Puasa Perang Jawa

Oleh: Iwan Wahyudi

Penulis Buku “Energi Ramadan”

Di antara panggilan keimanan ialah meninggalkan hal terkait dunia ketika panggilan-Nya menggema. Namun, banyak diantara kita yang menjadikan hal sepele terkait urusan dunia sebagai alasan melalaikan perintahNya.

Perang Jawa antara tahun 1825-1830 antara Belanda dan Pangeran Diponegoro menjadi salah satu medan yang menakutkan bagi penjajah. Selain waktu yang lama dan membuat tentara frustasi, tentu biaya perang yang dikeluarkan tidak sedikit.

Dampak dari perang ini finansial Belanda dilanda kerugian hingga sebesar 20 juta gulden, sebuah angka yang fantastis dan tidak sedikit. Jika dikonversi 1 gulden setara dengan harga 1 gram emas. Saat itu total pendapatan Pemerintahan Hindia Belanda pertahun hanya 2 juta gulden. Maka perang Diponegoro menghabiskan 10 tahun APBN Hindia Belanda dalam 5 tahun saja. Dahsyat sekali

Empat hari sebelum masuki bulan Ramadan Pengeran Diponegoro tiba di Menoreh sebuah pegunungan berbatasan Bagelen dan Kedu dengan 700 orang prajurit kemudian bergabung yang lain sehingga menjadi 800 prajurit. Sesuai kesepakatan dengan utusan Gubernur Jenderal Belanda Hendrik Merkus Baron de Kock bernama Jan Baptist Cleerens bahwa selama puasa tidak ada pembicaraan apa pun terkait perang atau diadakan gencatan senjata.

Pangeran Diponegoro yang oleh rakyat diberi gelar Soeltan Abdoel Hamid Eroetjakra Moekminin, Sjaijjidin Panatagama, Chalifah Rasoeloellah ing Tanah Djawa dan pasukannya fokus dengan ibadah dan berlatih kanuragan mengisi waktu libur perang Jawa tersebut. Walau demikian, liciknya Belanda terjadi dengan menangkap pangeran Diponegoro dihari kedua lebaran tanggal 28 Maret 1830.

Dari Pangeran Diponegoro dan perang Jawa kita dapat belajar beberapa hal. Pertama, tak ada alasan kendor ibadah Ramadan. Aktivitas keseharian dan rutinitas hari-hari kita tak ada yang lebih genting dari perang. Bahkan dibeberapa tempat ada kelonggaran jam kerja saat bulan Ramadan. Artinya kondisi normal dan kondusif untuk melakukan sebanyak mungkin ibadah di bulan mulia ini. Pangeran Diponegoro dan pasukannya dalam kondisi rumitnya perang masih bisa berlomba dalam amal kebaikan Ramadan. Penduduk Ghaza, Palestina yang sampai hari ini dalam status gencatan senjata, namun masih tetap di bombardir oleh Israel didukung Amerika, masih mampu menunaikan ibadah Ramadan. Kenapa kita berlomba mencari alasan untuk tidak berbuat kebaikan?

Kedua, menyiasati urusan dunia untuk akhirat. Pangeran Diponegoro mampu membuat kesepakatan jeda perang selama puasa Ramadan dengan Gubernur Jenderal Belanda. Berbeda jauh dengan kita menyiasati urusan akhirat dengan kesibukan duniawi, apalagi bagi mereka yang memiliki posisi pengambil kebijakan. Dengan kekuasaannya bisa “memaksa” dan mengatur orang banyak untuk patuh berbuat kebaikan secara massal dan masif.

Ketiga, selama bersama Allah, tak akan pernah kecewa. Diukur dari kekuatan antara Belanda dan Pangeran Diponegoro, tentu pasukannya jauh tak berimbang. Belanda berada di atas angin. Tapi, di lapangan Belanda sangat kewalahan. Rahasianya apa? Pangeran Diponegoro dan pasukannya memiliki keyakinan bahwa perang ini salah satunya sebagai jihad di jalan-Nya. Dalam setiap aktivitas kehidupan, baik rutinitas kerja atau bermasyarakat, selalu niatkan karena Allah, bersama Allah dan untuk Allah semata. Insya Allah tak akan mengecewakan.

Ramadan sudah mencapai pertengahan, tinggal separuh bulan suci ini membersamai umat Islam seluruh dunia. Jangan kendor beramal, tak boleh kalah ibadah dengan rutinitas, dan selalu sertakan Allah dalam setiap aktivitas. Jika kita tak melihat Allah, yakin Allah Maha Melihat dan sebaik-baik pemberi balasan. (*)

Keterangan Gambar: Lukisan potret Pangeran Diponegoro karya A.J. Bik, 1830. Foto: geheugenvannederland.nl.

Scroll to Top