Zakat Itu Menyucikan

Oleh: Junaidi Ana

Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

 “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43).

Zakat itu kewajiban, salah satu dari rukun Islam. Dia menumbuhkan iman, membersihkan yang tersisa, memberi senyum pada yang menerima, dan memberi keberkahan yang berlimpah pada setiap harta yang kita dapatkan.

Zakat yang menjadi kewajiban yakni zakat fitrah, yang juga akan menyempurnakan ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh. Jika zakat fitrah tidak ditunaikan bagi setiap muslim maka akan sia-sia puasaya.

Ketika berbagi itu sebuah keniscayaan, maka senyum tuk menyambut kebahagiaan itu sebuah kenikmatan. Dalam berbagi keikhlasan akan diuji, ketika memberi senyum itu diutamakan. Agar yang menerima merasa bahagia dan yang memberi merasa gembira.

Zakat hadir tuk memberi  senyum, zakat hadir tuk membersihkan harta yang tersisa, zakat hadir tuk memberi harapan, zakat hadir tuk menghadiahkan kebahagian tak bertepi pada hamba yang berzakat.

Zakat fitrah itu pemberian yang dari para muzaki dan disalurkan pada para mustahiq (penerima). Ketika yang fitri  memberi pencerahan dan jadi suluh tuk menyinari kegelapan. Mengapa masih ragu buat mengeluarkan harta yang sudah mencapai nisab tuk dizakati?

Zakat hadir jadi solusi tuk kemanusiaan. Nilai kebersamaan hadir dari memberi, ketika memberi adalah cara terbaik tuk membersihkan harta yang dimiliki. Zakat itu memberi tuk bertambah dan tetap tumbuh.

Zakat itu cinta yang terus tumbuh dan bermekar, memberi aroma yang lembut, menyejukkan hati, melegakan jiwa, dan mengobati rindu yang kan terus ada bersama dan tumbuh. Cinta itu terus tumbuh dan hadir dalam setiap momentum kehidupan. Zakat memberi harapan untuk cinta terus ada.

Zakat itu seperti air bah dari ketinggian pegunungan yang mengalir membersihkan setiap celah yang kotor dari ngalirnya. Ada riak gemuruh air antara lembut dan juga kasar. Setiap celah kan disapa, setiap ruang kan ditempati, setiap fase akan dilalui, dan setiap tangga kehidupan kan ada jejak yang ditinggal.

Berzakat bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban, namun berzakat itu membangun kepedulian terhadap sesama hamba-Nya. Peduli bukan hanya sekedar memberi harta tuk menyucikannya, tapi peduli tuk melapangkan ruang yang sempit dalam kehidupan yang hanya sesaat.

Berzakat akan menjadi suluh yang menyinari kegelapan, menembus celah tuk membiaskan cahaya penunjuk jalan menuju Allah swt kelak. Menyinari dengan lembut seperti bintang yang tersenyum di tengah gelapnya malam, seperti rembulan yang menyapa pada semesta dengan lega kala awan tak menyapa di malam yang panjang.

Zakat itu menyucikan harta yang tersisa, menyucikan jiwa, membersihkan hati yang kotor, melapangkan rezeki, menyambung silaturrahim, membangun peradaban manusia, dan menjadi perekat bagi tumbuhnya ekonomi umat.

Tebarkan zakat, raih berkahnya, tuai manfaatnya tuk sesama hingga tak ada hamba yang kelaparan, ekonomi kan berkembang dari zakat yang ditunaikan.

Scroll to Top