
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
Langkah baru dimulai, ego semakin terlihat kala Ramadan meninggalkan kita. Kata maaf mungkin terucap lewat lisan, tulisan, juga tingkah laku. Enggan meminta dan memberi maaf pada sesama. Mungkin juga memaafkan secara lisan, namun iri dan dengki masih berlabuh di tepian hati yang menghalangi maaf secara tulus.
Bias dari Ramadan tidak membekas pada diri, hanya meninggalkan lapar dan dahaga semata. Allah pemilik semesta adalah Yang Maha Pemaaf juga Maha Pengampun. Hamba-Nya selalu beruang melakukan dosa tapi DIA selalu memberi maaf dan ampunan, kecuali yang menyekutukan-Nya.
Syawal ini langkah mulai terayun pada titik dimana kita berdiri setelah puasa panjang tuk jeda sejenak. Mengatur setiap ritme perjalanan yang cukup jauh. Namun dalam jeda yang diberi waktu oleh-Nya, hanya hamba-Nya yang beruntung yang memiliki hadiah terindah.
Puasa mengajarkan kita menahan selama 30 hari setiap yang halal kita santap, puasa mengantarkan kita jadi hamba yang paripurna jika DIA berkehendak. Puasa itu madrasah terbaik bagi para pembelajar sejati. Puasa adalah rumah yang luas terbentang tanpa batas, memberi ruang pada kita tuk memetik setiap buah keberkahan tanpa henti.
Tapi begitu sejak Syawal menyapa, adalah maaf tulus dari tepian hati paling dalam tuk saudaramu yang pernah salah dan khilaf tanpa sengaja atau tidak pada kita. Syawal datang menguji keikhlasan kita tanpa batas. Syawal mengetuk pintu hati kita tuk memberi dan menerima maaf pada sesama.
Mungkin bulan suci Ramadan membersamai kita pun ada gosip yang terucap dari lisan kita, ada wajah muram yang tampak pada tatapan kita, ada tingkah yang berlebihan pada sesama, dan ada gelak tawa yang tak sengaja terdengar mengejek tetangga.
Syawal menyapa dengan riuh gemuruh takbir yang menggema di seantero bumi. Setiap hamba yang muslim menyambut dengan gembira penuh suka cita. Langit menyambut hangat lantunan takbir dan semesta mendekap hangat dalam buaian cinta kata nama-Nya dibesarkan dalam lantunan yang syahdu.
Syawal itu ujian pertama ketika ruang tamu Ramadan dibuka dan para tamu mulai berbondong-bondong menghampiri rumah yang istimewa. Menyambutnya dengan gembira, sedih dan tangis yang mungkin terselip diantara lantunan doa panjang sang khatib yang sedang berkhutbah dengan suara yang menggelar.
Ujian Syawal ketika menyapa adalah, keikhlasan memberi dan menerima maaf, menjaga pola makan, menahan diri dari lisan yang bablas, menjaga ibadah seperti di bulan Ramadan, dan menjaga silaturahmi.
Ramadan memang sudah berlalu, tapi jejak langkah masih akan terus ada dan tetap ada. Ada tilawah yang terus menggema, ada infaq yang terus ada, ada qiyamullail yang terus dijaga, dan ada shalat berjamaah yang terus dipertahankan.
Syawal itu indah, didalamnya ada 6 hari kita berpuasa dengan berbalas setahun penuh. Itulah indahnya hadiah istimewa yang Allah berikan pada hamba-Nya. Tapi mungkin kita masih begitu serakah dengan setiap nikmat yang Allah berikan tak berbilang pada kita. Allah ingatkan kita dengan bertanya “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Syawal adalah titik balik dari perjalanan pulang. Bulan Ramadan itu persinggahan mengumpulkan bekal tuk melangkah balik dalam perjalanan panjang selama sebelas bulan kedepan. Titik balik yang mengharuskan kita menyiapkan dan membawa bekal yang cukup agar tidak terjebak pada tapak langkah ditengah gurun ujian yang melanda.
Jika titik awal kita salah dalam melangkah, maka dipastikan bahwa sebelum sampai finis, kita akan terjebak pada keputusasaan yang tak berkesudahan. Maka nikmatilah setiap tapak yang dilalui, terus berbenah dengan bekal yang mungkin sedikit, tapi cukup hingga akhir.
Jangan terburu-buru atau tergesa dalam berbuat kebaikan, tapi lakukan secara bertahap dan terukur untuk setiap kebaikan hingga menjadi candu yang tak ingin ditinggalkan. Jadikan setiap desah nafas dan detak jantung adalah kebaikan.
Ramadan meninggalkan cinta, Syawal datang memupuknya agar tetap merekah seperti mawar yang terus tumbuh dan merekah bunganya ditengah musim kemarau tapi selalu memberikan senyum dari wanginya yang semerbak. Walau penuh ujian tapi Ramadan memberi hadiah istimewa dan Syawal datang tuk menjaga kado itu agar tetap bersinar sepanjang waktu.
Tetaplah tersenyum di tengah gempuran ujian yang tak pernah usai antara yang hak dan batil hingga Allah myang akan mengakhirinya di hari penghisaban kelak. Mari saling memaafkan dengan ketulusan tanpa tapi yang tak bertepi.
Selamat hari raya Idulfitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin.
Untuk pembaca setia PANGGITA, Maafkan jika ada terselip kata yang salah dalam setiap tulisan saya.
Semoga kita dapat bersua kembali bersama bulan penuh cinta di tahun yang akan datang. (*)

