
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
Imam Malik bin Anas:”Ilmu laksana binatang buruan, dan tulisan adalah pengikatnya. Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.”
Menulis itu butuh waktu, ide, gagasan, imajinasi, dan keberanian. Ketika kita punya waktu begitu banyak untuk menulis apa saja ide yang muncul secara tiba-tiba atau perlahan muncul dengan begitu brilian. Ide itu diikat dengan menulis agar dia tetap ada dan menyatu bersama nadi kehidupan manusia.
Waktu terus menghampiri, memacu dan memaksa kita agar menghadirkan ide yang tertata dan terstruktur dengan baik, tapi gagasan untuk mengukur sejauh mana cara berpikir kita terhalang oleh imajinasi yang tidak begitu kreatif dan membaca momen dan ide yang muncul.
Ide kita mungkin begitu kuat dengan suasana hati dan juga rasa yang dimiliki, tapi di eliminasi oleh gagasan yang begitu kaku oleh pltopik yang ingin di goresan. Para penulis besar memiliki ide dan gagasan yang begitu menyatu dan mengakar menjadi satu kesatuan yang bisa di oret sehingga menghasilkan produk gagasan yang tidak lekang oleh zaman.
Semua orang punya ide, gagasan, imajinasi, harapan, dan cita-cita yang ingin di gapai, tapi semua terhenti oleh kemalasan yang kadang datang mengetuk dinding jiwa yang sedang rapuh di sudut ruang kosong yang bernama hati.
Ketika pata pakar hukum, advokat, atau yang seprofesi dalam bidang hukum akan menungkan ide dan gagasannya, mereka akan berpikir tentang konsekuensi dari setiap kata yang akan di goreskan. Setiap kata bagi mereka punya konsekuensi hukum yang harus di pertangungjawabkan di hadapan publik.
Berbeda dengan para pujangga dan juga novelis ketika mereka menulis. Setiap kata adalah nasehat dan kritik yangl di ungkapkan dengan bentuk kata kiasan yang menghentak pada jiwa-jiwa yang mungkin angkuh, sombong, serakah, munafik, bebal, jumawa dan berbagai bentuk karakter terbalik dari setiap kebaikan. Mereka mampu menghadirkan kata yang menasehati tapi dengan penyampaian yang lugas tanpa menghakimi.
Ketika kata itu keluar dari lisan para penasehat agama, maka yang ada adalah ungkapan yang penuh makna pengantar jiwa penenang hati dan juga melegakan rasa. Setiap kata mereka bermakna kedamaian dan ketenangan, ada bahagia dan ada lega, ada rindu dan ada cinta, ada rasa dan ada bias pahatan keikhlasan yang mendalam bagi kehidupan.
Menulis itu ada gagasan yang yang harus di jaga, ada inspirasi yang harus di pelihara, ada imajinasi yang harus di asah dan ada ide yang harus terus di gali, agar semua itu hadir manjadi mercusuar kebaikan yang memberi cahaya tampa henti dan. Tak bertepi.
Ketika tulisan hadir sebagai jawaban dari keresahan jiwa yang tenang dan sedang terlelap dalam kedamaian. Disaat itulah imajinasi akan terus di pacu untuk mengolah ide yang berseliweran dan gagasan yang sedang bangkit dalam tekanan keterasingan jiwa. Jangan pernah berhenti dalam menghasut ide yang hadir dan gagasang menghampiri untuk terus memproduksi nasehat dan juga inspirasi bagi sesama.
Menulislah ketika jantung masih berdetak, napas masih dapat berhembus, raga masih kokoh dalam tapak, jiwa masih terus hidup, hati masih dapat merenung, pikiran masih sehat, dan rasa masih dapat membagi ucap penuh makna pada semesta. Jangan biarkan ide itu mengendap perlahan dan hilang menjadi debu dalam hempasan angin.
Dalam tulisan itu seperti puzzle dari setiap kata yang kita oret, akan membentuk menjadi oesa kedamaian di tengah gurun pasir yang gersang bagi penjelajah yang menemukan telaga air kehidupan yang melegakan rasa haus. Dari tulisan itu ada setiap kata akan jadi nasehat bagi para penikmat kata yang terus membaca.
Menulis untuk terus ada dan tetap ada walau zaman terus berubah, tapi ide tak pernah usang oleh waktu. Tulisan akan memberi ruang pada kita untuk terus hadir tuk mengetuk cakrawala berpikir tentang arah langkah, tentang tempat berpijak, dan tentang ruang tuk ide di bagi. Itulah nikmatnya berbagi dan menasehati dalam diam. Teruslah hadir di ruang kosong yang banyak orang tak ingin hadir, itulah ruang para pembaca dan penulis. (*)

