Hidupkan Ramadan dengan RAMADAN

Oleh: Iwan Wahyudi

Penulis Buku “Energi Ramadan”

Ramadan merupakan bulan yang utama dengan kemuliaan dibandingkan bulan lainnya. Banyak sekali penamaan yang disematkan padanya. Bulan penuh rahmah, bulan ampunan, bulan Al-Qur’an, bulan jihad, bulan tarbiyah, bulan berbagi, bulan penuh berkah dan sebagainya. Julukan tersebut diberikan karena memang Ramadan samudera orang-orang beriman untuk mengarungi lautan amal agar dapat meraih pahala sebanyak mungkin.

Tak heran jika pada bulan ini grafik ibadah dan keimanan seseorang naik. Tidak hanya ibadah personal, ibadah sosial yang menjadi syiar juga tidak kalah maraknya. Dimana-mana vibe Ramadan aja yang terasa. Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat merasakan dan menjadi pelaku bersama orang-orang yang menghidupkan Ramadan tersebut?

Untuk menghidupkan suasana Ramadan tersebut setidaknya dapat melakukan tiga jurus “RAMADAN” berikut:

Pertama, RAsakan kemuliaannya. Seseorang pasti memiliki motivasi dan sebab sehingga melakukan sesuatu dan memulainya dengan sebuah niat yang kuat. Hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut memaparkan sebagian dari kemuliaan Ramadan.

“Umatku diberi lima kebaikan pada bulan Ramadan, sesuatu yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya. Pertama, bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi dari bau misik. Kedua, malaikat memintakan ampun sampai berbuka. Ketiga, setiap hari Allah menghiasi surga milik orang yang berpuasa, kemudian berkata (pada surga): “Hamba-hambaku yang shalih sebentar lagi akan melepas kepenatan dan kesusahannya dan datang kepadamu”. Keempat, setan-setan dibelenggu dan tidak dapat bebas berkeliaran sebagaimana bulan lain. Kelima, diampuni dosanya di akhir malam. Di antara sahabat ada yang berkata: “Wahai Rasulullah, apakah itu malam kemuliaan (Lailatul qadar)?” Rasul saw menjawab: “Bukan, tetapi seorang pekerja akan disempurnakan balasannya ketika pekerjaannya selesai” (HR. Ahmad, al-Bazzar, Abu Syaikh, al-Baihaqidan al-Ashabani).

Dan tentunya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam Lailatul Qadar  yang tidak diberikan pada umat terdahulu dan tiada pada bulan lainnya, selain Ramadan.

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadar: 3)

Kemuliaan dengan kebaikan berlimpah dapat menjadi motivasi dosis tinggi untuk menghidupkan Ramadan. Dengan niat yang selalu di jaga kemurniannya.

Kedua, MAksimalkan perencanaan dan MAsifkan Ibadah. Kemuliaan Ramadan yang begitu tak terhingga tidak bisa didapat dengan berpangku tangan. Kebaikan yang berlapis-lapis di bulan ini mustahil digapai dengan cara biasa-biasa saja. Awali dengan persiapan yang matang, tidak setengah-setengah.Baik itu persiapan fisik, fikiran (pemahaman), jiwa, juga materi. Buatlah target-target capaian yang terukur. Jangan biarkan waktu hari-hari berlalu tanpa raihan kebaikan yang besar.

Mengelola ibadah pada bulan ini, akan berbeda dengan bulan lainnya. Banyak waktu khusus dengan ibadah yang tak ada pada bulan lainnya, perlu mendapat perhatian. Seperti Puasa, shalat Tarawih, berbuka puasa dan sahur. Perlu energi besar dan ibadah besar-besaran untuk menghidupkan hari-hari bersama Ramadan.

Tidak boleh kalah dengan semangatnya pelaku media memberikan porsi lebih banyak program Ramadan hingga larut malam, bahkan menjelang subuh. Jangan kendor dibandingkan para pengusaha yang gencar memasang iklan produknya dengan tajuk Ramadan bertubi-tubi hingga konsumen hafal di luar kepala.

Ketiga, DAN raih kemenangan dengan gelar takwa. Puncak dari menghidupkan Ramadan ialah kemenangan di hari fitri. Penghormatan tertinggi dari menghidupkan Ramadan ialah gelar takwa di ujung sana sebagaimana firman Allah swt yang menjadi ikon bulan mulia tersebut,

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183).

Dan di akhirat kelak disediakan surga khusus bagi mereka yang benar-benar berpuasa,

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Ar-Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari).

Label takwa dan kemuliaan bulan suci ini hanya dirasakan oleh mereka yang berbenar-benar menghidupkannya, meRAMADANkan bulan Ramadan. Semoga kita semua bisa merasakan hal tersebut pada Ramadan kali ini dan seterusnya.(*)

Scroll to Top