Beramal Dengan Filosofi Tumbuhnya Benih

Oleh: Iwan Wahyudi

Penulis Buku “Do The Best”

 

Kerabat, tentu kita sering melihat tanaman atau pepohonan yang memukau pandangan dan membuat kagum. Baik ia berupa bunganya yang beraneka warna dan aromanya yang semerbak, bisa berupa batang pohonnya yang besar dan tinggi kokoh menjulang maupun aneka rupa rasa buahnya yang ranum menggoda untuk dicicipi.

Kerabat, pasti kita pernah melihat bagaimana awalnya tumbuhan yang mempesona itu mulai di tanam. Sang biji yang merupakan benih pelanjut kelangsungan generasi tumbuhan itu ditanam dibawah permukaan tanah. Kenapa ? agar ia dapat tumbuh dengan baik, memulai perkecambahannya dalam sejuk tanah, jauh dari sengatan matahari yang dapat mengkriputkan biji. Selain itu supaya akarnya langsung menyerap zat hara dalam tanah sebagai bahan tumbuh dan menopang kuat batang yang akan tumbuh menjuang diatas tanah. Disamping itu agar pada biji yang merupakan benih tidak rusak baik oleh pijakan makhluk lain yang akan menghancurkan atau memakannya.

Kerabat, tentu hari-hari kita tidak lepas dari aktivitas yang beranama kerja dan amal, baik itu yang istimewa maupun biasa-biasa saja. Mari sejenak bercermin dari filosofi tumbuhnya benih.

Jika saat mulai beramal hati kita sudah dipenuhi rasa ingin dilihat atau ingin dipuji, maka akan sia-sialah ia. Bila amal ingin selalu kelihatan, nampak dihadapan manusia lain, maka ia akan sia-sia sebelum amal itu tumbuh dan beranak pinak menjadi kebaikan-kebaikan lainnya. Bukankah beramal dengan mengharap pujian sama dengan memusnahkannya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” ( QS. Al-Baqarah: 264 ).

Jika belum apa-apa saja sudah meng “aku “ kan amal, bagaimana bisa menikmati kekokohannya sebagai bekal kehidupan dan menghasilkan bunga dan buah yang dapat memberi manfaat bagi makhluk lainnya.

Kerabat, jadikanlah setiap amal kita adalah kebaikan-kebaikan yang sangat bernilai di hadapan Allah SWT. Memulai dan melaluinya bukan untuk menampakkan diri serta membanggakannya di hadapan sesama. Biarkan amal-amal itu tumbuh menjadi kebaikan-kebaikan dalam gerak sunyinya tanpa harus riuh, namun tidak bernilai apa-apa. Mati sebelum berkembang. (*)

Scroll to Top