
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
“Tuhanmulah yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari karunia-Nya. Sungguh, Dia Maha Penyayang terhadapmu.” (Q.S. Al-Isra. Ayat 66)
Nenek moyangku pelaut, ini ungkapan yang sering di dengar kala masih duduk di bangku TK (Taman Kanak-kanak) hingga saat ini dan mungkin nanti. Tidak salah ketika ungkapan ini begitu menyatu pada nadi kehidupan anak negeri (Nusantara).
Narasi yang mengajarkan kepada kita akan luasnya lautan daripada daratan yang ada di Indonesia, mengharuskan kita untuk tetap menjaga dan melestarikan laut yang begitu menyimpan banyak kejutan untuk anak bangsa kini dan akan datang.
Bila kita berkisah tentang laut, tidak hanya akan hadir adalah ombak di tepian, tapi di tepian ada pasir putih memanjang di pesisir sebagai tempat bertamasya dan bersantai bagi para pelancong pencari ketenangan dan kedamaian yang indah nan sejuk dari terpaan angin pantai. Laut akan terus berkisah tentang para pelancong dengan suara deburan ombak hingga pasir yang terus berbisik pada semesta.
Jika kita bertutur tentang laut, bukan hanya akan tentang gelombang dahsyat di tengah gempuran badai yang ada di samudera nun jauh, tapi akan ada rasa yang lega bagi sang nahkoda ketika mengarungi badai yang menerjang di tengah amukan gelombang samudera lalu bisa menepi di dermaga impian. Laut akan terus bertutur akan tingginya gelombang yang terus memecah keheningan malam hingga para pelaut tak bisa memejamkan mata walau hanya sesaat.
Ketika kita bercerita tentang laut, bukan hanya berkisah tentang badai yang menghasilkan gelombang lalu butiran buih berbaris rapih di tengah terpaan angin menuju tepian dengan ombak menggulung mengempaskan pasir kerikil yang indah. Badai kan terus hadir dengan cerita yang tak berkesudahan akan terpaanya yang dahsyat hingga tak ada mata yang dapat terpejam, tak ada kaki yang ingin duduk sejenak dan tak ada semangat yang runtuh walau nyawa jadi tumbal dalam pelayaran.
Lautan punya cerita yang tidak pernah berakhir walau para petualang akan menepi bersandar perlahan di dermaga terakhir pelayaran. Entah untuk melanjutkan perjalanan lagi atau berteduh sejenak menunggu badai yang sedang bercerita pada semesta, atau mungkin hanya sekedar mengisi bahan bakar dan perbekalan untuk melanjutkan petualang menuju pelabuhan penantian.
Ketika ombak berkisah, lautan akan perlahan merendah menghempas tepian, menyapa pada pesisir pantai yang sejuk nan rupawan. Ada nyiur melambai menghijau menghiasi indahnya pantai. Lambaian nyiur menghasilkan irama mengundang senyum pada laut yang makin teduh di tepian.
Jika gelombang bertutur, ada gemuruh dari amukan badai di tengah samudera nan luas. Bahtera yang sedang berlayar terombang ambing di hempas gelombang yang meninggi, mengundang tawa dari buih-buih yang memutih lalu menghilang tertiup oleh badai.
Ada anak nelayan mulai bercerita tentang indahnya lautan yang di tumbuhi terumbu karang yang warna warni, ada setiap jenis ikan yang terus bermain dalam cengkeraman biota laut yang begitu mempesona memanjakan mata bagi para penyelam. Setiap hentakan kaki anak nelayan di dalam lautan, selalu punya cerita yang tak pernah usai.
Laut kan mendekap setiap tubuh yang sedang menyatu dalam pusarannya. Akan memberi rasa damai, sejuk, dan juga keindahannya pada setiap anak manusia yang akan berenang melintasi lautan. Dari dasar lautan mutiara kan memberi harap tuk tak terjamah oleh tangan-tangan serakah, dari tepian ada terumbu karang yang berharap agar tak ada tangan-tangan jahil yang ingin selalu merusaknya, dan di tengah samudera ada badai yang sedang memporak porandakan kapal yang sedang berlayar melintasi ganasnya gelombang.
Laut ketika berada di tepian dan menyentuh di bibir pantai lalu kaki menyapa dengan sentuhan lembut, dia akan mengajak tuk bercengkrama bersama dalam dekapan lembut penuh kasih, dia akan mengajak tuk bercerita akan indahnya kala ombak mengempas ke tepian lalu ada buih-buih putih mengucap kata cinta. Dekaplah dalam genggaman rindu dan teruslah hadir menemani dalam setiap hempasan desiran ombak.
Ketika malam tiba, para penikmat pantai kan selalu hadir menikmati desiran ombak pantai yang terus berkisah akan indahnya alam. Angin bertiup sepoi-sepoi menerpa wajah lusuh anak nelayan yang sedang merenung di tepian. Memandang nun jauh di tengah lautan yang diterangi lampu berkelip menghiasi malam dari para pencari rezeki di tengah dinginnya angin malam.
Laut tak pernah berhenti memberi harapan bagi para nelayan tuh mengais rezeki, menghadirkan senyum, mendekap pilu kala badai menyapa, merangkul rindu kala teduhnya menyatu, dan mengantar ke tepian dalam pusaran arus yang membawa kesejukan. Laut kan selalu menyatu bersama para petualang yang terus menjelajahi luasnya samudra tuk menuliskan kisah para legenda hingga kelak jadi sejarah masa depan.
Walaupun para penjelajah akan terus berlayar mengelilingi dunia, tapi ada wajah cemas di dalam rumah nun jauh sedang berharap cemas akan kembali pada dermaga terakhir pelayaran, agar dapat bercengkrama dan berkisah tentang petualangan sang nahkoda dalam menerjang badai dan gelombang hingga pusaran arus yang membawa pada tepian penuh kedamaian. Laut kan memberi harapan, tapi daratan kan selalu menanti hadir tuk memberi kisah penuh cinta.
Para petualang kala layar sudah mengembang, pantang pulang walau badai menerjang hingga cita kan tergapai. Teruslah berlayar hingga kan jadi legenda dalam catatan sejarah anak cucu. Laut akan memberi harapan tapi daratan kan selalu menanti hadir tuk berbagi kisah dalam peluhnya petualangan.
Laut selalu mengajarkan manusia tentang ketangguhan, kesabaran, keberanian, pantang menyerah, dan keikhlasan. Di setiap titik air laut ada sejuta momen yang kan terukir indah dari desiran ombak di tepian, ada seru gelombang di tengah samudera, dan ada hembusan badai menerjang kala layar sang nahkoda mengembang. Laut kan membawamu pulang pada tepian sebagi tempat pulang yang damai. Teruslah berjuang kawan dan tetap tersenyum di tengah gelombang yang tak pasti. (*)

