Selendang Kesombongan

Oleh: Syamsudin Kadir

Wakil Ketua LPBKI MUI Pusat

UNTUK apa kita menyombongkan diri dalam persinggahan yang hanya sekejap mata ini? Jabatan hanyalah bayang nama di pintu kayu yang esok lusuh dan diganti, harta hanyalah debu emas yang pagi kita genggam dan senja kita kembalikan ke tanah, pujian hanyalah gema yang pecah di tikungan sunyi. Kita datang tanpa bekal, kita pulang tanpa membawa apa-apa, kecuali jejak cahaya yang sempat kita titipkan dalam keheningan amal.

Jangankan singgasana jabatan dan samudra harta, bahkan sehelai bulu mata yang tumbuh malu-malu di pelupuk kita pun adalah milik Allah. Kita tak pernah memintanya tumbuh, tak pernah mengukir lengkungnya dengan jari kita sendiri. Allah yang menumbuhkannya dengan kasih yang lembut, Allah yang menjaganya agar debu tak melukai bening mata yang mudah perih. Jika yang sehalus itu pun bukan milik kita, lalu di mana letak keagungan yang hendak kita banggakan?

Allah hanya menitipkannya kepada kita agar mampu kita jaga dengan baik, bukan untuk menyombongkan diri. Jabatan dititipkan agar punggung kita kian tunduk untuk melayani, bukan mendongak untuk meninggi. Harta dititipkan agar telapak kita kian terbuka untuk memberi, bukan mengepal untuk menimbun. Ilmu dititipkan agar lisan kita menjadi pelita yang meredakan gelap, bukan menjadi api yang membakar sesama di jalan yang sama.

Maka jangan resah soal rezeki, sebab jauh sebelum kita makan pisang, Allah sudah menakdirkannya untuk kita bahkan sebelum ia ditanam. Pisang yang kita kupas saat ini telah ditulis nama kita di atas kulitnya yang kuning. Kapan ia menjadi tunas yang malu-malu menyibak tanah, di tanah siapa ia menitipkan akar yang rapuh, tangan petani mana yang menyiraminya dengan doa yang lirih, hingga akhirnya ia terhidang di piring sederhana kita saat ini.

Lagi-lagi itu pertanda bahwa apa yang kita sebut milik kita sejatinya tetap merupakan milik Allah. Kita hanyalah musafir yang menumpang teduh di bawah langit-Nya yang luas. Kita menghirup udara yang tak pernah kita ciptakan dari ketiadaan, kita meneguk air yang tak pernah kita adakan dari kehampaan, kita memakan rezeki dari gudang yang kuncinya tak pernah ada di saku kita yang kecil. Musafir yang sadar akan asal-usulnya, ia tak pernah congkak di perjalanan.

Betapa halusnya Allah membangunkan kita dari lelapnya kesombongan yang sering tak kita sadari tumbuh di dada. Sombong bukan sekadar menolak kebenaran dan meremehkan manusia, sombong adalah ketika sebutir debu ingin mengenakan jubah Raja semesta. Ia lupa bahwa dirinya hanyalah buih yang diberi bentuk sebentar, embun yang dipinjami cahaya pagi, bayangan yang diizinkan bernafas sejenak di hamparan bumi yang juga akan dilipat.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku, barangsiapa merebut salah satu dari keduanya dari-Ku, maka Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim dan Abu Dawud). Inilah garis cahaya yang memisahkan dengan tegas antara wilayah hamba yang fana dan rapuh, dan wilayah Tuhan yang Maha Agung dan Maha Tinggi yang tiada bertepi.

Hanya Allah yang berhak sombong, karena hanya Dia Al-Mutakabbir yang agungnya hakiki dan abadi tanpa jeda. Agungnya Allah tak membutuhkan panggung dan sorak sorai manusia, agungnya Allah tetap sempurna meski seluruh dunia berpaling dan ingkar. Sedangkan agungnya manusia hanyalah fatamorgana yang pecah oleh demam kecil, luruh oleh setetes air mata yang jatuh, dan sirna oleh sehelai kain kafan yang sunyi dan putih.

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18). Betapa lembut ayat ini menyapa hati, ia mengajarkan cara menatap dengan cinta yang bening, cara melangkah dengan adab yang santun, cara menjadi manusia yang ramah di atas bumi yang ramah.

Maka pulanglah dengan hati yang tawadhu, karena di sanalah kemuliaan sejati bermukim dengan tenang dan abadi. Tawadhu tak pernah merendahkan kita, justru ia yang mengangkat tinggi kita di mata langit dan harum di mata bumi. Biarlah jabatan itu menjadi jembatan amal yang kokoh menuju keabadian, harta menjadi sungai kebaikan yang mengalir jauh melampaui usia, dan ilmu menjadi lentera yang menuntun setiap jiwa yang rindu untuk pulang ke haribaan-Nya. (*)

Scroll to Top