
Oleh: Iwan Wahyudi
Penulis Buku “Energi Ramadan”
IQRO, bacalah!. Siapa yang menyangka dari kegelisahan atas tingkah kaumnya yang jahiliyah dan laku khalwat di gua Hira sekian lama, kata itulah yang menjadi perintah pertama dari Tuhan Semesta Alam. Perintah pada seorang lelaki yang kemudian menjadi penanda dirinya menjadi nabi dan rasul pembawa risalah akhir zaman.
Wahyu pertama yang diterima rasulullah Muhammad saw pada bulan Ramadan itu adalah lima ayat pertama surah al-Alaq. Sedangkan ayat pertama surah tersebut artinya berbunyi, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,”
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq: 1-5)
Kata “Iqro”, bacalah! menjadi kata dan perintah pertama pembuka wahyu itu. Setelah 23 tahun dari turunnya firman Allah swt itu, Rasulullah saw tak hanya membawanya sebatas perintah “membaca” tapi mengubah, mengilhami, menerangi jalan sejarah dan peradaban dengan cahaya Islam hingga hari ini.
Iqro! pembuka dari mukjizat terbesar nabi Muhammad yaitu al-Qur’an yang diturunkan pada bulan suci Ramadan yang beberapa hari lagi akan meninggalkan umat manusia.
Sebuah kata yang membangkitkan manusia untuk tidak buta. Buta huruf hingga tak bisa membaca, buta ilmu pengetahuan hingga mudah tertipu, buta akan siapa Tuhannya hingga tersesat.
Mambaca itu seruan untuk meninggalkan kebodohan, mendekap ilmu pengetahuan, memburu hikmah yang bertebaran, peka pada yang terbentang dalam semesta, baik tersirat maupun tersurat.
Membaca itu menarik diri menuju kemuliaan, berjalan kepada pencerahan dan melangkah mendekati cahaya yang menerangi rute melewati persinggahan di dunia.
Membaca itu membuat manusia kian mengenal siapa dirinya, dari mana ia berasal, untuk apa diciptakan dan kemana tujuan hidupnya.Tak lain hidup dan mati ku hanya untuk Tuhan Yang Maha Tunggal, Allah swt.
Membaca itu kata kerja. Bukan menunggu diberi, dikasihani dengan subsidi atau ditalangi dengan kompensasi. Ia gerak yang menggerakan. Perintah yang sangat revolusioner.
Lalu apa yang harus dibaca?
Allah swt memerintahkan manusia membaca dalam makna mempelajari, meneliti, merenungi, mengambil pelajaran dan sebagainya, apa saja yang telah IA ciptakan. Baik ayat-ayat-Nya yang tersurat (qauliyah), yaitu Alquran, dan ayat-ayat-Nya yang tersirat, maksudnya alam semesta (kauniyah).
Saya bukan penghafal al-Qur’an dan hadis apalagi ahli tafsir. Saya merenungi perintah “bacalah” tidak sebatas berhenti pada mengerti dan memahami apa yang dibaca. Tapi kemudian dilanjutkan dengan “suarakan dan sebarkan” isi ayat bacaan itu pada orang lain. Seruan pada kebaikan dan jalan agama ini. Baik dengan lisan, tulisan maupun perbuatan.
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (QS. Fushshilat: 33). (*)

