
Oleh Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
Dari Abu Hurairah, di mana Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR. An-Nasa’i dan Ath-Thabrani).
Bulan Ramadan kini mulai beranjak perlahan dengan langkah yang pasti. Babak pertama sudah di fase pertengahan menuju akhir. Setiap pemain dan juga penonton tentu memiliki semangat yang berbeda. Dari jarak tempuh yang masih jauh dari finis, namun ada yang sudah mulai ngos-ngosan dalam langkahnya. Ini baru ujian awal untuk mencari bakat para petarung sungguhan.
Kini shaf masjid perlahan mulai maju kedepan, sebelumya teras masjid bahkan halaman masjid pun penuh dengan hamba-hamba-Nya yang berbondong-bondong memenuhi seruan cinta-Nya. Mungkin ada yang kekenyangan dengan hidangan berbuka, atau ada yang sudah mulai mengendor semangat ibadahnya. Semua punya pilihan dalam hal ini dan tentu semua punya ujian yang berbeda.
Ramadan adalah tamu istimewa yang datang menyapa dan bertamu di rumah-rumah, surau, musala dan masjid-masjid. Jadilah pelayan terbaik untuk menyambut tamu yang paling istimewa. Pelayan yang akan melayani sepenuh hati tanpa tapi dan tak bertepi.
Babak baru ujian itu mulai menyerbu dan mengusik para pelayan yang mulai lemas akibat kekenyangan. Ketika santapan hanya berbalas karena lapar dan dahaga saja, maka yang didapat hanyalah ampas tanpa isi, hingga ibadah istimewa ini hanya jadi mainan yang tak bermakna.
Puasa Ramadan melatih kita untuk menahan nafsu duniawi dan memberi celah kita untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. Namun setan tidak pernah diam walaupun dibelenggu, itulah janjinya dihadapan Sang Khaliq.
Layanilah tamu Allah ini dengan sebaik mungkin, hingga akan menjadi rindu ketika dia akan pamit pergi meninggalkan kita dengan jejak yang tak akan terlupakan, bukan meninggalkan jejak untuk dilupakan.
Puasa Ramadan melatih rindu, memupuk rasa, mensucikan jiwa, menjernihkan pikiran, meningkatkan kualitas iman, dan mendapatkan gelar istimewa dari pemilik semesta, yakni gelar takwa.
Ketika lapar dan dahaga saja yang jadi hadiah, ketika berbuka dengan seteguk air dan sesuap nasi, betapa ruginya puasa yang dijalankan seharian tanpa bekas. Dunia begitu menyeret kita pada tepian jurang yang sangat mengerikan, hingga kita tidak punya celah untuk mengelak atau menghindari ujian kehidupan yang begitu menakutkan.
Dari tamu istimewa yang sedang menyapa pelayan terbaik, namun kadang perlakuan pelayan jauh dari harapan sang tamu. Begitulah Ramadan menyapa kita sebagai tamu dengan hidangan terbaik yang dibawanya, namun sambutan pelayan justru kadang sangat berlebihan.
Bulan puasa Ramadan datang, dengan hidangan rezeki berlimpah, setiap amalan kebaikan dilipat gandakan oleh Allah, bahkan tidur pun terhitung ibadah walau sejenak untuk rehat. Itulah istimewanya tamu.
Jadilah pelayan terbaik pada tamu yang hadir, agar selalu dirindukan oleh tamu yang mengetuk pintu rumah, mendekaplah pada tamu agung puasa Ramadan, agar terus membekas dalam jiwa, menyatu bersama aliran darah dalam hati, hingga kelak akan menjadi mercusuar di alam keabadian.(*)

