Yang Tersisa Dari Perginya Bulan Ramadan

Oleh: Junaidi Ana

Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”

 

Dia kan pamit pergi tuk kembali, sedangkan kita yang menanti belum tentu kan bersua dengannya kelak. Dia pergi meninggalkan banyak kenangan walau hanya sebulan yang sesaat saja. Perjalanan singkat yang begitu berkesan. Dia kan jadi beban bagi mereka yang merasa hadirnya mengebiri kesenangannya di siang yang penuh heroik dan malam yang penuh cerita dusta.

Dia datang bawa kado istimewa untuk ditinggalkan pada hamba-Nya yang istimewa.  Kala hadirnya memberi senyum kebahagiaan, saat pamitnya meninggalkan rindu penuh pilu. Ketika rindu kan menunggu hadirnya kelak, hingga sedih kala dia meninggalkan harapan tuk jumpa nanti.

Dia pamit pulang pada Rabb semesta alam, meninggalkan cerita tentang keberadaan dalam bercengkrama selama sebulan penuh. Ada kisah yang penuh kerinduan, ada cerita penuh semangat, ada drama yang menguras energi tuk terus bersabar menunggu senja tiba.

Berpisah dengan bulan penuh cinta-Nya, dia akan meninggalkan hamba-Nya yang sedang merantau di alam semesta yang fana ini. Hamba yang selalu rindu akan hadirnya lagi. Dia pamit pulang sejenak pada kaum muslimin dan yang ditinggal belum tentu kan berjumpa kelak dia kan bersua kembali.

Saat dia akan pergi, semua yang menyambutnya dengan suka cita akan merasa kehilangan, ada momentum yang tersisih, ada semangat yang memudar, ada risau yang tak terelakkan, ada gelisah yang bertambah, ada cinta yang kian tumbuh, dan ada rindu yang tak terbendung.

Rindu dan cinta pada bulan penuh keberkahan, dia berpamitan pada semesta yang sedang bergembira dengan kado kebahagiaan dari sang pencipta. Hamba yang muttaqin diwisuda langsung oleh Allah SWT dengan predikat cumlaude. Ada rasa haru dan bahagia yang diiringi derai airmata.

Ramadan itu cinta yang tak akan tertukar oleh kesibukan duniawi yang penuh tipu daya, dia memberi ruang pada setiap hamba-Nya tuk merebut setiap detak jantung keberkahan yang terus berdetak, setiap hembusan nafas kedamaian yang terus berhembus perlahan pada dinding hati yang tenang, merangkul pundak yang tertimpa limpahan berkah tak berkesudahan, dan diselimuti kebahagiaan yang tak bertepi.

Ramadan akan berpisah dengan hamba yang sedang mengejar pundi-pundi amal penuh keberkahan yang berlimpah, tanpa jeda, tanpa tapi, tak bertepi, hingga jadi candu tuk terus berbuat kebaikan tanpa lelah walau setan terus mengusik ditengah ibadah yang yang dijalankan.

Kala Syawal kan menyapa, nuansa romantis bersama Ramadan kan pergi, mungkin hanya tersisa kisah yang membekas pada relung hati yang dalam dan akan tenggelam oleh hadirnya bulan-bulan setelahnya.

Selamat jalan Ramadan dan selamat datang Syawal. Perginya  memberi ruang tuk merenung dan mengarungi jalan panjang tuk bersua lagi nanti. Kan ada ujian panjang yang dilalui, jalan berliku yang ditempuh, cerita yang mungkin tak akan pernah usai hingga mendekapnya lagi nanti.

Ya Allah, walaupun dia kan pergi tuk kembali, hamba berharap kan berjumpa dan bersua lagi bersamanya di sebelas bulan yang akan datang, izinkanlah hamba tuk bisa mendekapnya lebih lama dalam ujian kehidupan yang terus menerjang dari setiap sendi kehidupan yang tak pernah usai. Berkahilah puasa Ramadan hamba dengan kemurahan dan kasih sayang Mu yang penuh cinta. (*)

Scroll to Top