Dari Guru hingga Peluru, Satu Dekade Eka Ilham Mengabadikan Karya

Oleh: Iwan Wahyudi

Penulis Buku “Hidup adalah Catatan”

 

“Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan”.(QS. al-Qalam: 1)

Sepanjang semester awal tahun 2026 ini saya selalu tanya ke Bang Eka Ilham, “Kapan buku barunya mau diterbitkan?”. Hal itu bukan untuk nge gas beliau untuk segera menulis lagi dan menuntaskannya jadi buku. Seingatan saya beliau masih menyimpan dua naskah yang bisa saya bantu ISBN kan dan memang beliau sendiri yang cerita.

Akhir Agustus 2026 lalu ketika beliau menerbitkan buku “PELURU, Antologi Puisi” tiba-tiba teringat di bulan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya itu tepat sepuluh tahun terbitnya buku pertama beliau “Guru Itu Melawan”. Genap satu dekade sudah sosok guru ini mengabadikan karya. Khususnya dalam bentuk buku,karena karya tulis beliau jauh sebelum 2016 telah bertebaran di kolom dan opini media massa baik cetak hingga online.

Saya mencatat sudah sebelas buku yang diterbitkan lelaki kelahiran Desa Bre, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima ini. Baik solo maupun antologi bersama. Langkah pertama tahun 2016 dengan buku solo antologi puisi berjudul “Guru itu Melawan, Kumpulan Puisi Kesaksian Serikat Guru Bima”.

Ketika covid-19 melanda dunia dan pembatasan gerak diberlakukan tak menjadikan penanya kering seketika. Ada dua buku solo melawan takluk dari wabah itu. Antologi puisi ”Manusia Di Titik Nol” bulan April 2020 dan Antologi Puisi”Bumi Manusia” dua bulan kemudian.

Setahun berikutnya, 2021. Wabah Corona masih belum mau pergi, dari jemarinya mengetik, terbit dua buku antologi bersama dan satu buku solonya. Bulan April 2021 buku solo antologi puisi ”Opera Republik Orang-Orang Biasa” lahir ke dunia. Lainnya buku antologi cerpen 25 penulis Bima ”Zikir Geladak” dan antologi bersama kumpulan jejak inspiratif ”Guru Limited Edition”.

Pada tahun ketujuh guru yang pernah dua periode menjadi ketua Serikat Guru Indonesia (SGI) Bima ini membuka tahun 2022 dengan Buku solo ”Kitab Puisi, Bumi Berbisik Langit Mendengar” dan pada bulan kelahirannya Mei, terbit buku ”Oemar Bakrie, Orang-Orang Merdeka di Persimpangan Jalan” yang berisi kumpulan artikel tulisannya selama ini.

Buku ”383 Puisi untuk Bima” antologi bersama puisi menjadi jejak karya bapak empat anak ini pada tahun 2023. Kumpulan artikel bersama dengan beberapa guru dan pegiat pendidikan seluruh Indonesia  terhimpun dalam buku ”Pergolakan Pemikiran Guru” tahun 2024.

Buku pertama kami sama-sama terbit tahun 2016 pada bulan dan penerbit yang berbeda. Dari karya perdana itu kami punya pengalaman pahit-pahit kopi yang hampir sama. Justru dari pahitnya itu membuat kami melek dan terbangun tentang seluk beluk menerbitkan karya.

Tulisan ini sebenarnya sudah saya niatkan pada bulan Agustus 2026. Saat buku ”Peluru” Bang Eka diterbitkan oleh Penerbit Panggita keluar ISBNnya. Tapi, saya merasa belum seratus persen yakin sebelum melihat langsung dan memegang bentuk fisik bukunya. Mungkin aneh bagi sebagian orang yang sudah dapat hanya sampul bukunya apalagi dalam bentuk mockup tiga dimensi atau cuma sudah punya file dummy naskah dari halaman depan, isi hingga halaman belakang menganggap bukunya terbit. Saya rada trauma pernah dapat semua itu, bahkan nomor ISBN sudah keluar dari Perpusnas RI. Namun, buku itu lebih dari setahun setelahnya tidak pernah dicetak oleh penerbit.

Kembali ke ”Satu Dekade Eka Ilham”. Ada satu kalimat dalam pengantar buku ”Peluru” yang menjadi pesan mendalam dari penulisnya, ”Puisi dapat bertransformasi menjadi ’senjata’ tak lagi sekadar kata”. Membaca itu saya langsung teringat perkataan Sayyi Quthb seorang penulis dan pejuang yang digantung oleh rezim penguasa di negerinya, ”Satu peluru hanya dapat menembus satu kepala. Namun, satu tulisan dapat menembus ribuan bahkan jutaan kepala”

Sastra khususnya puisi dan dunia teater telah menjadi dunianya Bang Eka Ilham sejak di kampus. Tak heran jika dalam sehari bisa menulis belasan puisi. Hal itu sempat saya tanyakan karena dalam buku ”Guru itu Melawan” ada belasan puisi dengan tanggal penulisan yang sama, ”Apakah ada kesalahan pencantuman tanggal?”. Beliau membenarkan menulisnya dalam sehari. Bagi beliau menulis adalah panggilan jiwa.

Sosok yang sering menjadi juri lomba sastra ini telah lama –sejak selesai kuliah- menjadi guru, sekarang ia terbit bersama ”peluru”nya. Bagi saya ini sebuah pesan tidak langsung bahwa puisi-puisinya sedang bermetamorfosis menjadi sesuatu yang bisa jadi kejutan bagi kita semua, tapi telah ia siapkan jauh sebelumnya.

Saya menutup tulisan ini dengan sebuah kutipan dari Aristoteles yang juga menjadi bahan tulisan saya dalam buku ”Pemuda, Inspirasi Wajah Negeri”.

”Puisi lebih baik bahkan lebih filosofis dari sejarah, karena puisi mencurahkan seluruh alam semesta, di mana sejarah hanya menceritakan sebagian.”

Selamat satu dekade mengabadikan karya lewat buku-buku Bang Eka Ilham Sang Pencerah. Menulislah karena dengannya Anda ada, walau kelak telah tiada. (*)

Scroll to Top