
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
Ketika keadilan terus direnggut oleh ocehan receh, diselimuti oleh kolega, dan dibalut oleh topeng monyet, maka keadilan seolah kehilangan wajahnya. Rakus adalah sebuah keserakahan yang akan terus melekat pada setiap individu. Salah satu hal yang dapat membuat seseorang menghindarinya adalah kesabaran.
Saat keadilan di sekitar kita mulai hilang oleh rasa dan dibelenggu oleh keserakahan, maka yang ada hanyalah penindasan berselimutkan keadilan. Ketika penguasa berselingkuh dengan pengusaha, yang muncul hanyalah keangkuhan yang terus merajalela.
Dari setiap peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu yang bersamaan, kita dapat melihat betapa ironisnya wajah keadilan. Seorang maling digebuki hingga nyawanya tergadaikan, sementara para koruptor yang mencuri uang negara dari hasil pajak seluruh rakyat justru sedang tersenyum di balik tembok keserakahan. Lalu, di mana nurani para penegak keadilan yang seharusnya kita cari?
Keadilan itu bukan semata-mata tentang keputusan hukum yang dapat melegakan hati setiap pihak dalam proses yang sedang dilalui. Keadilan adalah ketika proses tersebut memberikan ruang kepada setiap pelapor dan terlapor untuk dengan lapang dada menerima hasil dari keputusan para penegak hukum.
Kita dapat belajar dari kisah Ali bin Abi Thalib, sahabat sekaligus menantu Rasulullah saw. Dikisahkan bahwa baju besinya hilang dan kemudian ditemukan di pasar, berada di tangan seorang non-Muslim yang menjualnya. Ali bin Abi Thalib meyakini bahwa baju besi tersebut adalah miliknya. Namun, karena ia tidak memiliki saksi yang cukup kuat untuk membuktikan kepemilikannya, ia menerima keputusan dengan lapang dada.
Namun, kisah itu tidak berhenti pada sebuah keputusan. Justru kebesaran hati Ali bin Abi Thalib dalam menerima keputusan tersebut kemudian menjadi jalan bagi sang penjual untuk mengenal Islam dan akhirnya memeluknya. Dari sini kita belajar bahwa keadilan tidak selalu berakhir pada kemenangan salah satu pihak, tetapi dapat menjadi pintu bagi lahirnya kebenaran dan perubahan hati.
Hari ini, negara kita dalam lingkup yang luas dan rumah kita dalam skala yang kecil sedang menghadapi titik ujian dalam penegakan keadilan. Maka, berkacalah pada diri kita sendiri tentang keadilan dalam lingkup kecil sebelum kita berteriak menuntut keadilan dalam skala yang lebih besar.
Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri tentang arti adil? Sudahkah kita berlaku adil kepada diri sendiri? Bagaimana perlakuan kita terhadap diri sendiri?
Saat kita berteriak menuntut hak untuk dipenuhi oleh negara yang sedang berkembang, tetapi masih tertatih dalam berbagai persoalan, sering kali yang terdengar adalah keluhan bahwa pajak rakyat dikorupsi oleh para pejabat. Jika kewajiban kita untuk membayar pajak sudah kita tunaikan, tentu kita memiliki hak untuk lantang menagih tanggung jawab negara.
Sederhananya, jika kita tinggal di sebuah kompleks perumahan, tetapi lalai membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) atas rumah yang kita tempati, kemudian kita berteriak bahwa rakyat sudah membayar pajak tetapi hasil pajak dikorupsi, bukankah kita juga harus terlebih dahulu melihat kewajiban yang ada pada diri sendiri?
Membayar pajak adalah kewajiban yang harus ditunaikan. Sementara itu, ketika ada pihak yang menyalahgunakan atau mengkorupsi uang rakyat, kita dapat mendoakan agar mereka segera sadar. Jika mereka tidak sadar, semoga mereka dimudahkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan pengadilan Allah kelak.
Memang, terkadang gajah di depan mata sulit untuk dilihat, tetapi semut di seberang pulau justru sangat mudah untuk dilihat. Hal ini terjadi karena manusia diciptakan oleh Allah dengan sifat suka berkeluh kesah.
Ketika diberi rezeki dan umur yang panjang oleh Allah, rasa syukur kita terkadang begitu saja. Namun, ketika datang sebuah ujian, teriakan kita justru bisa melebihi auman singa di hutan Amazon.
Barangkali, sebelum kita sibuk menuntut keadilan dari orang lain, dari para penguasa, bahkan dari negara, ada baiknya kita bertanya terlebih dahulu kepada diri sendiri “Sudahkah kita berlaku adil untuk diri sendiri?
Sebab, keadilan yang paling dekat bukanlah keadilan yang kita tuntut dari orang lain, melainkan keadilan yang kita mulai dari diri sendiri.(*)

