Apa yang Tersisa dari Maulid-Rabiul Awal?

Oleh: Iwan Wahyudi

Penulis Buku “Hidup adalah Catatan”

 

Hari ini terakhir bulan Rabiul Awal, bulan Maulid. Bulan kelahiran Nabi Muhammad saw.

Sebagian besar memperingati pada tanggal 12 Rabiul Awal sebagaimana waktu kelahiran nabi akhir zaman tersebut. Dan di Indonesia tanggal itut berwarna merah alias libur nasional.

Dibeberapa tempat ada yang memperingati hingga akhir bulan Rabiul Awal. Ada sebagian juga yang memulai di awal bulan, 1 Rabiul Awal. Ada yang sehari, setengah bulan, dan sebulan penuh.

Terlepas dari durasi peringatan, terpenting bagaimana memaknainya. Mengenal kembali dan menambah kenal pada sosok Nabi Muhammad saw.. Kemudian meneladaninya dalam kehidupan.

Mengenal Nabi Muhammad saw. bisa dari beragam cara. Membaca buku, mendengar ceramah, hingga menonton. Baik secara manual sampai digital. Zaman now begini bisa menyesuaikan dengan selera dan mood.

Setelah mengenal, pasti muncul pemahaman kemudian berusaha meneladani. Mulai dari yang wajib dilakukan seorang muslim, lalu dari yang bisa amalkan dalam keseharian. Terus bertahap dan bertambah sepanjang waktu.

Maknai Rabiul Awal sebagai bulan refleksi diri. Mengukur kembali jarak kita dengan baginda Nabi dalam hal melaksanakan sunnahnya. Kian dekat atau malahan tambah jauh. Terus bertambah atau makin terkikis oleh waktu.

Mengisi ulang daya spirit dan motivasi agar menyala besar senter keteladanan sang Al-Amin pada perilaku. Bertambah daya tahan melawan godaan yang melenakan dan berkunjung maksiat hingga berbuah dosa.

“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm)

Hadis di atas sangat populer dan akrab bagi kita dalam bentuk bacaan dan ucapan. Naikan sedikit levelnya pada perbuatan dan tindakan.

Rabiul Awal yang di dalamnya ada kelahiran Rasulullah Muhammad saw. tak boleh kerdil hanya sebagai hari libur saja, jangan tersisa sebatas kisah kelahiran Rasulullah saw. Ia harus lebih dalam dan luas lagi. Memetik maknanya sebagai bekal berharga dalam kehidupan. Menarik kemuliaan sirahnya ke waktu dan zaman sekarang sebagai tuntunan peradaban.

Semoga Rabiul Awal tahun ini menjadi titik tolak meninggalkan keburukan dan batu loncatan meraih lebih banyak lagi kebaikan. (*)

Scroll to Top