
Oleh Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ramadan itu ibadah yang istimewa. Ibadah yang hadir dalam setahun sekali, namun ada semalam yang istimewa dari seribu bulan. Ketika sesuatu yang istimewa dan yang menjamin adalah sang pencipta, dan tak ada keraguan sedikitpun dari hal ini.
Ibadah puasa mengajarkan kita tentang ketulusan dalam beramal. Ada pengorbanan yang selalu beriringan dengan janji yang tak pernah usai dari pemilik semesta. Berkorban untuk menahan lapar dan dahaga di siang hari adalah pekerjaan yang hanya ada pada orang yang tulus dalam menjalankannya.
Mungkin ada diantara hamba-Nya yang bagun sahur bersama sanak famili, tapi ketika melintasi jalan dan terjebak pada nafsu duniawi, akhirnya menyantap hidangan di warung yang sedang menghidangkan masakan kesukaannya. Kita mungkin bisa berbohong pada manusia, tapi tidak pada Allah SWT.
Ujian ketulusan dalam menjalankan ibadah puasa itu saat dalam kesendirian bukan pada saat ramai. Inilah ujian sesungguhnya yang sedang kita hadapi dalam menjalankan ibadah puasa. Antara ketulusan dan keikhlasan diuji ketika sepi menghampiri alam kesendirian.
Puasa itu ujian ketulusan, pembelajaran tentang keikhlasan, dan pembuktian tentang kejujuran. Ketika ketulusan diuji dalam kesendirian, maka keikhlasan menyapa dalam kesibukan, dan kejujuran diuji dalam kebersamaan.
Ramadan hadir menguji ketulusan ayah, ibu, dan semua keluarga tentang pengorbanan. Waktu akan menguji kita dalam bentuk kebersamaan saat sahur dan berbuka. Dalam kesibukan keluarga akan diuji tentang pengorbanan dan cinta. Waktu akan menguji kita tentang keikhlasan dalam pengorbanan tanpa tapi yang tak bertepi pada keluarga.
Ramadan antara ketulusan dan pengorbanan memberi jeda pada kita untuk belajar pada kisah yang kita sutradarai sendiri dengan drama panjang dari fajar menyingsing hingga senja menyapa ketika kita berbuka dengan seteguk air dan sebiji kurma untuk menghilangkan dahaga dan lapar.
Ketulusan mungkin akan menerbitkan senyum tapi akan mnguji keikhlasan ketika pengorbanan memberi disaat sempit menghampiri dalam riak maupun diam. Teruslah berbagi hingga jadi candu kebaikan yang tak mengenal antara lapang dan sempit ketika memberi.
Ramadan itu cinta yang mengajarkan kita tentang ketulusan memberi dengan pengorbanan penuh keikhlasan tanpa jeda. Karena setiap kebaikan dan puasa itu hanya untuk Allah sang pencipta. (*)

