
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
Kita mungkin terlihat sebagai orang yang tidak baik, tetapi bukan berarti kita ingin menghancurkan negara tempat kita tumbuh dan berkembang. Jika kita tidak menyukai pemimpin negeri ini, maka doakanlah agar negeri ini tidak diadu domba oleh kepentingan segelintir orang. Setidaknya, jangan menjadi pengkhianat bagi bangsa sendiri.
Negara memberikan kita kehidupan yang begitu kompleks, sejak kita masih berada dalam kandungan hingga hari ini dan kelak nanti. Negara menjamin kebebasan warganya, keamanan rakyatnya, kedamaian masyarakatnya, dan kesejahteraan sosial seluruh rakyatnya. Walaupun poin terakhir belum sepenuhnya merata, negara terus berupaya menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Negara hadir sebagai pelindung, penyangga, pengayom, dan pelayan bagi rakyatnya. Semua dilakukan demi menghadirkan seulas senyum di wajah setiap anak negeri: mereka yang masih berada dalam buaian, sedang tumbuh, merajut asa, mengejar cita-cita, dan menyulam mimpi menjadi kenyataan.
Kemerdekaan Republik Indonesia telah memasuki usia 81 tahun. Walaupun masih tertatih menuju puncak kejayaan, negara terus berupaya berbagi kebahagiaan dengan segenap rakyatnya agar senyum tetap merekah di tengah terpaan berbagai krisis yang terus melanda dunia.
Pasca-Reformasi, negeri ini memasuki babak baru dengan berbagai persoalan yang terus bermunculan. Konflik kepentingan antara penguasa dan pengusaha, pertarungan kepentingan antara politisi, penguasa, dan pemilik modal, perselisihan antarpartai politik, konflik di antara para petinggi partai yang seolah tidak berkesudahan, hingga gesekan antarsuku dan budaya, semuanya terus hadir menjadi warna dalam kehidupan rakyat saat ini.
Negara kita merdeka dengan darah para pahlawan. Dari pertempuran gerilya hingga perang terbuka, mereka berjuang mempertahankan harga diri bangsa ini. Para pahlawan gugur di medan pertempuran tanpa mengenal lelah dan takut.
Lalu, apakah kita yang saat ini tumbuh dan menikmati setiap tetes darah perjuangan mereka akan membalasnya dengan menghancurkan negara ini? Apakah kita akan berselingkuh dengan orang-orang yang menginginkan negeri ini hancur?
Tentu saja tidak!
Setiap peristiwa yang terjadi di negeri ini seharusnya menjadi bara yang membakar semangat kita untuk terus bersatu dan merekatkan kebhinekaan yang telah diikrarkan oleh para pendiri bangsa. Rawatlah kemajemukan ini dengan saling bergandengan tangan, dari Sabang sampai Merauke, dari Sangihe Talaud hingga Pulau Rote.
Tidak boleh ada keraguan untuk terus bersatu dalam membangun bangsa Indonesia tercinta.
Bangsa ini tumbuh dan berkembang di atas tanah tumpah darah para pahlawan. Mereka telah menitipkan bangsa ini kepada kita yang hari ini sedang menikmatinya. Jika kita tidak menyukai pemimpin yang sedang memimpin negeri ini, setidaknya jangan menghalangi setiap titik debu kebaikan yang sedang diupayakan demi perbaikan bangsa.
Delapan puluh satu tahun sudah bangsa ini merdeka. Namun, masih banyak rakyat yang belum berkecukupan dalam hidupnya. Pendidikan kita masih jauh tertinggal dari sejumlah negara lain. Keadilan hukum masih begitu semrawut. Kekayaan alam terus dikeruk untuk kepentingan segelintir orang, sementara sebagian rakyat masih merintih dalam kemiskinan dan kelaparan.
Keamanan rakyat pun masih terusik oleh berbagai persoalan sosial. Kebencian antarsesama masih dipupuk oleh segelintir orang yang memiliki kepentingan untuk melihat negeri ini terus bergejolak.
Mari kita saling merangkul dan bahu-membahu menjaga keharmonisan bangsa ini. Kedepankan kebersamaan dalam menjaga dan merawat kemajemukan agar menjadi kekuatan untuk terus tumbuh dan bangkit menuju kemerdekaan yang sejati.
Jika kita berlapang dada dalam menjaga keharmonisan di tengah kebhinekaan, bangsa ini akan tumbuh menjadi bangsa yang besar. Bukan tidak mungkin, suatu saat Indonesia akan berdiri tegak dan ikut memimpin peradaban dunia.
Jadilah anak bangsa yang menjadi suluh, bukan pemantik kebencian. Jadilah anak bangsa yang menjadi bara, untuk membakar semangat membangun negeri, bukan menjadi air yang memadamkannya.
Jadilah pula air yang menyejukkan, yang mampu meredam keserakahan akan kekuasaan, agar setiap pemimpin mampu menjadi bijak dalam memimpin dan mengayomi rakyatnya.
Teruslah tumbuh, negeriku Indonesia tercinta.
Mari terus kita doakan agar negeri ini menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—negeri yang baik dan berada dalam ampunan serta keberkahan Tuhan.
Jaya negeriku, sejahtera rakyatnya. Damai negeriku, tersenyum selalu anak bangsaku.
Berteriaklah untuk menyemangati, bukan untuk menyulut permusuhan. Bersahut-sahutanlah untuk merajut peradaban bangsa, bukan untuk menghakimi sesama. Teruslah merajut yang terserak, memintal yang tercerai, dan menyatukannya menjadi sebuah kesatuan yang utuh demi senyum anak negeri.
Merdeka bangsaku.
Jaya negeriku.
Sejahtera rakyatnya. (*)

