Bel Terakhir Antara Tawa dan Duka

Oleh: Junaidi Ana

Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”

 

“Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan mereka semua datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (QS. An-Naml: 87)

Bel mungkin akan mengakhiri setiap aktivitas yang sedang bergerak riuh dalam sepi, dari lorong sekolah, ruang kelas, lapangan, kantin, perpustakaan, dan juga ruang guru serta kepala sekolah. Setiap bunyi memberi pesan, setiap pesan ada jeda, dan setiap jeda ada kisah dalam barisan kata yang terus dilukiskan di atas canvas kehidupan.

Dari bel itu ada tawa yang melengking dari setiap kisah dalam deretan episode yang sedang tayang dan akan berakhir dari kisah panjang. Ada legenda yang sedang merenung di sudut ruang yang berjejer, dia menepi dalam renung panjang, memikirkan tapak selanjutnya dari suara bel yang berbunyi. Bukan hanya dia yang akan jadi legenda, tapi mereka, ya mereka semua yang ada dalam barisakan kata ini akan menjadi legenda dalam kisahnya sendiri.

Para legenda sedang menyusun puzzle yang terserak dari setiap mimpi yang sudah tertulis di sudut hati, menyambungkan dan menata serapi mungkin, hingga jadi puzzle yang sempurna. Itulah mimpi para legenda. Mimpi menjadi seniman yang lihai bermain kata dalam mejaga maruah kebajikan serta membela kebenaran hingga sang diplomat yang sedang berdialog dari celah hiruk pikuk dunia dalam diplomasi antar negara.

Bel bukan untuk mengakhiri segalanya bagi para legenda, tapi dari suara bel menghadirkan tawa para legenda yang sedang menata bata kehidupan tuk menggapai impian juga harapan yang sedang bergejolak dalam jiwa untuk masa depan gemilang. Teruslah bergerak jadi legenda untuk masa depan. Para legenda akan terus ada walau raga akhir oleh waktu.

Langkah kaki mungkin akan terjeda sejenak dalam teriakan riuh kala semua sedang sibuk, tapi bel terakhir yang berdering memecah hening dalam serius yang menghadirkan tawa, tawa yang bermula perlahan namun semakin riuh dan bergemuruh. Itulah tawa para legenda.

Dalam tawa itu ada harapan yang sedang dipintal, ada bata yang sedang di susun, ada mimpi yang sedang menanti, dan ada cita yang akan diraih. Para legenda akan terus melangkah dalam deting gemuruh kebisingan kota yang tak pernah menyurutkan langkah.

Para legenda akan terus ada dan terus ada walau hilang ditelan waktu. Setiap goresan pada pahatan di dinding gedung jada bukti bahwa mereka pernah ada walau sudah tak bersama. Tawa mereka masih terngiang jelas dalam gendang telinga, langkah mereka masih terdengar sayu di lorong-lorong sunyi, dan cerita mereka tak pernah berakhir.

Bel terakhir itu adalah awal mula kebangkitan para legenda. Mereka menatap masa depan penuh semangat, disana ada harapan yang sedang menanti, ada cerita yang akan bermula, ada kisah yang akan dilakoni, dan ada episode yang bermula dan menjeda penuh iklan dengan derai airmata juga senyum.

Legenda itu, mereka yang hadir dalam diam, berbisik dalam sunyi, berkisah dalam sepi, melaju dalam suasana lengang, dan tawa dalam balutan sedih. Para legenda tak pernah ada kata menyerah dalam tapaknya. Seperti seorang penjelajah lautan, begitu layar mengembang tak ada kata mundur dalam petualangan hingga dermaga tujuan.

Rasulullah SAW., adalah sang legenda akhir zaman yang terus ada hingga nanti. Pesannya terus hadir dalam setiap detak jantung kehidupan umat manusia, mukjizat cintanya terus dilantunkan sepanjang waktu, gerakan penuh kedamaian terus ditunaikan setiap waktunya, dan panggilan cinta-Nya terus mendayu dalam sunyi juga ramai. Itulah sang legenda.

Semuanya akan berakhir dengan suara bel dari malaikat yang akan meniupkan terompet akhir zaman, terompet sangkakala  yang akan ditiup oleh malaikat Israfil atas perintah Allah SWT untuk menandai hari kiamat. Akhir dari segala kenikmatan dunia dan awal dari perjumpaan dengan sang pemilik semesta. Disanalah tawa untuk tersenyum atau tawa dalam duka akan dimulai.(*)

Scroll to Top