidakpastian perjalanan bangsa.

Tanah air ini adalah tempat kita tumbuh menjadi anak bangsa. Walau seolah terjajah oleh negeri sendiri, di situlah kita belajar tentang ketangguhan dalam menghadapi tekanan. Kita belajar tentang perjuangan para pahlawan ketika mengusir penjajah tanpa henti. Kita belajar tentang keikhlasan dalam menapaki jalan yang semakin berkabut.

Tanah ini adalah tempat kita berpijak, tempat kita tumbuh menjadi pribadi yang penuh jiwa patriotisme dan nasionalisme dalam merawat serta menjaga bangsa ini agar terus tumbuh dan berkembang menuju bangsa yang besar, bangsa yang kelak mampu berdiri tegak dan ikut memegang kendali kemajuan dunia.

Bangsa ini sudah merdeka dari setiap bentuk penjajahan. Namun, seolah kemerdekaan itu kini dirampas oleh para penguasa dan pengusaha yang terus berselingkuh untuk menggerogoti setiap perut bumi negeri ini demi kepentingan pribadi dan golongan.

Merdeka itu seakan hilang oleh kepentingan semata, tenggelam oleh keserakahan dan kerakusan para pengkhianat bangsa, serta hancur oleh kesombongan dan keegoisan segelintir manusia bermuka penjajah di negeri sendiri.

Oleh karena itu, jika ingin bangsa ini terhindar dari tepi jurang kehancuran, setiap anak bangsa harus terus bahu-membahu menjaga keharmonisan dan kebersamaan dalam keragaman suku, bangsa, budaya, dan bahasa yang sudah ada serta telah diikrarkan dalam Sumpah Pemuda.

Kita harus saling merangkul untuk terus tumbuh bersama, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam kebhinekaan. Perbedaan bukan alasan untuk saling menjatuhkan, tetapi kekuatan untuk saling melengkapi.

Mari terus merajut perbedaan dalam kemajemukan demi Indonesia yang maju dan jaya. Hilangkan sekat-sekat perbedaan dan carilah persamaan dalam visi dan misi bangsa agar negeri ini selalu menjadi yang terdepan sebagai pelopor kebaikan.

Sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, “Kemerdekaan ialah hak segala bangsa.” Kemerdekaan itu tidak boleh tergadaikan oleh kepentingan semu, tidak boleh dirampas oleh keserakahan, dan tidak boleh dikorbankan demi kepentingan segelintir manusia.

Teruslah tumbuh menjadi anak bangsa yang memberi manfaat. Jadilah bagian dari mereka yang menjaga, bukan mereka yang merusak. Jadilah pejuang yang meninggalkan jejak kebaikan, bukan pecundang yang dikenang karena kehancuran.

Sebab negeri ini bukan hanya milik mereka yang sedang berkuasa. Negeri ini adalah milik kita semua. Tanah air yang diwariskan oleh para pendahulu dengan darah, air mata, doa, dan perjuangan panjang.

Maka jangan biarkan Indonesia berdiri terlalu lama di tepi jurang.

Mari kita tarik negeri ini kembali ke jalan yang benar. Mari kita rawat persatuan, kita jaga kebhinekaan, kita tegakkan keadilan, dan kita bangun masa depan dengan tangan-tangan anak bangsa sendiri.

Ya Tuhan, jadikanlah bangsa ini bangsa yang terus berada dalam dekapan cinta-Mu, dalam penjagaan-Mu, dalam kasih dan sayang-Mu, serta selalu berada dalam rahmat dan rida-Mu. Berikanlah kekuatan kepada setiap anak negeri untuk menjaga tanah air ini, merawat persatuan, menegakkan kebenaran, dan mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang lebih baik. Aamiin. (*)

Scroll to Top