
Oleh: Iwan Wahyudi
Penulis Buku “Energi Ramadan”
Kita sadar dalam kanvas putih kehidupan yang diberikan-Nya sejak terlahir di dunia selalu ada dan tak habis dari goresan noda. Semakin banyak waktu yang kita lalui dalam kehidupan di bumi dengan semakin dewasanya usia, kanvas itu juga semakin banyak lukisan yang terbentuk. Seiring dengan itu semakin banyak pula noda yang merusak daya pesona lukisan.
Sebagai manusia tidak ada yang sempurna di antara kita. Selalu ada kesalahan dan dosa yang diperbuat. Kadang kala kecil, disaat lain besar, waktu lain disengaja tak jarang tanpa sengaja. Manusia terbaik bukan yang bersih tanpa sedikit pun pernah melakukan kesalahan dan dosa, tapi mereka yang cepat menyadari dan tak terlarut dalam gelimang dosa dengan bertaubat memohon ampun dan tidak lagi melakukan perbuatan nista dan kesalahan diwaktu yang akan datang.
Betapa luas hamparan dan samudera ampunan-Nya, selama kita tidak melakukan dosa syirik kepada-Nya. “Wahai hamba-hambaku!, setiap siang dan malam kalian senantiasa berbuat salah, namun Aku mengampuni semua dosa. Karena itu, mohonlah ampunan-Ku agar Aku mengampuni kalian.” (Hadis Qudsi Riwayat Muslim). Dalam Al-Qur’an Allah juga berfirman “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertaqwa.” (QS. Ali Imran : 133).
Subhanallah, betapa tanpa mengenal waktu Rabb kita membuka pintu ampunan-Nya bagi hamba yang ingin bertaubat, menghapus noda-noda hitam dalam kanvas kehidupan yang terlanjur tergores. Masih enggankah kita untuk menyadari kesalahan dan dosa yang hanya menjadi beban?
Dengan memohon ampun dan mendapatkan ampunan-Nya, seorang hamba ibarat kembali ke titik nol (fitrah) suci seperti bayi yang baru lahir . Ini yang memungkinkan terjadinya lonjakan performa ibadah dan amal sosial tanpa hambatan mental-spiritual dari kesalahan masa lalu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia pilihan-Nya dan sudah mendapatkan jaminan ampunan atas segala kesalahan yang diperbuat, masih tetap tanpa mengenal waktu memohon ampunan dalam setiap kesempatan dan ibadah yang dilakukannya. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah memohon ampun dalam sehari sebanyak tujuh puluh kali, diriwayat lain disebutkan seratus kali. ”Sesungguhnya kami benar-benar menghitung dzikir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu kali majelis (pertemuan), beliau mengucap 100 kali (istighfar dalam majelis):“Ya Rabbku, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (HR. Abu Dawud).
Pada bulan Ramadan Allah swt membuka dan memberi “diskon” besar-besaran pada hamba yang benar-benar memohon ampunan dengan sungguh-sungguh. Banyak ibadah yang selain mendapatkan ganjaran pahala juga dianugerahi pengampunan atas dosa yang telah menoreh noda hitam dalam kehidupan. Di antaranya yaitu:
Pertama, berpuasa. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua, qiyam Ramadan sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim )
Ketiga, meraih malam Lailatul Qadar sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari)
Keempat, beristigfar dan memohon ampun pada-Nya. Dalam hadis Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya malaikat pencatat keburukan menahan pena selama enam jam dari seorang hamba muslim yang berbuat kesalahan atau keburukan. Jika ia menyesal dan memohon ampun kepada Allah, maka dosa itu dihapus. Namun jika tidak, maka dicatat satu keburukan.” (HR. Ath-Thabrani)
Kelima, membayar zakat fitrah. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (Ied) maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)
Keenam, mendirikan Shalat. Sebagaimana firman Allah, “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadan yang satu dan Ramadan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)
Sungguh rugi, jika keluar Ramadan diri masih berlumur dosa. Masihkan kita berat mengeja kata taubat dan tak bersegera menuju ampunan-Nya di bulan suci yang tinggal beberapa hari ini ?

