
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
Dia sudah berkemas kembali pulang. Sudah boarding dan siap masuk pesawat tuk lepas landas. Walaupun dengan berat hati pergi tinggalkan insan yang sedang semangat tuk terus beribadah, tapi tak ada alasan tuk tetap berada di sisinya.
Isi koper tersusun rapi berisikan semua keperluan perjalanan selama sebelas bulan tuk berkelana menjelajahi semesta yang berisik oleh kehidupan yang semu. Ada tas jinjing yang berisikan laporan perjalan singkat selama satu bulan penuh drama yang akan dilaporkan secara terbuka pada yang kuasa.
Perjalanan pulang baru akan dimulai pada senja yang begitu indah, sunset yang begitu memukau mengantarkan kepergiannya, meninggalkan banyak cerita, mengukir banyak kisah, drama singkat tiga puluh sesi dalam tiga episode yang terbagi dalam tiga sesi pemotretan, dan memiliki alur yang terlalu rapih dalam perjalanannya.
Episode pertama dari cerita yang berkisahakan hamba yang mengejar promo berdiskonkan semua produk yang Allah tawarkan tak berbilang dari semua merek tanpa terkecuali. Dari bayi hingga lansia tak ketinggalan tuk ingin memiliki produk unggulan yang Allah promokan.
Semua produk yang ditawarkan terjual habis tak bersisa. Perjalanan paruh pertama yang begitu menggiurkan, menyisakan banyak cerita yang heroik, ada kisah yang bertabur senyum berbalut duka, tapi dibalik semua itu cerita ini baru dimulai.
Episode kedua itu ujian bermula, promo gila-gilaan dari-Nya sudah mulai ditawarkan, tapi energi tuk melawan rasa kantuk dan malas mulai menyapa, kaki terasa berat tuk melangkah, semangat mulai mengendor, keinginan mendominasi dari setiap kebutuhan hamba pada pencipta.
Dari setiap tapak perjalan menuju akhir episode, saat ini setiap kisah bertabur keberkahan, tapi hanya mereka yang masih terus berjuang melawan kantuk dan lelah yang akan terus bertahan di tengah gempuran ombak kefanaan tiada henti. Deburan ombak menghempas ke tepian, tapi gelombang tak akan henti menyeret bahtera tuk terus berlayar.
Episode terakhir itu sebagai pembuktian tanda cinta dari cerita panjang sebulan mencari Tuhan pemilik semesta. Episode ini, hamba akan bergelut dengan air bah yang begitu deras dengan ujian yang berat. Hanya mereka yang mampu berdiri kokoh ditengah badai yang akan bertahan hingga akhir. Walaupun terseret arus mudik yang begitu menggila, tapi mereka tetap enjoy menikmati perjalanan menuju akhir episode.
Episode inilah yang menentukan langkah yang sebenarnya tuk menggapai ridho dari-Nya. Ketika episode ini bermula, DIA hanya tersenyum melihat setiap hambanya yang masih bertahan dan berlomba-lomba tuk menggapai malam kemuliaan. Hanya semalam yang mampu mencetak hamba seolah hidup hingga seribu bulan.
Malam yang dinantikan oleh hamba-Nya yang beriman. Semua amalan tuk menyambut hadirnya malam yang diimpikan terus giat tuk dilaksanakan. I’tikaf adalah salah satu jalan terbaik menyambut malam kemuliaan. Hamba-Nya terus meningkatkan ibadah dalam dekapan hangat cinta-Nya, dalam rangkulan kasih sayang dari-Nya, dalam balutan rindu akan janji tuk terbebas dari api neraka, dan jadi payung keberkahan tiada henti dari-Nya.
Akhir dari tiga episode yang tayang hanya sebulan, mengantarkan setiap insan jadi yang paripurna bagi mereka yang beruntung. Mendapatkan kado istimewa dari-Nya dengan predikat cumlaude bergelar muttaqin.
Perpisahan dengan bulan istimewa, menyisakan rindu, melegakan rasa, melambungkan iman, menentramkan hati, rasa kangen yang terus bertambah, mungkin ada harapan yang ingin terus diukir bersamanya, dan ada asa yang terus tumbuh dalam dekapannya.
Perpisahan dengannya selalu menyisakan rasa sedih, sedih yang tak bisa terucap dengan kata, hanya terpendam dalam jiwa, menepi di lubuk hati paling dalam, bulan yang agung kini pergi meninggalkan kita, menyisakan cerita yang hanya dapat dirasakan oleh hamba-Nya yang beriman.
Perpisahan menuju kemenangan, perpisahan mengantarkan kita pada kemaafan dari pemilik maaf sejati. Dialah yang maha pemaaf dari hamba yang berharap maaf dan ampunan dari-Nya. Berharap ampunan dari-Nya adalah impian setiap hamba yang terus berikhtiar dalam kesendirian atau keramaian.
Saatnya merayakan kemenangan, ketika senja mengantarkan Ramadan Mubarak menghadap Allah, bualn Syawal datang dengan senyum kehangatan berselimut kemenangan di hari yang Fitri.
Di bulan Ramadan ada semalam bertabur kemuliaan, maka di bulan Syawal ada enam hari bertintakan kedamaian. Pertanyaannya adalah apakah kita termasuk hamba yang mendapat kemuliaan dalam semalam dari-Nya? Dan apakah kita dapat meraih kebahagiaan untuk puasa enam hari yang seolah setahun penuh kita berpuasa di bulan Syawal? Hanya para pembaca setia PANGGITA yang tahu jawabannya.
Selamat jalan Ramadan dan selamat datang Syawal. Sambut kemenangan di hari yang Fitri, sucikan hati dari iri dan benci, saling memaafkan tuk melerai benci dari hati, menjernihkan pikiran, dan tumbuhkan rasa persaudaraan dalam kemajemukan.
Semoga kita semua dapat berjumpa kembali dengan bulan penuh berkah ini di tahun yang akan datang.
Selamat Hari Raya Idul Fitri, minal Aidin wal Faizin mohon maaf lahir dan batin. Selamat merayakan kemenangan 1447H. (*)

