
Oleh: Syamsudin Kadir
Tokoh Muda Asal NTT dan Relawan NTT Bisa!
Nusa Tenggara Timur (NTT) berduka diguncang gempa. Kita semua turut bersedih dan berduka. Setiap kali tanah berguncang, yang pertama kali runtuh bukan hanya rumah, bangunan sekolah dan tempat ibadah, tapi mestinya juga runtuhnya ego kita. Dalam skala spiritual yang hening, gempa memang tidak pernah bertanya KTP, agama, atau jabatan para korban. Gempa datang menguji, lalu pergi meninggalkan pertanyaan mendalam: “Bagaimana kita memperlakukan alam, Tuhan dan sesama selama ini?”
Maka di tengah hiruk pikuk menghadapi gempa dan setelahnya, kita selayaknya melakukan evaluasi pada beberapa aspek. Pertama, evaluasi tingkah kita pada alam. Secara manusiawi kita terbiasa hidup dengan tanah, air dan udara. Dalam konteks tertentu, selain memperlakukannya secara bijak, kita juga kerap zalim pada semuanya. Kita membuang sampah sembarangan sehingga membuat kali dan laut jadi kotor. Alam pun tercemar sampah atau kotoran penuh virus.
Gempa mengingatkan dan menyadarkan bahwa kita sejatinya bukan pemilik bumi. Kita hanya menjadi penumpang sesaat yang kerap berlaku angkuh dan sombong. Di tempat tertentu, hutan digunduli, pantai diuruk, sungai atau kali dipersempit, dan pembangunan rumah yang dibangun tanpa mengikuti kaidah aman gempa. Semua itu seperti surat utang yang akhirnya ditagih alam. Kita tidak sedang berpesta di atas bencana NTT ini, tapi sekadar menyadarkan betapa ada banyak keliru yang kerap kita jalani dan berulang kali selama ini.
Kedua, evaluasi tingkah kita pada Tuhan. Dalam banyak momentum, kita sering berbelas kasih pada manusia dan pejabat, sementara mereka juga manusia apa adanya. Kita pun sering lupa pada Tuhan yang layak disembah karena sibuk menyembah kepentingan politik sesaat. Padahal di tengah reruntuhan, Zat pertama yang dicari bukan pejabat, tapi Tuhan.
Gempa pun memotong semua kesibukan kita. Handphone mati, proyek berhenti, dan rapat ditunda, yang tersisa hanya sujud dan doa. Kita memang layak kembali pada petunjuk Tuhan.
Dengan demikian, bencana gempa sejatinya bukan saja momentum untuk meminta bantuan pada sesama manusia, tapi juga momentum untuk evakuasi diri, hidup jujur dan mendengar nurani terdalam kita. Seberapa sering kita ingat Tuhan hanya saat butuh? Seberapa sering kita mengatasnamakan Tuhan untuk membenarkan kerakusan, termasuk mungkin memotong dana bantuan bencana? Seberapa sadar kita bahwa apapun jabatan dan status sosial kita tak cukup kuasa bila dilanda gempa yang dikendalikan Tuhan?
Ketiga, evaluasi tingkah kita pada sesama. Ingat, kini kita menyaksikan sendiri bahwa gempa menyamaratakan. Pejabat dan rakyat sama-sama lari keluar dari tempat yang selama ini dianggap aman dan nyaman. Kaya dan miskin sama-sama butuh tenda, nasi bungkus dan selimut. Bahkan semuanya sama-sama butuh sapaan hangat dan canda di tengah rasa khawatir atau mungkin hening tenda. Di titik inilah kita diuji: apakah kita jadi tangan yang menolong, atau tangan yang memotong bantuan bagi para korban?
Di tengah hiruk pikuk seluruh elemen, dari pemerintah pusat dan daerah, badan penanggulangan dan tenaga kesehatan hingga organisasi sosial dan masyarakat sipil membantu para korban, kita tetap jaga dan waspada pada tingkah bejat para bandit: koruptor dan pencuri bantuan. Kita layak ingatkan dan serukan bahwa korupsi dana bencana adalah bentuk pengkhianatan paling kejam. Dan bila ada pelaku, tidak boleh dimaafkan, tapi mesti dihukum berat!
Bencana adalah bencana, ia membutuhkan rasa cinta dan kepedulian yang tinggi tanpa basa-basi. Karena di banyak momentum bencana dan proyek untuk kaum papa, bahkan saat orang kehilangan segalanya, masih ada yang memanfaatkan kesempatan untuk bertindak jahat. Jadi, kita perlu ingatkan secara berulang tanpa bosan: tak boleh ada yang menghitung keuntungan di balik bantuan gempa. Sebab bila bantuan gempa dirampok secara diam-diam, itu artinya kita gagal menjaga hubungan baik dengan tiga elemen sekaligus: alam, Tuhan, dan sesama manusia.
Mari bangun kembali NTT, tapi bangun dengan lebih bijak lagi. Ada baiknya melakukan penelitian mendalam dalam rangka penanggulangan gempa sejak dini, tata ruang yang menghormati patahan, reboisasi, dan tidak serakah pada laut dan gunung atau hutan. Jadikan bencana sebagai pengingat untuk kembali pada nilai-nilai ajaran-Nya. Perbanyak syukur saat aman, perbanyak sedekah saat lapang. Kawal bantuan sampai ke mereka yang layak mendapatkannya. Jangan timbulkan bencana baru dengan praktik korupsi pada bantuan bencana.
Gempa adalah guru yang kasar tapi jujur. Dia tidak memberi pekerjaan rumah, tapi dia memberi kenyataan. Mungkin ini cara alam, Tuhan dan orang yang terzalimi menegur pelan: “Cukup sudah. Coba lihat lagi cara hidup dan perilakumu selama ini!” Saat tanah masih atau sudah berhenti bergetar, jangan biarkan hati kita ikut diam. Mari jadikan setiap gempa sebagai momentum membangun tobat kolektif: ekologis, spiritual dan sosial. Gempa adalah medium agar kita kembali mencintai alam dan mengakrabkan diri pada Tuhan juga sesama dengan tulus. (*)

