Peristiwa Bersejarah Para Sultan Bima Pada Bulan Ramadan

Oleh: Iwan Wahyudi

Penulis Buku “Energi Ramadan”

 

“Apabila ingin belajar agama Islam dan filsafat datanglah ke Bima”

(Buya Hamka, Majalah Panji Edisi November 1989 hal 37)

Ramadan bulan suci yang penuh dengan kemuliaan bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada bulan penuh keberkahan ini banyak peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi dalam perjalanan Islam dan umat Islam, tentunya juga Kesultanan Bima. Kesultanan Bima merupakan salah satu poros penting penyebaran Islam dan perlawanan terhadap penjajah di Indonesia Timur bersama dengan Kesultanan lainnya – Kesultanan Makassar/Gowa, Ternate dan Tidore.

Sejarah mencatat beberapa peristiwa penting dalam perjalanan Kesultanan Bima yang berdiri sejak tanggal 15 Rabi’ul Awal 1050 H atau 5 Juli 1640 M (beratus ratus tahun sebelumnya berbentuk Kerajaan Bima) di ujung timur Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ini terjadi pada bulan Ramadan yang kemudian mempengaruhi warna dan dinamika perjalanan kesultanan ini.

Beberapa peristiwa penting dan bersejarah Kesultanan Bima terjadi pada bulan Ramadan yang berhasil kami catat antara lain:

Sultan Abdul Kahir I Wafat

Sultan Abdul Kahir I, Sultan pertama kesultanan Bima mangkat pada tanggal 8 Ramadan 1050 H atau tanggal 22 Desember 1640 M.

Sebelum memeluk Islam sultan yang diberi gelar “Ruma Ta Ma Bata Wadu” ini memiliki nama “LaKa’I”. Ia putra pertama dari Mantau Asi Sawo, dilahirkan di Bima pada tahun 1020 H (1601 M).

Akibat adanya konflik di internal istana, LaKa’i hijrah ke Makassar pada tahun 1623 M selama belasan tahun. Pada bulan Muharram 1050 H (Mei 1640 M) dengan bantuan Makassar ia berhasil merebut kembali istana dengan mengalahkan Salisi yang bersekutu dengan Belanda.

Pada tanggal 15 Rabi’ul Awal 1050 H atau tanggal 5 Juli 1640 M ia dilantik menjadi sultan pertama Kesultanan Bima melalui upacara Tuha Ro Lanti (penobatan dan pelantikan) yang dilaksanakan oleh Majelis Hadat Kesultanan Bima dengan dukungan seluruh lapisan masyarakat.

Sultan yang meletakan Islam sebagai landasan Kesultanan Bima ini mengucap dua kalimat syahadat dan mengganti nama menjadi Abdul Kahir pada 15 Rabi’ul Awal 1030 H atau 7 Februari 1621 M dihadapan para mubalig.

Sultan mangkat setelah 6 bulan memerintah dan dimakamkan di pemakaman Bukit Dana Taraha di atas puncak bukit sebelah selatan istana Kesultanan Bima. Walaupun singkat, namun sangat memberi perubahan besar pada arah kesultanan yang berada di timur Pulau Sumbawa itu kemudian hari.

Sultan Abil Khair Sirajuddin Lahir

Sultan  ke II Kesultanan Bima, Sultan Abdul Khair Sirajuddin (Ruma Ta Mantau Uma Jati) dilahirkan pada bulan Ramadan 1038 H (± April 1627 M). Beliau menikah dengan saudari Sultan Hasanuddin Kesultanan Makassar yang bernama Karaeng Bonto Je’ne pada 22 Rajab 1056 H (±3 September 1646). Sultan Abil Khair Sirajuddin banyak melahirkan terobosan-terobosan dan ide-ide baru dalam memajukan agama, politik, ekonomi dan sosial budaya di Kesultanan Bima.

Salah satunya untuk meningkatkan pemerintahan beliau mengadakan penyempurnaan struktur “Lembaga Sara Dana Mbojo” menjadi “Majelis Lengkap” dengan mendirikan Lembaga Sara Hukum. Sejak saat itu struktur pemerintahan Kesultanan Bima terdiri dari “Sara-Sara” yang di Pimpin Ruma Bicara (perdana menteri), “Sara Tua” yang dipimpin oleh Sultan dan “Sara Hukum” yang dipimpin oleh Qadhi.

Pada tahun 1674 armada Makassar dan Bima, tentu didalamnya ada Sultan Abdul Khair Surajuddin bergabung dengan Pangeran Trunojoyo Madura hingga berhasil menguasai Keraton Mataram pada tahun 1677. Kemudian juga beliau membantu perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa Banten melawan penjajah Belanda.

Beliau wafat pada tanggal 17 Rajab 1093 H (± 22 Juli 1692 M) di Makamkan di komplek  pemakaman Tolobali Bima.

Sultan Nuruddin Abubakar Ali Syah Wafat

Sultan ke III Kesultanan Bima yang bergelar Ruma Ma Wa’a Paju (Beliau yang pertama-tama mempopulerkan payung jabatan yang berwarna kuning terkenal dengan Paju Monca), Sultan Nuruddin Abubakar Alisyah wafat pada tanggal 15 Ramadhan 1099 H (± 22 Juli 1687 M) di makamkan di komplek pemakaman Tolobali berdampingan dengan makam ayahnya Sultan Abil Khair Sirajuddin.

Sultan yang lahir pada 16 Zulhijjah 1061 H bertepatan dengan 13 Desember 1651 M dinobatkan sebagai sultan menggantikan ayahnya pada tahun 1681 M.  Ia melanjutkan menataan organisasi keagamaan yang dirintis oleh ayahnya, baik ke internal kesultanan Bima maupun ekspnasinya ke Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pembenahaan ke dalam ia lakukan dengan menyempurnakan lembaga keagamaan yakni kedudukan qadhi yang berada dipusat kesultanan bertindak sebagai penasehat sultan dan pembinaan keislaman dengan mengajarkan keluarga dan putra sultan. Kemudian organisasi keagamaan dilembagakan hingga desa-desa.

Penataan keluar ia melanjutkan penyebaran Islam yang telah dirintis ayahnya ke Manggarai Pulau Flores hingga ke Pulau Sumba, NTT. Selain itu juga mengirim beberapa pejabat hadat kesultanan Bima dalam rangka melakukan pembenahan dalam sistem dan struktur pemerintahan juga organisasi masyarakat di Flores Barat.

Sultan Hasanuddin Muhammad Syah Menikah

Pada tanggal 3 Ramadan 1126H (± 13 September 1714 M) Sultan ke V Kesultanan Bima, Sultan Hasanuddin Muhammad Syah menikah dengan Karaeng Bisampole.

Dari pernikahan ini dikaruniai tiga orang putra dan seorang putri. Ketiga putra mereka bernama : Alauddin yang kemudian menjadi Sultan Bima VI menggantikan ayahnya, kemudian Abdullah yang gugur ketika memimpin laskar membantu Raja Selaparang berperang melawan Kerajaan Karangasem Bali, dan putra selanjutnya bernama Ibrahim. Putri mereka diberi gelar “Ma Mbora di Tallo” karena wafat di Tallo dan tidak dijelaskan namanya.

Di beri gelar Ma Wa’a Bou karena beliau mencetus ide-ide baru  terutama dalam politik pemerintahan dan metode dakwah.

Beliau lahir pada tanggal 22 Zulhijjah 1100H (± 7 September 1689M). Dinobatkan sebagai Sultan Bima pada tanggal 5 Zulhijjah 1107H (± 6 Juli 1705M) dan beliau wafat  pada tanggal 14 Rajab 1145 H (± 23 Januari 1731 M). Dimakamkan di halaman Masjid Kesultanan -sekarang Masjid Sultan Muhammad Salahuddin- (Pemakaman Kampo Sigi).

Sultan Abdul Hamid Wafat

Pada tanggal 1 Ramadhan 1234 H (± Juni 1891M) wafat Sultan Abdul Hamid putra Sultan Abdul Kadim. Sultan ke VIII Kesultanan Bima NTB ini bergelar “Ma Ntau Asi Saninu” karena beliau bermukim di Istana yang dihiasi dengan cermin. Beliau lahirkan di Bima pada tahun 1176 H (± 1762 M)

Dimakamkan di halaman Masjid Kesultanan -sekarang Masjid Sultan Muhammad Salahuddin- (Pemakaman Kampo Sigi).

Sejak usia dini diberi pendidikan agama dan ilmu pemerintahan sebagaimana para pendahulunya oleh para ulama dan pejabat istana.

Saat dewasa menikah dengan Datu Sagiri putri Sultan Sumbawa dan dikaruniai putra bernama Ismail dan putri bernama Siti Jamila Bumi Kaka.

Ketika berusia lebih kurang 11 tahun dinobatkan sebagai sultan, setelah ayahnya wafat pada tahun 1187 H (± 1773 M). Untuk menjalankan roda pemerintahan ditunjuk seorang “wali” yang merangkap sebagai Ruma Bicara (Perdana Menteri) bernama Muhyddin. Kedudukan Muhyddin digantikan oleh Ruma Bicara Abdul Nabi pada 18 Syawal 1219H (± 10 Januari 1805)

Benda-benda pusaka dari emas dan perak, perhiasan intan berlian peninggalan kesultanan Bima, salah satunya mahkota kesultanan dibuat pada masa Sultan Abdul Hamid. Lambang burung garuda berkepala dua yang mencerminkan pemerintahan berdasarkan hukum Islam dan hukum adat diresmikan sebagai lambang kesultanan.

Pada 11 April 1815 pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid terjadi letusan gunung Tambora yang sangat dahsyat melenyapkan kerajaan Pekat dan kerajaan Tambora yang berada disekitarnya, dan juga memiliki efek global dengan musim dingin berkepanjangan di Eropa.

Begitu banyak peristiwa bersejarah pada bulan Ramadan di nusantara ini, termasuk Kesultanan Bima. Namun, kadang karena keterbatasan literasi dan perhatian pemangku kebijakan hal tersebut luput tercatat apalagi menjadi pelajarah berarti bagi generasi selanjutnya.

Sejarah bukan sekadar sebuah rentang waktu di masa lalu yang hanya dihempas oleh angin lewat begitu saja. Tapi “Sejarah adalah catatan tentang masyarakat, umat manusia, atau peradaban dunia, dan tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada watak masyarakat.” (Ibnu Khaldun, 1332-1406)

Dan dari sejarah semua orang dapat berkaca masa lalu sebuah negeri, bangsa bahkan peradaban bagaimana jatuh bangunnnya hingga ia menjadi bijak bertindak pada masa kini dan akan datang. “Sejarah bukan sekadar melahirkan cerita dari kejadian masa lalu sebagai masalah. Sejarah tidak sekadar kejadian masa lampau, tetapi pemahaman masa lampau yang di dalamnya mengandung berbagai dinamika, mungkin berisi problematika pelajaran bagi manusia berikutnya. (Mohammad Hatta)

“Orang yang tidak memiliki rasa sejarah, adalah seperti orang yang tidak memiliki telinga atau mata.” (Aldof Hitler)

Sumber Bacaan

  1. Hilir Ismail, 2004. Peran Kesultanan Bima dalam Perjalanan Sejarah Nusantara. Penerbit Lengge, Mataram.
  2. Hilir Ismail, 2006. Kebangkitan Islam di Dana Mbojo (Bima) (1540-1950). Penerbit CV. Binasti, Bogor.

Iwan Wahyudi, 2010. Sejarah Masuknya Islam di Pulau Sumbawa. Makalah.

  1. Fachrir Rahman, 2011. Islam di Bima: Kajian Historis Islamisasi Era Kesultanan. Alam Tara Learning Institut, Mataram.
  2. Fachrir Rahman, 2012. Islam di Nusa Tenggara Barat Proses Masuk dan Penyebarannya. Alam Tara Institute, Mataram.
  3. Hilir Ismail & Alan Malingi, 2018. Jejak Para Sultan Bima. Penerbit CV. Adnan Printing

Iwan Wahyudi, 2020. Energi Ramadhan. Olat Maras Publishing. Sumbawa.

https://rehatiwan.blogspot.com/2022/11/energi-sejarah.html Diakses 13 Maret 2026

https://www.panjimas.com/uncategorized/2018/01/20/kenapa-kita-harus-belajar-sejarah/ Diakses 13 Maret 2026

Scroll to Top