
Oleh Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
Bulan Ramadan sudah masuk di fase kedua penempaan diri. Ujian di fase ini sudah mulai nampak terlihat dari antusiasme hamba-Nya memenuhi shaf masjid begitu istimewa, hanya mereka yang memiliki kesadaran penuh yang akan terus bertahan dalam gempuran ujian tanpa henti untuk hadir dalam sapa sang pencipta.
Pada tangga ini kaki yang menapak semakin teruji dengan rasa kantuk dan lelah yang bertambah. Ketika para pendaki gunung Semeru yang begitu semangat ingin mencapai puncak dan berteriak lantang menyuarakan kemenangan yang istimewa, bukan berarti para pendaki tidak menemukan tantangan, bisa jadi saat berada di tengah pendakian ada ujian menyapa dengan lelah antara terus melangkah maju atau mundur kembali. Itulah ujian puasa Ramadan dari-Nya.
Saat ini, di fase ini shaf masjid semakin maju dengan semangat yang berbeda. Pada fase pertama masjid terasa begitu kecil, bagian dalam hingga teras dan halaman pun penuh dengan hamba-hamba-Nya yang memiliki antusiasme memenuhi panggilan kasih dari-Nya. Tapi dari fase kedua ini jauh berbeda. Shaf makin maju dan masjid mulai sepi. Apakah hamba-hamba-Nya terlalu kenyang ketika berbuka, ataukah sudah mulai berburu oleh-oleh pulang kampung?
Fase ini juga Allah SWT menguji ketulusan hamba-Nya dalam beribadah tanpa henti, walaupun bulan ini setan dibelenggu, tapi bukan berarti hamba-Nya bebas berbuat sesuka hati, tapi ada jeda tuk selalu mawas diri dalam menapaki fase kedua yang semakin diuji ketulusan kita dalam beribadah kepada pemilik semesta.
Ramadan itu istimewa dan hanya untuk hamba-hamba-Nya yang terpilih dan pilihan. Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 183 memberi penenakan hanya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Tidak semua makhluk ciptaan-Nya beriman dan akan mendapatkan gelar takwa. Itulah istimewanya bulan Ramadan.
Ketika gelar istimewa yang Allah berikan kepada hamba yang muttaqin, tidak serta merta gelar itu disemat, masih panjang perjalan menuju tempat terbaik yang Allah sediakan bagi hamba-hamba-Nya kelak. Maka Allah menyampaikan pesan kasih dari-Nya, Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?
Ujian bulan Ramadan bukan pada fase awal tapi mulai teruji di fase kedua. Ketika fase ini kita mampu menghadapinya dengan tenang, maka Allah akan meningkatkan ujiannya di fase ketiga. Dengan tingkat ujian yang berbeda.
Bulan Ramadan adalah bulan penempaan diri dan mengembangkan potensi diri yang langsung dibimbing oleh Allah SWT. Allah mengajarkan kita tentang menahan diri utk makan di siang hari dengan puasa, walaupun semua makanan yang dihalalkan dapat disantap, namun keikhlasan, kesabaran, keteguhan hati, ketenangan jiwa dan pengorbanan dilatih untuk menahan diri agar tetap. Taat pada Allah dalam keadaan apa pun.
Ketakwaan adalah gelar istimewa dari Allah pada mereka yang tulus dan ikhlas dalam beribadah penuh penghayatan di bulan Ramadan hingga akhir di hari yang fitrah, sabar menempa diri dari ujian makan dan minum di siang hari dengan fokus beribadah pada-Nya , jujur pada diri sendiri dan selalu dalam pengawasan Allah dalam keadaan sendiri atau ramai di bulan puasa Ramadan penuh berkah, disiplin dalam menjalan ibdah puasa tanpa meninggalkan celah sehari pun, dan amanah dalam menjalan perintah Allah dan Rasul-Nya di bulan suci Ramadan yang penuh ampunan.
Bulan Ramadan itu punya pesona yang menggoda, dapat menarik orang dari semua lapisan hadir dalam sapa sang pencipta di fase pertama, tapi di fase kedua semua mulai teruji untuk bertahan atau tersingkir. Apakah kuat akan menjadi yang bertahan atau tersingkir? Hanya kita sendiri yang tahu dimana posisi yang pasti.
Teruslah memupuk diri dengan selalu menjaga kualitas nilai ibadah di bulan Ramadan yang hanya sekali dalam setahun yang mungkin ini adalah hadiah Ramadan terakhir dari-Nya untuk kita. Manfaatkan semaksimal mungkin sebelum dia beranjak meninggalkan kita.
Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan di fase kedua ini, semoga di tangga ini kita sukses berpijak hingga memasuki fase ketiga dengan predikat istimewa dari-Nya. (*)

