
Oleh Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
Puasa identik dengan berbagi pada sesama, namun berbagi yang sesungguhnya adalah bagaimana setiap hamba dapat merasakan pahitnya melawan kemelaratan bagi saudaranya yang setiap hari menyusuri lorong kota hanya demi sesuap nasi. Berbagi itu mengundang kegembiraan, menghadirkan kedamaian, merekahkan senyum, dan melembutkan hati.
Bulan Ramadan yang sedang membersamai kita secara perlahan melatih kita untuk terus memantaskan diri agar kelak selalu menjadi candu tuk dirindui bukan tuk dilupakan. Dekapan dia ketika sedang bercumbu dengannya, agar kelak setiap momentum bersamanya selalu menyatu dalam do’a penuh cinta.
Ramadan itu butiran kelembutan yang jadikan oleh-Nya untuk melatih setiap hamba, agar tumbuh menjadi hamba yang berserah diri dalam rangkulan sayang-Nya. Ketika Allah merangkul dan mendekap erat hamba-Nya, maka akan ada kerinduan yang mendalam dan selalu dijadikan tiap momentum bersamanya selalu hidup walau Ramadan akan pergi meninggalkan kita.
Jangan jadikan bulan Ramadan hanya sekedar membalas lapar dan dahaga di siang hari kala senja mulai meninggalkan semesta dengan melahap setiap hidangan yang diinginkan. Tapi jadikan puasa Ramadan untuk menekan gejolak nafsu yang memaksa kita memubazirkan rezeki yang dijadikan oleh pemilik semesta.
Bulan Ramadan yang terlupakan itu sederhana, dimana ketika berbuka puasa kita selalu kalap dengan setiap hidangan yang disajikan. Kita lupa bahwa saat puasa kala siang hari setiap godaan makanan membuat kita kadang terlena. Sajian yang ada membuat kita lupa saat puasa dan berbuka harus juga menahan diri.
Hidangan di bulan Ramadan itu halal, tapi jika berlebihan dalam menyantap, maka akan mempengaruhi proses pencernaan dan kesehatan kita. Karena puasa itu sesungguhnya adalah menyehatkan, sedangkan berlebihan dalam makan itu akan berpengaruh pada kesehatan kita.
Ketika puasa akan hadir menyapa dan membersamai kaum muslimin, semuanya menyambut dengan antusias dari berbagai cara untuk menyambutnya. Pada hari pertama akan terasa bagaimana lamanya waktu yang akan berlalu dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Yang membuat puasa terasa happy adalah ketika puasa itu adalah sebuah aktivitas yang sudah jadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam keseharian bersama bulan Ramadan, jadikan sebagai momentum yang tidak membuat kita akan lupa, tapi sebagai jalan untuk berbenah diri dalam menapaki jalan kehidupan yang selalu berubah setiap saat. Puasa Ramadan adalah universitas kehidupan yang menempa diri kita untuk terus berubah menjadi yang baik dan terbaik dengan gelar istimewa dari sang pencipta.
Jadikan bulan puasa Ramadan sebagai nadi kehidupan kita, walaupun dia akan berlalu dan pergi meninggalkan kita dalam kondisi apapun, karena puasa Ramadan sering terlupakan ketika senjanya berlalu dan fajar Syawal menyapa dengan lantunan takbir 1 Syawal. Bukan waktunya bebas, tapi itulah pembelajaran Ramadan yang sesungguhnya.
Ramadan mengajarkan kita untuk terus tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang penuh motivasi, melangkah dalam cinta-Nya, beribadah tanpa tepi, berbagi tanpa tapi, melangkah menuju kemenangan dengan menjadikan Allah sebagai sandaran utama.
Teruslah berbagi walaupun Ramadan nanti akan berakhir dan pamit meninggalkan kita. Momentum saling berbagi ini kadang terlupakan ketika Ramadan sudah beranjak pergi dan kebaikan-kebaikannya juga pergi bersamanya.
Teruslah berbuat kebaikan hingga menjadi candu yang tak akan terlupakan oleh zaman.

