
Oleh: Iwan Wahyudi
(Penulis Buku “Energi Ramadhan, Resonansi Hati di Bulan Suci”)
Ramadan tahun ini alhamdulillah menyapa kembali. Allah swt. pengabul doa kita dipenghujung Ramadan tahun lalu. Banyak yang saat itu bersama, kini telah meninggalkan kita tanpa bisa berjumpa dengan bulan Ramadan kembali.
Ramadan datang dengan membawa kemuliaan yang sama dengan berkali-kali Ramadan yang telah kita lewati sepanjang usia. Perbedaannya hanya pada diri kita sendiri sesungguhnya. Pada capaian Ramadan yang berbeda setiap tahunnya. Alhamdulillah bisa lebih, bersyukur jika sama saja dan beristigfar kala kian tahun mengalami penurunan. Baik dari sisi kuantitas apa lagi segi kualitas.
Stagnasi dan penurunan capaian Ramadan bisanya disebabkan oleh banyak faktor, salah satu diantaranya rasa bosan. Ramadan semacam menjadi ritual yang dilakukan itu-itu saja dan begitu-begitu saja dengan cara yang tak berubah. Tetap beribadah, tapi hanya gerak fisik yang sedikit dipaksa. Tanpa ruh dan nyawa yang ikut menggerakan bersamanya. Berbuat seadanya, hampa rasa dan minim gairah.
Selain aktivitas ibadah yang standar seperti yang diisi oleh para siswa dalam jurnal atau buku agenda Ramadannya misalnya: puasa, sahur, buka puasa bersama, shalat lima waktu, sedekah, salat tarawih, tilawah, dan isi kultum, kita perlu beberapa variasi dan amal yang berbeda sebagai nilai lebih dari tahun sebelumnya. Hal tersebut dilakukan sesuai dengan passion dan aktivitas harian.
Buatlah sedikit beda Ramadan kita tahun ini. Hal sederhana saat Ramadan yang ingin sekali saya lakukan sejak tahun 2013 silam ialah memposting di akun media sosial terkait apa yang saya rasakan dan lihat, baik pada diri sendiri maupun sekitar. Semacam catatan harian Ramadan. Sulit memang memulainya, dan lebih sulit lagi istiqomah selama 30 hari. Saat 2019 tekad itu bertemu dengan kenyataan dan berhasil.
Pengalaman 2019 itu berlanjut ke tahun 2020 saat awal pandemi covid-19 silam. Catatan Ramadan tahun 2019 itu terjilid dalam Buku “Energi Ramadan” yang terbit April 2020. Dan catatan bersejarah puasa dimasa pandemi 2020, saya abadikan dalam buku “Melawan dengan Damai” yang terbit Agustus 2020.
Selain target Ramadan lainnya, ada hal berbeda yang dilakukan dengan bahagia dan berbuah amal dan karya. Hal tersebut dapat membunuh kebosanan dan meningkatkan energi positif dari rutinitas yang menjemukan. Mungkin bisa dikatakan “pelarian” yang berfaedah juga berpahala.
Bagi para pecinta fotografi bisa mengabadikan denyut kemuliaan Ramadan dengan gambar spiritualitas di sekeliling kita. Bagaimana suasana tadarus dan tarawih, hingga berburu takjil dan ragam kuliner. Kreasi menu di dapur bisa menjadi ide konten dan berbagi cara memasak bagi emak-emak dan remaja putri. Wah selama Ramadan bisa terkumpul 30 foto kuliner dan resep makanan berbuka.
Selain tadarus dan tilawah menghatamkan Al-Qur’an yang paling menjadi tradisi. Tak ada salahnya juga membaca terjemahan dan membagikan insight ayat yang dirasa sesuai dengan kondisi kekinian selama 30 hari. Kita harusnya juga menghatamkan membaca terjemahan Al-Qur’an, setidaknya akan lebih memahami isi kitab suci yang diturunkan pada bulan Ramadan ini juga.
Dalam bersedekah mulai merutinkan sedekah subuh harian yang memiliki faidah yang luar biasa, misal cukup dengan dua ribu rupiah setelah shalat Subuh yang penting istiqomah.
“Setiap pagi, dua malaikat turun. Salah satunya berdoa: ‘Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berdoa: ‘Ya Allah, binasakanlah orang yang menahan (hartanya).’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mari membuat Ramadan yang berbeda pada setiap tahunnya. Berbeda dengan menambah amal sederhana dan ibadah sunnah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Berbeda agar lebih meningkatkan motivasi dan energi menjadi orang beruntung dari hari kemarin sebagaimana pesan Rasulullah saw,
“Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik dari kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung, sama dengan kemarin merugi, dan lebih buruk darinya adalah celaka.” (HR. Al-Hakim). (.)

