Ada Abu Lahab Dalam Diri Kita

Oleh: Junaidi Ana

Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”

 

تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ ۝١

 

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia.” (QS. al-Lahab: 1)

Setengah bukan berarti tak ada, kosong bukan berarti tak ada ruang. Itulah Allah, Dia selalu hadir dalam setiap detak jantung dan desah nafas. Mengawasi tanpa menakuti, apalagi mengintimidasi. Tapi Allah hadir memberi ruang pada hamba-Nya untuk terus bergerak dan menjeda ketika Dia menyapa memanggil dalam lantunan kalimat yang syahdu.

Ruang yang ada selalu terisi walau tak ada. Terlihat bukan berarti akan memaksa kita untuk berhenti, tapi ketika ruang itu mulai kosong, ada riak yang tak nampak memberi bisik tuk bergerak. Itulah bias ujian yang dihadirkan pada ruang kosong untuk menjeda kita dalam hening.

Ketika sapa yang tak berucap memberikan rasa tenang dalam bisik, maka hamparkan sajadah tuk bersujud pada-Nya dalam ruang yang remang, di sanalah kita akan melantunkan doa dalam bisik penuh harap, menyapa dalam diam penuh kasih, mendekap erat dalam pelukan cinta-Nya.

Ruang itu akan terdengar dalam bisik, tapi tak ada tawa yang memecah dalam hening. Hanya ada gerak yang memberi jiwa terus ada dalam genggaman cinta-Nya, hati dalam ruh kasih-Nya, jasad dalam balutan rindu akan perjumpaan dengan-Nya dalam lantunan doa penuh harap.

Menepilah ketika gemuruh itu mengusik tenang, memberi jeda pada riak yang terus hadir ketika damai terus diusik, biarkan teriakan itu terus menggema dalam ruang yang penuh, tapi bisik akan terus hadir dalam gemuruh. Karena hanya bisik yang dapat meredam teriakan riuh dalam ramai.

Ketika Muhammad SAW., sang legenda akhir zaman menyeru pada kaum Quraisy dari sukunya untuk menyembah Allah SWT., dengan seruan sederhana menenangkan jiwa, tapi ada teriakan yang mengusik di tengah ajakan penuh cinta dari kekasih-Nya.

Abu Lahab, sang paman yang mendapat gelar yang berwajah penuh cahaya dari kabilah Quraisy. Dia selalu menentang dakwah sang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan terus memprovoksi orang-orang Arab untuk terus menolak dan membenci sang Nabi, begitu pun istrinya yang terus menyebarkan berita bohong dan juga menjadi suluh tuk membakar amarah orang Makkah untuk memberi sang legenda.

Ketika Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam berseru “Wahai kaumku, Bagaimana menurut kalian jika aku beritahu kalian bahwa musuh akan menyerang kalian di pagi atau sore hari , apakah kalian mempercayaiku?”, ya, jawab mereka. Beliau bersabda “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan akan azab yang sangat pedih.”

Lalu Abu Lahab berkata: “Apakah untuk ini engkau mengumpulkan kami? Kebinasanlah bagimu.” Lalu Allah Swt., berfirman dalam surah Al Lahab:“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.”  Allah dengan tegas menjawab umpatan Abu Lahab kepada Rasulullah dengan janji indah yang penuh siksaan kelak.

Abu Lahab juga istrinya adalah dua pasangan yang selalu menyebar fitnah, adu domba, dan menghasut orang Quraisy Makkah untuk membenci Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sifat ini terus dikobarkan dan pada akhir ayat surah Al Lahab Allah Swt., sampaikan bahwa istrinya akan membawa api yang dililit di lehernya.

Fenomena hari ini, Abu Lahab dan istrinya versi modern sungguh banyak berseliweran dimana-mana. Di dunia nyata juga dunia maya sebagain orang dan lebih banyak terus memunculkan ujaran kebencian antar sesama walau tak pernah bertemu dengan hal sepele. Orang sudah tak pernah punya rasa empati pada sesama.

Ada yang tidak suka dengan pencapaian orang lain dan menyebarkan fitnah dan mengadu domba antar sesama, menanam kebencian yang mendarah daging, apakah kita tidak takut akan menjadi Abu Lahab dan istrinya versi modern? Siksaan Abu Lahab dan istrinya maulah dititipkan pada kita juga? Ada Abu Lahab dan Istrinya versi Modern di sekeliling kita bahkan mungkin dalam diri kita.

Kebencian terhadap orang lain, akan terus berulang dan terus mengakar memberi peluang akan menjamurnya kemunafikan dalam diri. Kebencian selamanya akan memberi dampak buruk dalam hidup. Abu Lahab, dia itu bukan orang yang bodoh, tapi orang yang tergolong cerdas dan berwajah yang rupawan. Tapi, wajah yang rupawan dan cerdas tidak menjamin seseorang itu akan berperilaku baik juga. Karakter seseorang itu akan tumbuh dan lahir dalam hati dan jiwa yang bersih.

Dalam tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab menuturkan kembali ungkapan ulama Mesir kontemporer, Mutawalli Asy-Sya’rawi dengan semacam sebuah kaidah “Bila Al-Qur’an menunjuk seseorang dalam salah satu kisahnya dengan nama aslinya, itu mengisyaratkan bahwa hal serupa tidak akan terjadi lagi, tetapi bila menyebut gelarnya -seperti Fir’aun- itu mengisyaratkan bahwa kasus serupa akan dapat terulang kapan dan dimana saja.

Hal ini menunjukkan bahwa Abu Lahab-Abu Lahab versi modern dapat muncul kapan pun, di mana pun dan dalam kondisi apa pun. Karakter yang dimiliki oleh Abu Lahab dan istrinya itu merupakan karakter tercela yang mendarah daging dan selalu memicu permusuhan diantara sesama manusia di atas bumi yang fana ini.

Siapa yang menjamin bahwa kita tidak pernah membenci orang lain dan tidak dibenci orang lain? Hidup ini mengajarkan kita untuk terus berbenah, memperbaiki diri dan juga siap menerima teguran dan juga nasehat orang lain. Sifat yang dimiliki oleh Abu Lahab dan Istrinya adalah tidak ingin menerima nasehat kebaikan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang merupakan keluarga sendiri. Apakah Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam, marah? TIDAK.

Mari selalu jaga lisan dalam bertutur, tingkah yang terus berubah, dan pandangan yang mungkin salah pada sesama. Terus jaga silaturahmi dengan sesama dan terus perbaiki diri dari sifat tercela. Jangan biarkan sifat Abu Lahab dan istrinya bersemayam dalam diri kita. Teruslah beristigfar ketika lintasan sifat tercela itu muncul dalam pikir dan perbuatan. Kerena di setiap tapak langkah kita akan selalu terseret oleh dua sifat yang terus bertarung hingga ajal menjemput. Hidup itu pilihan antara husnul khatimah atau su’ul khatimah. Tinggal pilih mau ikut sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, atau sifat Abu Lahab dan Istrinya. Teruslah berbuat baik walau hanya dengan seulas senyum. (*)

Scroll to Top