Perpisahan Dengan Bulan Istimewa

Oleh: Junaidi Ana

Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”

Dia datang menyapamu dengan senyum kelembutan, lalu berpamitan pulang meninggalkan kenangan. Apa kenangan yang dirasakan saat bersamanya? Dia mungkin meninggalkan rindu, rasa yang membekas saat dia mendekapmu dengan erat, cinta yang tumbuh membuatmu tak ingin melepaskan kepergiannya, atau mungkin sudah ada pahatan kasih yang terukir rapi di sudut hati yang paling dalam, dan ada hadiah istimewa yang diberikannya untuk hamba yang muttaqin.

Ketika bersamanya selalu ada riuh gemuruh yang membuncah dalam jiwa, mungkin saat bertemu jiwa sedang rapuh atau sedang dalam kondisi jauh dari-Nya, tapi saat berjumpa dengan hadirnya lalu bersua dan bercengkrama, jiwa ini mulai tumbuh benih-benih cinta yang begitu tulus dan ikhlas tuk terus bersamanya.

Berburu setiap hadiah yang dijanjikannya dengan semangat yang tak pernah padam, ingin menggapai semua tanpa jeda hingga akhir, terus merangkulnya tak ingin melepaskan walaupun sesaat. Hati makin tenang, senyum selalu merekah dalam dekapan hangat cinta-Nya.

Perjalanan bersamanya selalu penuh ujian, kadang jalannya landai dan aman tak ada duri penghalang, kadang menanjak membutuhkan energi positif yang banyak tuk melangkah, kadang hampir terseret pada kurang yang dalam saat melangkah di tepian tebing tinggi, dan kadang terlalu cepat melangkah di turunan yang begitu curam.

Semua yang dilalui bersamanya memiliki histori cinta yang tak akan lekang oleh waktu. Akan selalu tertulis rapi dalam diari putih bertintakan merah yang terus menyalakan semangat tuk tumbuh dengan kisah dan cerita yang berbeda episode kala dia kan meninggalkan rumah penuh berkah.

Begitu akhir dari perjalan bersamanya, ujian semakin bertambah, semangat saat berjumpa mulai kendor, setiap kebaikan yang menggebu di awal mulai terasa berat, ada lelah menghampiri, ada sedih menghantui, ada iri yang menggerogoti, dan ada rasa yang mungkin akan pudar.

Perpisahan dengannya terasa makin dekat, semakin sibuk tuk bersiap pulang kampung bersua bersama anak keluarga, dia menguji ketahan kita dalam beribadah, dia tidak pernah memaksa kita tuk terus bersamanya, tapi dia ingin saat bersamanya tak akan pudah oleh waktu.

Dia akan meninggalkan rindu yang berkepanjangan, kisah yang tak pernah usai oleh kata, serial cerita yang tak habis oleh lisan yang bertutur, dan episode-episode yang tak pernah habis oleh setiap drama yang dilalui.

Cinta yang dilabuhakan bersamanya pada tepian dinding hati yang begitu merekah menyinari hidup hingga berjumpa lagi kelak jika pemilik semesta menghendaki. Cinta yang tumbuh memberi pesona yang bersinar dari senyum yang begitu tulus kala dia menyapa hingga berpisah.

Ada rasa haru yang tak dapat terucapkan oleh lisan hamba-nya yang fakir akan iman juga ilmu, sedih ketika dia akan meninggalkan hamba hingga sebelas bulan yang akan datang, izinkan hamba terus berharap pada-Mu agar akan bersua bersamanya lagi kelak.

Ada harapan yang terus ada dan tak akan berakhir, ingin terus bersamanya dalam dekapan rindu, pelukan cinta, dan rasa haru yang tumbuh tak bertepi dalam jamuan istimewa bersama bulan bertabur keberkahan yang tak berkesudahan.

Ikhlaskan dia pergi tuk kembali, agar kemaafan kan ada, cinta kan hadir, rindu kan selalu tumbuh, rasa semakin dalam ingin berjumpa, dan harapan itu tak akan pernah berakhir ingin bersua.

Selamat jalan Ramadan, selamat datang Syawal. Senyum sambut hari yang Fitri, sucikan hati dari rasa iri, benci, dengki, dan semua sifat tercela. Mari saling memaafkan tuk melegakan rasa, mumupuk hati agar tetap suci dari ujian kehidupan. (*)

 

Scroll to Top