Selimut Malam Orang Shalih

Oleh: Iwan Wahyudi

Penulis Buku “Energi Ramadan”

Hai orang yang berselimut, bangunlah pada sebagian malam (untuk shalat), separuhnya atau kurangi atau lebihi sedikit dari itu. Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.”

(QS. Al-Muzammil: 1-4)

Baginda Rasulullah bersabda “Allah tabaaraka wata’aala turun setiap malam ke langit bumi, ketika malam tersisa sepertiga terakhir. Dia berkata, ‘Adakah yang memohon kepada-Ku, agar aku kabulkan, adakah yang meminta kepada-Ku, agar aku berikan, adakah yang memohon ampun, agar Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Malam adalah selimut yang menutupi separuh dari perjalanan harian manusia. Sebagian manusia menganggapnya sebagai waktu sisa sehabis memeras semua energi di siang hari, kesempatan rehat dan ruang istirahat. Bagi orang shalih, malam adalah waktu istimewa. Saat dalam suasana sunyi senyap dan diselimuti gelap, di antara peristirahatan manusia, justru mereka bangun menghidupkannya, shalat dan mendekatkan diri pada Allah Swt. Nafas-nafas mereka menyambungkan antara energi bumi dan spirit langit. Mereka menyerap tenaga untuk menembus dan mengalahkan ujian yang mereka alami di siang hari.

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79).

Yazid Ar Raqashi (tabi’in wafat di Yamamah, 12 H /632 M) berucap, “Dengan memanjangkan tahajjud disaat malam, akan makin tahanlah pandangan batin para hamba Allah. Dengan menahan haus diwaktu siang, akan berbahagialah hati saat bertemu Allah SWT.” Betapa mereka menikmati betul ibadah malamnya, hingga esok mereka harus beraktivitas kembali padahal siang sebelumnya juga mereka beraktifitas yang tidak ringan, lelah dan penat serasa tersedot semua dalam sujud malam mereka.

Sungguh ini benar-benar sebuah cerminan sosok para orang-orang shalih pilihan sebagaimana ungkapan  “rahibun fillail, fursanun finnahariI” (bagaikan pendeta, siang hari bagaikan panglima).

Rasa kenikmatan ibadah mereka ini seperti apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Wahab, “Setiap kenikmatan itu hanya mempunyai satu kali kenikmatan saja, kecuali ibadah. Ibadah mempunyai tiga jenis kenikmatan. Pertama, kenikmatan saat kita sedang melaksanakannya. Kedua, kenikmatan bila kita mengingatnya. Ketiga, kenikmatan ketika kita memperoleh ganjaran dari ibadah yang dilakukan.”

Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 17-18)

Malam Ramadan begitu istimewa dibandingkan malam lainnya, terutama 10 malam terakhir dimana dijanjikan turunnya malam Lailatul Qadar  yang lebih baik dari seribu bulan. Mari di malam Ramadan yang tersisa kita jadikan malam laksana selimut orang-orang shalih terdahulu mengambil semua energi dan memetik segala kemuliaan sebagai bekal menaklukan siang hari, memohon segala ampunan, mengadu atas segala permasalahan hidup, melafadz segala lantunan doa.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah –Muharram-. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim). (*)

Scroll to Top