Sahur Terakhir Soekarno Hatta

Oleh: Iwan Wahyudi

Penulis Buku “Energi Ramadan”

Jarum jam menunjukan lewat pukul 04.00, Subuh 9 Ramadan 1364 H. Tak terasa lembaran hari Jumat sudah mulai ditapaki. Dari salah satu ruangan yang sejak semalam diisi oleh tiga orang untuk menyelesaikan pekerjaan lemburnya, keluar satu demi satu menuju dapur mengambil makanan untuk sahur dengan menu seadanya yang disiapkan para asisten rumah tangga pemilik rumah. Menu sahur tanpa nasi, hanya ikan sarden, telur dan roti.

Sahur terakhir dengan status negeri jajahan yang disandang 350 tahun, karena mulai pagi nanti 17 Agustus 1945 status merdeka akan menjadi nyata bagi seluruh bangsa Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bersama di sebuah ruangan salah satu sudut rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda itu,  Soekarno, Mohammad Hatta dan Achmad Soebardjo berpikir keras dan bersilang pendapat merumuskan naskah proklamasi. Sementara di ruang tamu para pemuda lain menunggu teks proklamasi diselesaikan.

Mereka bertiga berbagi tugas. Soekarno merumusan teks proklamasi sekaligus sebagai penulis teks itu. Mohammad Hatta mengusulkan paragraf kedua dalam teks proklamasi. Sedangkan Ahmad Soebardjo mengusulkan paragraf pertama kedua dalam teks proklamasi.

Hal itu di abadikan oleh Rosihan Anwar dalam ‘Sutan Sjahrir : True Democrat, Fighter for Humanity 1909-1966’, “ Lewat pukul 04.00 subuh, perumusan naskah proklamasi rampung. Soekarno melangkah keluar setelah mengambil makanan di dapur untuk sahur. Hatta menyusul, seusai membuka sekaleng ikan sarden dan mencampurnya dengan telur”.

Sahur yang sangat bersejarah. Dengan menu seadanya, menunaikan kewajiban berpuasa esok. Puasa yang dicatat dengan tinta emas oleh bangsa Indonesia sebagai hari proklamasi kemerdekaannya. Sahur yang saling berlomba dengan jarum jam, tak melepaskan celah sejarah kekosongan kekuasaan Jepang yang kalah oleh sekutu dalam Perang Dunia II, agar tidak kehilangan momentum menjadi manusia merdeka dan bersama-sama memulai sebuah negeri impian bernama Indonesia.

Usai konsep teks selesai disepakati, muncul permasalahan siapa yang harus menandatanganinya, apakah semua 40 orang yang hadir diruangan tersebut? Soekarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu cukup Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia, dan disetujui  oleh yang lainnya. Sayuti Melik lalu menyalin dan mengetik naskah tersebut, menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan Angkatan Laut Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.

Ramadan yang bertepatan dengan bulan Agustus 1945 itu begitu indah dan sangat bersejarah sekali bagi bangsa Indonesia kemudian. Para pendiri bangsa di tengah bulan Ramadan dan sehari sebelumnya “diculik” oleh para pemuda ke Rengasdengklok. Dengan istirahat yang sangat kurang tentunya, dapat mengisi Ramadan dengan warisan karya yang luar biasa bagi generasi selanjutnya.

Ramadan bukan alasan untuk menurunkan tensi aktivitas dan dispensasi menghasilkan amal dan kemanfaatan. Mungkin karya kita tak sebesar para pendiri bangsa. Namun, setiap Ramadan jadikan waktu untuk menulis sejarah minimal bagi diri sendiri. (*)

Scroll to Top