Ramadan Untuk Anak Rantau

Oleh Junaidi Ana

Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”

Merantau itu pilihan tapi bukan berarti meninggalkan. Merantau nun jauh bukan untuk pergi, tapi untuk kembali. Merantau dengan keringat sendiri jauh lebih berharga daripada merantau dari keringat orang lain.

Bulan Ramadan untuk anak rantau itu indah juga menguras emosi. Ketika beduk bertanda waktu berbuka tiba, hanya ada senyum yang merekah menutupi sedih yang menyapa. Merindukan hidangan walau sederhana dari sang bunda.

Ketika suara azan menggema bersahutan memaksa anak rantau menyambut dengan senyum kegetiran, disaat itulah ada rindu yang perlahan mengetuk relung hati yang terasa nun jauh.

Merantau itu akan membentuk rasa rindu dan merekatkan hubungan kekeluargaan. Mendekatkan yang jauh dengan selalu menjaga hubungan semakin baik dan hangat. Ramadan akan menyatukan setiap anak rantau untuk hadir bersama

Anak rantau itu rindu untuk berbuka puasanya bersama orang tua tak pernah usai, ingin selalu bersua bersama. Anak rantau itu mereka yang berani bertaruh untuk menahan rindu demi cita-cita yang diimpikan.

Hidup untuk anak rantau itu kadang diisi dengan airmata, kadang ada senyum yang tak pernah henti, kadang kegembiraan yang terus melintasi jadi santapan setiap langkahnya, kadang sekelumit kisah yang selalu menguras emosi, drama yang selalu menghantui hidup, dan cerita yang terus berulang walau terus mengusik ketenangan jiwa. Tapi anak rantau terus tenang menghadapi dengan senyum.

Ketika Ramadan tiba, anak rantau selalu rindu, rindu untuk berbuka bersama keluarga, rindu pulang kampung bersama teman waktu kecil, rindu untuk makanan khas kampung halaman, rindu untuk menu berbuka yang sederhana, dan rindu untuk terawih di masjid kampung halaman.

Jadi anak rantau itu unik dan pilihan yang sulit. Ketika Ramadan tiba, anak rantau hanya diliputi rindu untuk pulang kampung. Kampung halaman adalah tempat kembali yang selalu jadi rindu yang tak pernah usai temakan zaman.

Penahkan kita rindu pada kampung akhirat yang akan menjadi tempat menetap abadi? Kita adalah para perantau yang Allah hadirkan ke dunia yang penuh tipu daya untuk menguji sejauh mana kita sebagai perantau yang tangguh menghadapi ujian yang tak akan pernah berhenti yang Allah menjemput kita.

Kampung halaman akhirat kelak akan menjadi ruang menepi, entah Allah akan hadiahkan dengan kabar gembira atau kabar yang menyakitkan. Jadi perantau yang beruntung atau buntung. Ketika Ramadan hadir, para perantau akan berbondong-bondong memenuhi seruan dari-Nya untuk mengambil oleh-oleh sebagai bekal untuk kembali pulang.

Merantau di bulan Ramadan itu indah, ada rindu yang memanggil, ada rasa yang memaksa mengendapnya, ada asa yang mengetuk relung hati tuk pulang, dan ada cinta yang memaksa rindu tuk hadir walau hanya sejenak.

Jangan biarkan rindu menghalangi langkah tuk pulang kampung, sebab anak rantau tak akan pulang sebelum asa digapai, cita diraih, dan rindu diobati. Obati rindu pada-Nya dengan selalu ingat-Nya setiap saat tanpa tapi tak bertepi.

Teruslah melangkah anak rantau, walau rindu kan membelenggu kebebasan tuk maju, itulah indahnya hidup anak rantau kala Ramadan menyapa di kesendirian. (*)

Scroll to Top