
Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Ketika Allah Memilihmu”
Saudaraku, pernahkah kita merasakan shalat itu bukan sekadar kewajiban yang menggugurkan? Ia adalah panggilan paling lembut dari langit untuk hati yang sedang lelah. Allah memanggil kita bukan karena Allah butuh, tapi karena kita yang butuh untuk pulang. Dan kita datang dengan air wudhu yang menetes, membawa semua luka yang tak sempat kita cerita.
Lihatlah wudhu itu, saudaraku, betapa puitisnya ia menyapa kita dengan lembut. Air itu membasuh wajah yang seharian menahan tangis dan pura-pura kuat. Air itu membasuh tangan yang lelah mengejar dunia yang tak pernah selesai. Air itu membasuh kaki yang salah melangkah, agar ia kembali menemukan jalan pulang kepada-Nya.
Lalu kita berdiri, saudaraku, dengan takbir yang pelan namun menghancurkan semua sombong di dada. Allahu Akbar, Allah Maha Besar, dan semua masalah kita tiba-tiba menjadi kecil. Jabatan, pujian, hinaan, semua kita letakkan di luar sajadah yang sederhana. Yang tersisa hanya kita dan Dia, berdua dalam dialog yang paling jujur.
Kita membaca Al-Fatihah, saudaraku, dengan suara yang mungkin terbata karena dosa. Bismillahirrahmanirrahim, dengan nama-Mu yang Maha Pengasih yang tak pernah bosan memaafkan kami. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta tolong. Betapa indahnya kalimat itu, karena akhirnya kita mengaku tidak bisa hidup tanpa pertolongan-Mu.
Saudaraku, nikmatnya shalat itu ada pada ruku’ yang mengajarkan kita untuk merunduk dengan rendah hati. Kita tundukkan punggung yang kemarin tegak karena jabatan dan pujian manusia. Kita bisikkan Subhana Rabbiyal Adzim, Maha Suci Engkau yang Agung, ampunilah sombong kami. Dan tulang-tulang kita pun ikut berzikir, belajar kembali menjadi hamba yang kecil.
Lalu kita sujud, saudaraku, inilah tempat paling puitis bagi air mata untuk jatuh tanpa malu. Dahi yang biasa mendongak karena kuasa, kini menempel di tanah yang hina dan dingin. Di sanalah jarak paling dekat antara kita dengan Allah, tanpa sekat dan tanpa protokol. Di sanalah kita menangis seperti bayi, dan Allah mendengarkan seperti Ibu yang paling penyayang.
Betapa nikmatnya sujud itu, saudaraku, ketika dunia sudah terlalu bising untuk didengarkan. Kita bisikkan Subhana Rabbiyal A’la, Maha Suci Engkau yang Maha Tinggi, angkatlah beban kami. Kita sebut satu per satu nama yang kita cintai, anak, istri, ibu, dan rakyat kecil yang pernah kita sakiti. Dan Allah menjawab dengan diam yang menenangkan, dengan ketenangan yang turun perlahan ke dada.
Saudaraku, shalat itu tidak membuat masalah kita hilang seperti sulap di depan mata. Shalat itu yang menguatkan hati kita, agar mampu menghadapi luka itu dengan senyum yang baru. Ia mengajarkan kita untuk tidak panik, karena kita punya tempat pulang yang paling aman. Dan di atas sajadah itu, kita belajar bahwa bersama Allah, masalah yang besar pun terasa kecil.
Lihatlah Rasulullah, saudaraku, kekasih Allah yang kakinya bengkak karena shalat malam yang panjang. Aisyah bertanya, bukankah dosamu sudah diampuni, mengapa masih shalat begitu lama. Beliau menjawab dengan air mata, tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur. Begitulah cinta, saudaraku, shalat bukan lagi beban, tapi kerinduan untuk berterima kasih.
Maka jangan kejar nikmat shalat itu dengan tergesa-gesa, saudaraku, pelan-pelan saja kita belajar menikmatinya. Panjangkan sedikit ruku’ kita, agar sombong kita luruh bersama peluh yang menetes. Lamakan sedikit sujud kita, agar semua luka kita dicuci oleh kasih sayang-Nya yang luas. Karena shalat yang nikmat itu bukan yang cepat selesai, tapi yang membuat kita tidak ingin cepat selesai.
Saudaraku, jika hari ini shalat kita masih hambar dan terasa berat, jangan marahi diri kita sendiri. Datang saja terus, dengan malu, dengan luka, dengan dosa yang masih menempel di baju. Allah tidak memanggil hamba yang sempurna, Allah memanggil hamba yang mau pulang. Dan setiap langkah ke sajadah adalah satu langkah pulang yang dicatat sebagai cinta.
“Ya Allah, ajarkan kami merasakan nikmatnya shalat seperti para kekasih-Mu merasakan nikmatnya pertemuan. Jadikan shalat kami sebagai istirahat paling indah dari bisingnya dunia dan tipunya jabatan. Jangan biarkan kami mati sebelum sempat merasakan sujud yang membuat kami menangis karena rindu kepada-Mu. Dan jika esok Engkau panggil kami pulang, panggil kami dalam keadaan sedang sujud, dalam keadaan paling dekat dengan-Mu!” (*)

