Anak Itu Mercusuar Kehidupan (Persembahan untuk Hari Anak Nasional)

Oleh: Junaidi Ana

Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”

Ali Bin Abu Thalib ra. berpesan “Didiklah anak sesuai dengan zamannya karena mereka hidup pada zamannya bukan pada zamanmu.”

Anak itu amanah dari Allah dan akan menjadi suluh surga bagi ayah dan ibunya. Anak juga anugerah yang begitu istimewa dalam sebuah keluarga, kehadirannya selalu dirindukan oleh setiap pasangan, ingin ada suara tangis kecil di sela mimpi ayah ibunya, ada tertawa renyah kala disapa, ada senyum mungil kala dipandang, dan ada lelapnya yang membuat gemes ayah ibunya. Itulah anak kala masih bayi.

Tumbuh kembangnya dijaga, perjalannya hidupnya dirawat dari dalam kandungan hingga tumbuh menjadi anak.yang sholeh dan sholehah dambaan orang tua. Ketika tangisnya mengundang khawatir, ketika senyumnya menghadirkan lega, dan ketika tawanya menyapa bak komedi.

Perjalanannya dalam tumbuh ada harap cemas, ketika sakitnya membuat gelisah, ketika jatuhnya meresahkan jiwa, kita pergi bermainnya membuat khawatir, ketika laparnya tiba selalu ada lahap yang ditonton, tapi ketika teriakan ibu tak digubris, hmmm… Saat itulah cerita sang emak bermula jadi galak.

Serpihan puzzle mulai tersusun rapih bagai kapsul yang terbungkus indah seolah jadi kado istimewa ketika anak sudah mulai melafalkan kata ayah, ibu, paman, bibi, nenek, kakek, dan kakak. Saat itulah drama kehidupannya mulai dilakoni. Panggilannya yang masih cadel ketika di dengar kadang mengundang tawa, tapi pengen diulangi sekali lagi dan lagi. Seolah itulah hiburan gratis yang ditonton berjuta orang di seantero.

Anak akan memberi doa ketika lisannya mulai lancar dalam bercakap, ketika tangan mungil mulai terampil terangkat menengadah pada Sang Pemilik Semesta, lalu berbisik dalam suara lirihnya yang begitu indah nan syahdu “”Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.”

Harapan kecil itu mulai tumbuh ketika orang tua mulai membimbing, mendampingi, merawat agar mawar tak layu, agar melati terus tumbuh, bagai beringin yang kokoh, seperti madu yang terus memberi harapan tuk selalu sehat, dari tatapannya ada cinta yang terus hadir dan tumbuh tanpa jeda.

Anak tumbuh dalam rekaman hidupnya yang tak pernah ia lupa, setiap episode hidupnya terus tercatat rapih dalam memorinya, setiap drama terus dilakoni tanpa tapi, setiap kisahnya tak luput dari diari yang tertulis rapih, dan setiap ceritanya ada yang manis, pahit dan bahkan kecut pun terus dilalui hingga kelak.

Jejak petualang anak tak pernah usai kala ruhnya masih menyatu pada jasad. Setiap tapaknya tak punya batas, setiap hentakan kaki berbekas, tapi tak pernah lekang oleh ingat, setiap lambaian tangan kala pamit menuju masa depan menjadi harapan yang tak pernah usai, setiap dekapan hangat dalam pelukan ayah ibu jadi candu baginya, setiap salimnya kala pamit bepergian jadi doa ayah ibu tanpa jeda, dan setiap langkah menjadi citanya tuk raih masa depan.

Anak itu bagai mutiara yang tersimpan di dasar lautan di tengah samudera, dia kan hadir memberi senyum, dia kan ada memberi cinta, dia kan datang memberi hormat, dia kan jumpa memberi harapan, dan dia kan pergi meninggalkan cerita tuk hari esok.

Anak akan tumbuh mengikuti perkembangan zaman. Orang tua punya kewajiban untuk mendampingi, mengawasi, merawat, menjaga, membimbing, mengarahkan, dan mengajarkannya agar terus tumbuh jadi pribadi yang taat pada Allah sang pemilik semesta. Tunduk hanya pada Allah Swt., bukan pada ciptaan-Nya. Tapi untuk ciptaan-Nya ajarkan anak agar menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta selalu menghargai yang sebaya.

Anak yang hidup saat ini dengan zaman yang begitu lebih canggih daripada orang tuanya yang saat tumbuh belum dan bahkan tak pernah mengenal setiap alat canggih saat ini. Anak mampu melintasi zaman dengan sekali sentuhan sedangkan orang tuanya harus bersusah payah saat tumbuhnya tuk melintasi beratnya medan kehidupan tuk meraih masa depan.

Dengan perkembangan zaman yang ditopang oleh teknologi yang canggih, dekaplah anak dalam balutan doa penuh cinta, rangkul lah anak dalam pelukan kasih, tuntunlah anak dalam langkah penuh harapan, bimbinglah anak dalam hamparan kanvas dunia ini dengan bimbingan dari sang pemilik jiwa yang abadi, dan kecuplah dengan lembut dan tutur penuh ridho dari Allah SWT.

Suara meninggi dari ayah bunda tandanya cinta, doa dalam sujud dari ayah bunda tanda cinta, lambaian tangan ayah bunda tandanya cinta, melepas kepergian tuk meraih cita tandanya cinta, ketika mengharap hadirnya anak itu tandanya rindu, ketika mengharap pelukan dari anak itu tandanya rindu, ketika airmata dalam doa tandanya rindu, dan ketika nada suaranya berbisik di ujung lorong saat menyapa kala memanggilmu adalah bukti cinta, kasih, sayang dan harapan tak terhingga dari ayah bunda.

Wahai anakku, anakmu, dan anak kita semua. Jangan melihat apa yang ada saat ini dalam genggaman tanganmu, tapi tataplah ke depan yang mungkin akan kau genggam adalah bara yang menyala menguji nyalimu tuk bertahan dalam ketiadaan, jangan pernah menyerah dalam mengejar cita-cita yang kau impikan, raihlah dengan doa ayah ibu dan teruslah bersandar pada yang kuasa kapan dan dimanapun kau berada.

Untuk setiap ayah bunda, bayarlah dengan harga mahal saat ini tuk masa depan anak, agar tak menyesal kelak telah tiada. Kita semua orang tua yang dulu tumbuh penuh keterbatasan dan saat ini begitu memiliki, teruslah tersenyum dalam setiap episode hidup, teruslah pinta pada pemilik semesta agar anak kita tumbuh jadi pribadi yang taat pada Allah dan Rasul-Nya, serta menghormati dan berbakti pada ayah bunda.

Anakku…!

Teruslah tumbuh seperti mawar, walau berduri, tapi terus memberi rasa nyaman dengan semerbak harumnya, jadilah melati yang terus hadir dalam kedamaian, dan jadilah seperti madu yang terus di buru walau berada di puncak pohon yang tinggi sekalipun. Hadirmu dirindukan, pergimu ditangisi, dan senyummu jadi obat dalam dekapan cinta-Nya. (*)

Scroll to Top