
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nur Ayat 27)
Di bandara, terminal, pelabuhan, dan juga stasiun serta hotel mau pun tempat-tempat yang mengharuskan kita chek in. Tempat-tempat ini merupakan sarana yang disediakan untuk setiap manusia untuk melakukan perjalanan jauh atau mungkin yang lebih dekat sekalipun. Tempat di mana manusia akan saling berdesakan untuk menjadi yang pertama dalam melakukan chek in.
Chek in juga merupakan suatu momen di mana kita akan memasuki rumah atau tempat yang membutuhkan persetujuan atau izin dari pemilik yang sesungguhnya, ketika kita ingin surga kelak, maka harus perbanyak amal kebaikan yang merupakan kunci untuk chek in menuju surganya. Jadi setiap sesuatu butuh izin atau persetujuan dari sang pemilik yang sesungguhnya.
Perjalanan itu singkat dan sangat singkat, ibarat kedipan mata ketika kelilipan atau bahkan lebih cepat dari itu. Ketika perjalanan memaksa kita untuk bergegas, maka hindarilah ketergesaan. Di setiap ketergesaan sering menghadirkan kekecewaan yang mendalam dan menyakitkan.
Perjalan kadang memaksa kita untuk prepare lebih awal dan untuk memastikan setiap langkah lebih tertata dan teratur. Dengan persiapan lebih awal, maka kita akan jauh lebih tenang dan setiap langkah akan menjadi lebih mudah.
Ketika waktu memulai chek in, jagalah ketertiban dan selalu waspada pada barang bawaan kita agar tidak tertukar atau bahkan hilang. Barang adalah bekal yang akan kita bawa untuk menemani perjalanan yang mungkin lama atau sebentar saja dalam perjalanan menuju tujuan.
Dari chek in, kita berbaur dengan berbagai karakter manusia yang berjubel untuk antri, mungkin berdesakan bahkan ada yang menerobos barisan antri hanya karena terburu-buru dengan alasan pesawat sudah siap take off. Ada juga yang menerobos antrian karena kenal dengan para kru yang berada di tempat chek in.
Dunia menempa manusia untuk terus bergerak maju dan kadang berhenti sejenak dalam waktu tertentu. Ketika jeda menghampiri dalam ruang gerak, ada sinyal yang begitu kencang bergejolak memicu gerak yang begitu cepat. Menepi, berhenti, dan diam sejenak dalam sepi.
Chek in itu, ketika kehadiran kita dalam ruang yang ramai atau sepi, ada titik yang menggerakkan langkah, tangan, lisan dan juga hati tuk pinta pada pemilik semesta agar setiap hajat kita di ijabah. Chek in itu, kita hadir pada-Nya lalu bersimpuh pinta dalam sujud penuh kekhusyukan tanpa tapi dan tanpa alasan.
Ketika chek in seorang hamba pada-Nya, yang ada hanya kesabaran dan keikhlasan yang menyertai dan menemani dalam setiap tapak menuju akhir dari langkah. Namun ketika chek in hanya untuk kehidupan yang semu, maka kita akan menemukan apa yang kita tuju walau itu sungguh menyakitkan.
Chek in itu, ibarat kita akan memulai sesuatu yang sesungguhnya akan berakhir dan terhenti. Sekolah kehidupan mengajarkan pada kita akan dentuman kehidupan yang berubah begitu cepat dan tanpa terduga perubahan itu terjadi. Chek in mengajarkan kita akan pintu masuk yang selalu terbuka tanpa sekat dari pemilik semesta tanpa tepi.
Chek in seorang hamba pada-Nya dalam keyakinan Islam ada lima waktu. Dari lima waktu inilah hamba di tempa akan kedisiplinan, keteguhan, kesabaran, keikhlasan, dan semangat untuk bergegas chek in ketika panggilan dari-Nya mulai menggema syahdu dari sang muazin. Hidup hanya sekali bagi makhluk ciptaan-Nya, maka chek in lah setiap waktu agar terhubung pada-Nya dalam dekapan hangat cinta dan kasih sayang dari-Nya.(*)

