
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ ٦
“Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Hud:6)
Pagi buta, gerimis menyapa kota yang masih sepi, di sebuah gang kecil terparkir motor yang terlihat baru saja di cuci oleh tuannya. Motor yang terlihat sudah tua dari plat yang sudah berganti dari beberapa kali setiap lima tahunan. Spakbor dan hampir semua sparepart tampak lusuh. Motor tua sang ojol (Ojek Online). Tapi ini bukan soal motor tua sang ojol, namun jaket yang selalu melekat padanya.
Dia selalu bangun lebih awal dari kebiasaan orang banyak, bangun dikala masih banyak orang terlelap dalam mimpi, terbawa dalam nostalgia panjang bersama bantal kesayangan, dan kasur empuk yang memanjakan tubuh. Tapi bang ojol selalu bangun di tepian malam tersungkur sujud pinta pada sang maha pemberi rezeki agar selalu dilancarkan dalam setiap suara deru motornya membelah jalanan.
Masih pagi diselimuti embun yang terus menetes, motor itu mulai dinyalakan hanya sekedar untuk memanaskan mesinnya. Suaranya masih lumayan bagus walaupun sudah tua usianya. Jaketnya sudah terpakai dan sang ojol sudah duduk dengan senyum merekah di atas motor kesayangannya.
Bang ojol yang sering di sapa Bang Aries ini murah senyum dan selalu ramah dengan pelanggan yang selalu order jasanya. Walaupun sering sehari hanya dua sampai tiga saja yang order jasanya, tapi Bang Aries tetap semangat untuk menjalani profesinya dengan tekun.
Bang Aries dengan jaket yang sudah mulai lusuh begitu semangat menarik tuas motor yang sudah makin panas dan dengan cepat menyusuri jalanan yang masih sunyi di gang tempat bang Aries bermukim. Deru mesin kendaraan mulai memecah sunyi, menyusuri lorong gang kecil yang sempit dan masih nampak gelap.
Gang itu juga sering jadi tempat mangkal para ojol untuk menunggu orderan yang kadang menghampiri kadang juga seharian hanya satu atau dua orderan menyapa. Tapi hari itu keberuntungan memihak padanya, setiap mengantar penumpang sampai tempat tujuan, orderan baru langsung masuk dan itu terus berulang.
Saat orderan yang menghampiri itu adalah seorang nenek yang sudah tua, diorder oleh cucunya hanya dikarenakan mereka semua sedang sibuk. Bang Aries tetap menjemput dengan sabar dan melaju perlahan untuk menjaga keselamatan sang nenek hingga tujuan.
Ketika tiba di tujuan, Bang Aries memastikan sang nenek masuk dalam rumah tempat tujuan dengan selamat. Setelah itu Bang Aries melajukan motornya untuk mengambil orderan berikutnya yang terlihat cukup jauh dari tempatnya. Jaket lusuh ojolnya tetap setia menemani dengan dekapan erat membelah jalanan yang ramai.
Jaketnya yang terlihat lusuh itu adalah jubah kebesaran tempat berteduhnya badan dari terik mentari yang menyengat kala jalanan padat dan macet di siang hari. Ada kebanggaan tersendiri yang dirasakan dengan apa yang dilakoni setiap hari. Rasa lega yang terus hadir kala ada tips yang diberikan oleh pelanggan, itu merupakan penghargaan yang didapat dalam bentuk syukur yang tak terhingga.
Setiap hari dan terus berulang, Bang Aries selalu mendapat pelanggan yang spesial. Setiap pelanggan yang spesial selalu mengajarkannya tentang kesabaran, keteguhan, ketelatenan, kelembutan, dan ketenangan dalam menjalankan tugasnya sebagai sang driver ojol. Karena dia tahu bahwa rezeki yang Allah atur padanya tak akan tertukar bahkan hilang jika dia terus berikhtiar untuk menggapai apa yang Allah atur untuknya.
Kadang tak ada orderan yang memaksanya menepi, menyendiri di tepian jalanan yang ramai sambil merenungi setiap siklus kehidupan yang sedang dijalaninya. Kadang ada putus asa yang menghampiri, rasa bersalah yang menggelayut dalam pikirannya, resah yang terus bertambah, dan kegelisahan yang terus menghantui hidupnya. Tapi semua itu adalah ujian yang harus dihadapi dengan senyum dan keyakinan akan takdir kehidupan yang Allah gariskan. Yang penting adalah ikhtiar terus dilakukan dalam kondisi apa pun, karena rezeki Allah yang tetapkan.
Sekelumit kisah di atas, menggambarkan pada kita bahwa, setiap ruang gerak kita akan terus menjadi ladang amal kebaikan yang tercatat dalam diari Allah SWT. Terus ada dan akan tetap ada dan tak akan pernah dihapus hingga hari kita berkumpul dalam sidang putusan pengadilan-Nya yang abadi.
Bang ojol mengajarkan kita tentang ketangguhan menghadapi ujian jalanan yang pengap, selalu diselimuti oleh terik yang menyengat, hujan yang deras, angin yang kencang, dan ulah emak-emak sein kanan belok kiri. Semua itu dilakoni dengan tenang dan sabar serta senyum dalam menghadapinya.
Setiap tarikan tuas gas kendaraan, ada harapan yang sedang menanti, ada mimpi yang terus hadir tuk di gapai, ada asa yang terus tumbuh, perjuangan yang memaksa terus maju, dan ada cinta yang terus tumbuh dalam setiap keheningan. Dari deru mesin kendaraannya, ada cita yang akan diraih yakni keberkahan hidup hingga akhir kelak.
Kadang rasa katuk mendera disaat begitu ramainya jalanan yang memaksa konsentrasi penuh, ada rasa lelah yang terus menghampiri ketika orderan terus ada, tapi ada senyum ceria yang sedang menanti di balik pintu rumah tua di ujung gang memaksanya terus bertahan di atas motor tua pembawa rezeki, dan kadang ulah para costumer yang terus ingin lebih dari segalanya. Katanya costumer adalah raja, masa raja mau pake ojol? Hehe
Raja jalan bernama ojol, kini menguasai setengah jalanan. Ada yang sedang buru-buru karena ditunggu pelanggan, ada yang sambil memacu kendaraannya dengan perlahan sambil menunggu orderan, ada yang mungkin sedang mangkal di kedai kopi mengisi energi agar lebih kuat menghadapi ujian hidup yang kian ruwet dan mencekik, dan ada yang mungkin sedang melawan rasa kantuk di pelataran parkir perbelanjaan sedang menunggu pelanggan yang tiba-tiba ingin minum es cendol di pelataran ruko yang begitu menggoda.
Ojol multi fungsi dalam pelayanan, jika ada yang order makan atau minum, mereka sigap melayani dan antar sampai depan gerbang rumah, kadang disambut dengan tersenyum ramah, ada pula yang dengan muka masam penuh cibiran, dan ada yang acuh kala menerima pesanannya. Itu semua ujian yang sering dirasakan oleh semua ojol dalam setiap tarikan tuas di jalalan yang berliku.
Setiap profesi memiliki ceritanya sendiri, dari cleaning service hingga presiden sekalipun, selalu mendapatkan cibiran, umpatan, cacian, dari para pembeci yang mungkin tidak mendapatkan pelayanan maksimal yang diinginkan. Ada yang mendapatkan pujian hingga do’a tulus dari orang-orang yang mencintai setiap profesi yang dilakoninya. Begitulah siklus kehidupan yang terus berulang bagi setiap manusia. Maka hargailah setiap profesi yang dilakoni dalam kehidupan yang fana ini.
Kehidupan kita sebagai makhluk ciptaan-Nya, tidak akan bertahan lama, semua punya jatah hidup yang tidak biasa diprediksi, ketika kematian menghampiri maka tak akan ada yang bisa di negosiasi barang sejenak pun. Maka syukuri jatah umur yang Allah berikan pada kita dengan memanfaatkan secara maksimal dalam setiap urusan kehidupan, salah satunya dalah saling menghargai atas setiap profesi yang dijalanin. Hanya syukur pada sang pemilik semesta yang bisa mengajarkan orang lain untuk saling menghargai.
Bayangkan, jika pesanan kita saat itu tidak ada satu pun driver ojol yang aktifkan aplikasinya? Apakah kita akan marah? Mengumpat? Atau mengutuk diri sendiri yang sudah dimanjakan oleh teknologi sehingga mager (malas gerak) untuk sekedar masak sebungkus mie instan dan buat teh segelas?
Dunia makin maju, tapi jangan sampai terlena oleh kemajuan zaman, yang akan membuat tulang kita bukan makin kuat kala berpijak tapi malah rapuh saat melangkah. Ojol itu profesi yang sangat mulia. Dilakoni dengan sabar penuh semangat, menembus derasnya hujan dan badai, menerobos terik yang menyengat, dan tak pernah berhenti sebelum orderan diantar sampai tujuan.
Ada banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari hiruk pikuk kehidupan dengan setiap profesi yang ada, terutama Bang Ojol, dengan jaket yang sudah lusuh tapi tak pernah berhenti untuk terus berikhtiar, tak ada kata lelah, tak ada kata henti, tak pernah menyerah walau hujan dan badai menerjang, dan pantang pulang sebelum orderan maksimal tercapai. Itulah ikhtiar dan profesi mulia yang dijalankan.
Setiap profesi yang baik dengan mendapatkan rezeki yang halal dan baik adalah sebuah anugerah dari Allah untuk hamba-Nya. Syukur adalah bukti penghambaan kita kepada sang pemilik semesta dalam mengarungi hidup sesuai apa yang dikehendaki-Nya, taati dan jalankan. Teruslah mendekap padanya, rangkullah dengan sujud simpuh di atas sajadah sebagai tanda syukur, dan teruslah berbuat baik pada setiap ciptaan-Nya dalam kondisi apapun. Teruslah melaju dengan senyum ketulusan dalam melayani setiap pelanggan Bang Ojol. (*)

