
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
KATAKANLAH (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ali ‘Imran: 31)
Ketika memasuki bulan Rabiulawal, akan menjadi momentum bersejarah bagi umat Islam untuk memperingati kelahiran sang legenda akhir zaman yang mulia. Beliau hadir di tengah kejahiliahan kehidupan manusia pada zamannya. Hadir di tengah keterpurukan akhlak dalam berbagai sisi kehidupan.
Nabi hadir di tengah kehidupan bangsa Arab yang sangat semrawut dalam persoalan akhlak. Bangsa Arab terdiri atas berbagai suku dengan kehidupan yang sebagian di antaranya berlimpah harta, tetapi miskin akhlak. Hadirnya Rasulullah saw. menjadi suluh bagi seluruh alam.
Kejahiliahan bangsa Arab bukan berarti mereka bodoh secara pengetahuan. Namun, mereka kehilangan kesadaran penuh untuk saling menghormati, menghargai, dan memberikan ruang kepada sesama untuk tumbuh dalam kebebasan yang beradab. Yang paling menyakitkan adalah perlakuan terhadap kaum wanita yang begitu tidak beretika.
Wanita sering dipandang hanya sebagai pemuas nafsu dan pajangan yang tidak memiliki arti. Bahkan, kelahiran seorang anak perempuan pada sebagian masyarakat dianggap sebagai aib bagi keluarga. Itulah wajah kejahiliahan yang begitu kelam sebelum hadirnya Rasulullah saw.
Beliau hadir di ruang kehidupan yang kehilangan moral. Kegelapan melanda dunia karena kebobrokan akhlak, dan kehadiran Rasulullah saw. menjadi suluh yang menerangi semesta.
Di tengah kegemerlapan dunia, hadirlah sosok yang penuh kelembutan, ketenangan, kedamaian, dan membawa kebahagiaan. Orang pertama yang merasakan kebahagiaan itu adalah ibunda tercinta, Siti Aminah. Ia mengandung Rasulullah saw. dengan penuh keteguhan dan kebahagiaan.
Bertepatan dengan kelahiran beliau, sang kakek, Abdul Muthalib, begitu berbahagia. Namun, pada masa itu pula terjadi sebuah peristiwa besar ketika pasukan Abrahah datang hendak menghancurkan Baitullah yang mulia.
Beliau tumbuh dalam suku yang terpandang. Kakeknya disegani oleh masyarakat Quraisy. Namun, beliau telah menjadi yatim sejak dalam kandungan. Sejak bayi, beliau kemudian diasuh oleh Halimah Sa’diyah dari Bani Sa’ad. Beliau tumbuh jauh dari hiruk-pikuk kota, ditempa oleh alam dan kehidupan yang sederhana, serta senantiasa menunjukkan kemuliaan akhlaknya.
Pada usia enam tahun, beliau kehilangan ibunda tercinta untuk selamanya ketika dalam perjalanan pulang setelah berziarah ke makam ayahandanya. Ibunda Aminah wafat di Abwa. Sejak saat itu, beliau berada dalam asuhan sang kakek hingga berusia delapan tahun. Setelah kakeknya wafat, beliau kemudian diasuh oleh sang paman, Abu Thalib, yang menjadi benteng terdepan dalam melindungi dan membelanya.
Beliau tumbuh dalam hiruk-pikuk dunia yang semakin semrawut oleh ketidakadilan, keangkuhan, kesombongan, keserakahan, dan penindasan di berbagai sudut Kota Makkah. Semua itu semakin menggila dalam pasungan kerakusan mereka yang memiliki kekayaan melimpah dan tenggelam dalam belenggu kemewahan duniawi.
Di tengah keadaan itu, Nabi Muhammad saw. hadir membawa harapan kepada umat manusia: kedamaian, ketenangan, persaudaraan, dan persahabatan tanpa sekat.
Ketika keragaman suku dan bangsa berada dalam lingkaran kehidupan manusia, beliau menjadi perekat untuk menyatukan yang terserak dan merekatkan kembali yang tercerai.
Ketika dinamika kehidupan semakin tidak terarah, Nabi menjadi suluh bagi setiap langkah, menjadi penunjuk bagi setiap jalan, dan menjadi teladan bagi setiap manusia.
Dalam kesunyian, beliau menyusuri gurun menuju Gua Hira untuk beruzlah. Di tempat itulah beliau mendapatkan wahyu dari Sang Pemilik Semesta. Wahyu pertama itu mengajarkan untuk iqra’—membaca, memahami, dan mengenal kehidupan dengan nama Allah.
Itulah salah satu bukti cinta sang Nabi kepada umatnya. Dari setiap tapak perjalanan hidupnya, beliau tidak pernah melupakan umatnya. Bahkan, hingga hembusan napas terakhir, kecintaan kepada umat senantiasa menjadi bagian dari perhatian beliau.
Beliau pergi meninggalkan warisan agung bagi umatnya sebagai suluh dan pedoman dalam menapaki kehidupan. Al-Qur’an menjadi petunjuk, sedangkan sunnah Rasulullah saw. menjadi teladan dalam menjalankan kehidupan.
Teruslah memupuk cinta kepada Allah melalui cinta kepada sang kekasih-Nya, Rasulullah saw. Pegang teguh peninggalan Rasulullah saw. yang menjadi suluh bagi umat hingga akhir zaman.
Cintailah Sang Pencipta dan cintailah sang kekasih-Nya, Rasulullah saw., hingga kecintaan itu melahirkan keteladanan dalam hidup, dalam setiap langkah dan setiap denyut nadi kehidupan.
Teruslah bershalawat kepada Rasulullah saw. Semoga kita termasuk umat yang mendapatkan syafaat beliau kelak di yaumil akhir.
Sebab mencintai Rasulullah bukan hanya dengan menyebut namanya, tetapi juga dengan mengikuti akhlaknya, meneladani perjuangannya, menjaga persaudaraan, menebarkan kedamaian, dan menghadirkan kebaikan di tengah kehidupan.
Meneladani sang legenda bukan sekadar mengenang kelahirannya, tetapi menghadirkan kembali cahaya akhlaknya dalam kehidupan kita. (*)

