Saat Berbuka, Waktu Istimewa Untuk Berdoa

Oleh: Iwan Wahyudi

Penulis Buku “Energi Ramadan”

 

“Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.(QS. Ghafir: 60)

ADA seorang senior saya saat di kampus dulu, jika berbuka puasa (shaum) baik shaum sunnah maupun shaum Ramadan, Ketika azan Magrib berkumandang setelah meneguk air untuk membatalkan shaum, maka ia akan sejenak beberapa menit menengadah tangan berdoa khusyuk sekali. Baru kemudian ia menyantap menu berbuka. Hal ini bukan sekali atau dua kali terlihat, tapi sudah berkali-kali. Seperti sudah menjadi kebiasaan beliau.

Suatu kesempatan saya bertanya, “Mengapa khusyuk sekali berdoanya Bang?”

Lalu beliau menjelaskan secara seksama, “Kadang saat berbuka kita sibuk memilih dan mencicipi makanan, namun sering lupa saat berbuka adalah waktu mustajab untuk berdoa. Selain itu waktu tersebut ada berlapis-lapis mustajabahnya doa : saat berbuka dan waktu antara azan dan iqomah.”

Berdoa bisa kapan saja, karena Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Namun, ada saat-saat istimewa yang Allah berikan agar doa mustajab. Doa memiliki waktu-waktu yang mustajab. Artinya ketika berdoa di waktu tersebut akan lebih mudah dan lebih cepat terkabulkannya. Diantaranya saat berbuka puasa dan waktu antara azan dan iqomah.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga doa yang tidak tertolak: (1) doa pemimpin yang adil, (2) doa orang yang berpuasa sampai ia berbuka, (3) doa orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Dalam hadis lain juga disebutkan, Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya doa orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah)

Dari Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Doa tidak akan ditolak antara azan dan iqamah”. (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, Al-Baihaqi).

Begitu banyak waktu istimewa yang diberikan oleh Allah di mana doa kita mustajab, namun jarang kita maksimalkan atau memanfaatkannya dengan baik. Kita kadang berdoa dengan begitu sangat khusyuk bahkan melakukannya rajin berkali-kali manakala mendapat musibah atau bencana saja, termasuk di saat ditimpa rasa sakit.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesunguhnya Rabb kalian Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut menengadahkan tangan kepada-Nya, lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa”. (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi)

Jadi, pada dasarnya Allah begitu rindu dan menanti doa tulus kita. Allah menanti kita sebagai hamba-Nya menghadap untuk memohon segala hal yang seharusnya kita mohon kepada-Nya. Maka tak ada langkah lain, kita harus optimalkan setiap waktu mustajab untuk berdoa, terutama di mana waktu berlapis-lapis keistimewaan berdoa itu Allah sediakan. (*)

Scroll to Top