
Oleh: Iwan Wahyudi
Penulis Buku “Energi Ramadan”
Bagaimana kabar Ramadan kita sampai hari ini? Sebuah pertanyaan di hari ke-6 bulan puasa yang tentu masih akan dijawab dengan semangat dan optimis, Alhamdulillah semua ibadah sesuai target capaian. Bayangkan bila pertanyaan itu dilontarkan pada pertengahan atau sepuluh hari terakhir Ramadan, jawaban tidak lagi dengan semangat menyala seperti di awal. Angka-angka statistik ibadah mulai menurun, seiring dengan kian majunya (berkurang) shaf shalat tarawih di masjid. Kita akan menemukan sebagian wajah pasrah dengan rangkaian ibadah yang tinggal apa adanya.
Kenapa fenomena itu terjadi dan selalu marak dijumpai setiap Ramadan? Gas full di awal, hampir mogok di akhir. Semangat 45 dipermulaan, di ujung nyaris sempoyongan. Kita masih menggunakan teknik lari sprint, padahal jarak tempuhnya sangat panjang.
Lari sprint jaraknya pendek,60-400meter. Pastinya menggunakan pendekatan kecepatan eksplosif dan intensitas tinggi. Saat pluit star berbunyi, maka habis-habisan dengan kecepatan maksimal dan daya luncur yang meledak untuk mencapai garis finis yang masih dalam jangkauan pandangan.
Bulan Ramadan ini durasinya 30 hari. Cukup, bahkan sangat panjang. Butuh nafas ekstra agar mencapai garis finis. Bahkan menjelang titik akhir itu semua akan mengerahkan semua energi pamungkas dalam berburu pahala. Apalagi ada malam seribu bulan, Lailatul qadar istimewa yang dirahasiakan waktunya.
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada Lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari)
Kian bersemangat di akhir Ramadan dan makin mengencangkan ikat pinggal dipenghujung garis akhir bulan mulia tersebut dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan ulama terdahulu.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain diceritakan,
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menggunakan teknik lari maraton. Lari maraton itu jauh, berkilo-kilo bahkan puluhan kilometer jarak tempuhnya. Menuntut daya tahan dan manajemen energi dalam waktu lama.
Kita butuh teknik “Maraton” Ramadan, agar tidak kehabisan tenaga di tengah jalan perburuan pahala, tidak kehilangan nafas sebelum garis finis menggapai gelar takwa, cedera otot yang membuat kandas tujuan dan target-target ibadah. Ramadan kita akhirnya berlalu dengan biasa-biasa saja seperti tahun sebelumnya.
Ramadan bukan hanya tentang limpahan kemuliaan yang dibawanya, tapi seberapa besar kita mampu meraihnya. Bukan juga tentang perencanaan dan target statistik ibadah yang melonjak, namun daya capai maksimal mewujudkannya. Daya tahan dan manajemen energi yang konsisten dalam amal. Seperti pelari maraton.
Ramadan mengajarkan agar rajin beribadah bukan musiman dan mendadak sesaat. Keistiqomahan dan keberlanjutan dalam jangka panjang yang diinginkan agar kemudian menjadi habit (kebiasaan).
’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah, ”Wahai Ummul Mukminin, bagaimanakah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam beramal? Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab, ”Tidak. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (rutin dilakukan). Siapa saja di antara kalian pasti mampu melakukan yang beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lakukan.”( HR. Muslim).(*)

