
Oleh: Iwan Wahyudi
Penulis Buku “Energi Ramadan”
Setiap Ramadan salah satu hal yang selalu terulang ialah membeli banyak makanan untuk berbuka puasa yang di dorong oleh hawa nafsu rasa lapar, namun pada saat berbuka tidak dapat dihabiskan hingga tersia-siakan.
Mubazir atau dalam bahasa Indonesia sehari-hari kita kenal dengan boros dapat diartikan dengan menyia-nyiakan atau membuang-buang harta atau benda pada hal-hal yang tidak berguna. Sehingga manfaat yang semestinya untuk manusia terbuang dengan begitu saja.
Suatu waktu ketika acara buka puasa bersama, saya pernah mengambil porsi makanan terlalu bernafsu. Khilaf dari apa yang sudah dipesankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang proporsi perut untuk makanan.
Dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada tempat yang lebih jelek daripada memenuhi perut keturunan Adam. Cukup keturunan Adam mengonsumsi yang dapat menegakkan tulangnya. Kalau memang menjadi suatu keharusan untuk diisi, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah)
Piring masih tersisa seperlima porsi, saya sudah kekenyangan. Kemudian seorang ustadz disebelah berkata dengan nada menegur sebenarnya, “Ayo habiskan, siapa suruh tadi ambil banyak hingga tidak sanggup dihabiskan. Di sini tidak ada yang bersaudara dengan setan yang pada bulan Ramadan sedang dibelenggu.”
Mau tidak mau saya harus pelan-pelan menghabiskannya. Hal ini kemudian menjadi pelajaran berharga yang melekat bagi saya dalam mengukur isi piring dengan kemampuan ruang perut untuk dipenuhi.
Kita juga bisa berkaca dengan hal sederhana, seberapa sering kita meminum air mineral kemasan baik gelas maupun botol, tapi tak habis dan sisanya dibuang begitu saja? Ini mungkin luput dari perhatian, tapi menunjukan bahwa boros sudah akrab dengan keseharian kita.
Beberapa faktor yang mendorong manusia berperilaku boros diantaranya karena ketidakpedulian, ketidaktahuan/kebodohan, terjebak gaya hidup (suka meniru) hingga budaya atau ideologi yang melandasi.
Ramadan sesungguhnya hadir untuk mendidik orang beriman memerangi sifat boros. Sifat boros berawal dari hawa nafsu yang tak terkendali. Bukankah puasa mengajarkan kita semua untuk tidak hanya menahan lapar dan dahaga? namun satu paket dengan hawa nafsu.
Secara logika dan hitungan matematika selama bulan Ramadan mereka yang berpuasa hanya makan dua kali sehari, pada saat sahur dan berbuka puasa. Artinya ada penghematan anggaran satu kali makan dibandingkan jatah normal tiga kali sehari. Namun, realitas kebanyakan yang dirasakan dan dijumpai di tengah-tengah umat, pengeluaran konsumtif selama puasa Ramadan menunjukan angka statistik meningkat dibanding di luar Ramadan. Fakta ini berbicara bahwa kita masih berperilaku boros.
Pemborosan dewasa ini bukan hanya terkait kebutuhan personal, tapi telah menjadi wabah dalam tata kelola negeri ini. Hal itu diungkapkan sendiri oleh Presiden Prabowo (16/2/2025) setahun silam. Bahwa pada putaran pertama program efisiensinya telah berhasil melakukan pemangkasan anggaran senilai Rp.300 triliun sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) 1/2025. Artinya selama ini ada pemborosan.
“Sesunguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. “ (QS. al-Israa’: 27)
Saat Ramadan menjadi bulan tarbiyah/pendidikan, mari didik diri agar tidak boros. Ketika Ramadan menjadi perisai/benteng, ayo bentengi diri dari hawa nafsu berlebihan (boros) pada urusan perut, kehidupan sehari-hari hingga berbangsa dan juga bernegara. (*)

