
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
Semakin mendekat, semakin maju, dan dia sebentar lagi akan pergi. Dia akan meninggalkan rindu, kenangan, cinta, dan juga hadiah istimewa. Entah kita akan bersua lagi dengannya atau tidak, tergantung Allah yang punya kuasa.
Sekarang semua hamba yang beriman berkumpul menyatu dengan ketenangan di tengah hiruk pikuk ujian duniawi. Mereka menepi di ruang masjid yang lega, melegakan jiwa yang lapang, menentramkan hati yang rindu akan syurganya, dan ingin menggapai Lailatul Qadar yang penuh dengan kemuliaan.
Kemuliaan yang lebih baik dari hidup seribu bulan, didapat hanya semalam. Semalam memberi kedamaian, semalam memberi senyum kelegaan, semalam memberi rindu yang tak bertepi, semalam mendekap dalam cinta-Nya, semalam merangkul hikmah kehidupan yang indah tak bertepi, dan semalam yang tak kan terlupakan sepanjang sejarah hidup setiap hamba yang penuh kasih-Nya.
Malam yang mengantarkan hati pada kesejukan di tengah teriknya mentari kala siang, malam yang disinari oleh rembulan yang lembut, disapa oleh bintang gemintang yang tersenyum kala awan perlahan pamit meninggalkan cahaya cinta-Nya, malam yang mengetuk atap langit dengan rintik hujan menyapa semesta yang mungkin sedang rintih, dan malam yang sepi seolah tak ada kehidupan makhluk ciptaan-Nya.
Malam yang dijanjikan, malam dimana perintah literasi dimulai, sang legenda akhir zaman diajarkan langsung oleh malaikat Jibril as di gua yang penuh ketegangan, ada dialog yang berlangsung perlahan, tapi penekanan mendalam akan pentingnya mengeja bukan memaksa untuk membaca semata.
Malam ketika kalam cinta-Nya bermula dan dimulai dan mulai diajarkan kepada kekasih-Nya. Bacalah, kata itu bermula dan berulang diajarkan oleh pengantar wahyu yang agung, kitab suci akhir zaman yang tetap terjaga keasliannya hingga bumi kan musnah oleh kehendak Allah pemilik semesta.
Malam yang mengajarkan cinta-Nya, mendekap dalam selimut rindu ketika kembali dalam pelukan rumah, malam yang mengajarkan tentang arti dari kata yang abadi hingga kini dan kelak nanti. Setiap huruf dalam kata membentuk ayat akan meraup pahala yang berlimpah ketika dibaca di bulan yang penuh kemuliaan ini.
Lailatul Qadar itu malam yang istimewa dan menjadi rahasia yang tak dapat ditebak oleh apa pun, hanya hambanya yang beruntung yang akan mendapatkannya, hanya mereka yang bersungguh-sungguh yang akan meraihnya dengan senyum yang merekah bersama terbitnya fajar di ujung timur hingga mentari menyinari semesta dengan lembut bersama kembalinya para malaikat yang menyapa bumi.
Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Ini perintah yang termaktub dalam kitab cinta yang menjadi mukjizat agung Rasulullah saw. Dia menciptakan makhluknya dari beragam bentuk, manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna. Tapi manusia adalah makhluk ciptaan-Nya dari setitik air yang paling hina.
Bacalah, dan Tuhanmu yang maha mulia. Tak ada kemuliaan yang hakiki bagi makhluk ciptaan-Nya. Hanya dialah yang maha mulia. Dia yang memiliki kemuliaan paripurna dari apa pun. Ketika seorang hamba diliputi oleh baju kebesaran sang pencipta, maka lambat laut dia akan semakin serakah dan hina bahkan lebih hina dari binatang.
Dia yang mengajarkan manusia dengan Kalam cinta-Nya. Setelah membaca, maka tulislah, dengan menulis yang kita baca antara tersurat juga tersirat, agar setiap ilmu itu bisa terwariskan pada generasi selanjutnya.
Dia yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Manusia diberi akal untuk berpikir, merenung, mengingat, dan juga bersyukur dengan ilmu yang dimilikinya. Ilmu yang diberikan bukan untuk dibanggakan, tapi disyukuri dengan berbagi.
Malam itu, mungkin ada hamba yang sedang tertawa dalam kegembiraan duniawi, ada yang sedih dalam kemelaratan, tapi di sudut rumah Allah ada hamba yang sujud dalam keheningan malam, bersimpuh diatas sajadah panjang tuk bermunajat pada-Nya penuh haru.
Terus mendekap erat cinta-Nya di malam yang semakin dingin yang sepi, dalam diam zikir terus dilantunkan dalam sendu, beriring derai air mata penyesalan akan setiap lalai dan dosa yang diperbuat. Berharap akan ampunan, rahmat-Nya, cinta-Nya, dan kasihnya yang tak bertepi.
Malam Lailatul Qadar, sambutlah dan raihlah. Teruslah tingkatkan ibadah di sepuluh malam terakhir dengan niat yang sungguh-sungguh untuk menggapai malam penuh kemuliaan dari seribu bulan.
Dekaplah dengan erat di sepuluh malam terakhir Ramadan, dalam zikir penuh kekhusyukan, tilawah penuh kesungguhan, qiyamullail penuh keteguhan, dan do’a penuh harapan tuk gapai kemuliaan bersama hamba-hamba-Nya yang muttaqin.
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah. Engkau mencintai ampunan, maka ampunilah aku.”

