
Oleh: Iwan Wahyudi
Penulis Buku “Energi Ramadan”
Ramadan bulan bertabur kebaikan, melimpah kemuliaan, berserak pahala dan kebahagiaan. Satu waktu yang paling ditunggu oleh mereka yang berpuasa, yang paling dinantikan setelah menahan lapar dan dahaga seharian, berbuka puasa. Saat azan magrib tanda berakhirnya puasa hari itu, rasa bahagia tak terkira. Melepas rasa haus dan lapar yang begitu membahagiakan itu tergambar sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Umar ra,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: ‘Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud)
Kebahagiaan melepas lapar dan dahaga
Kenangan masa kecil saat pertama kali dapat meraih puasa penuh seharian menjadi gambaran rasa bahagia bertemu waktu berbuka. Seharian menahan apa yang pada hari biasa dihalalkan. Godaan dahaga yang bisa saja “mencuri” teguk disela berkumur waktu berwudhu. Perut keroncongan yang bisa saja merengek minta permakluman orangtua untuk bisa berbuka setengah hari. Semua sirna dengan satu tanda beduk magrib.
Hal ini menjadi kebahagiaan pertama yang dirasakan oleh mereka yang berpuasa.
“Bagi orang yang berpuasa akan merasakan dua kebahagiaan: (1) kebahagiaan ketika berbuka, dan (2) kebahagiaan ketika berjumpa dengan Allah.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan menganjurkan agar kita bersegera dalam berbuka sebagai bentuk menyambut rahmat Allah:
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim).
Kebahagiaan Ketika Berjumpa Dengan Allah
Sebagaimana hadis riwayat Muslim di atas kebahagiaan yang kedua bagi mereka yang berbuka puasa ialah janji berjumpa dengan Rabb sekalian alam di akhirat kelak. Hal itu karena puasa adalah ibadah rahasia yang hanya diketahui oleh hamba dan Allah swt. Sehingga penilaian dan imbalan penghargaan langsung dari-Nya.“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kebehagiaan Ketika Berdoa Diwaktu Mustajab
Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya doa. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Kadang sebagian besar kita luput berdoa karena fokus pada menikmati menu berbuka puasa. Padahal ini waktu spesial yang diperuntukan oleh-Nya bagi para pejuang menahan lapar, dahaga dan mengendalikan hawa nafsu sepanjang hari.
Manfaatkan moment tersebut untuk berdoa kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya doa, jangan lalai dari detik-detik berharga ini. Saat berbuka adalah terijabahnya pinta karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.
Kemuliaan Ramadan membawa kebahagiaan pada mereka yang berpuasa, maka jangan lewatkan sesaat pun hadiah-hadiah kebahagiaan istimewa yang disediakan oleh-Nya.(*)

