Menabung Doa

Oleh: Iwan Wahyudi

Penulis Buku “Energi Ramadan”

 

“Apabila hamba-Ku meminta kepada-Ku, sesungguhnya Aku dekat. Kukabulkan permintaannya apabila dia meminta kepada-Ku. Maka penuhilah perintah-Ku, berimanlah kepada-Ku…” (QS. al-Baqarah: 186)

Doa bagi kita bukan sekedar sebagai sebuah ibadah semata, tapi ia adalah kebutuhan. Meminta dan berharap tentunya didasari oleh sebuah kebutuhan dan keperluan. Kita sadar sesadar-sadarnya tidak dapat hidup seorang diri, bahkan sebagai orang yang beriman tentu tak mungkin hidup tanpa membutuhkan Allah Sang Pencipta yang menopangnya. Tetapi istimewanya terkait doa ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengatakan “Barang siapa yang tidak meminta kepadaAllah, maka Allah akan murka kepadanya” (HR. Ibnu Majah).

Begitulah Islam menempatkan agar umatnya selalu sadar untuk bergantung hanya pada Allah semata. Begitulah cara Islam membangkitkan selalu rasa optimisme diri pada orang yang berdoa, bahwa setiap doa pasti dikabulkan-Nya. Cepat atau lambat, sebagian atau keseluruhannya, hari ini atau esok. Semua hak prerogatif Allah yang lebih tahu ditempat, waktu dan kondisi seperti apa doa itu paling tepat dan baik dikabulkan untuk seorang hamba. Tugas kita berdoa dan terus menabung harap dan pinta tanpa lelah dan jera.

Dari ayat diawal setidaknya ada tiga hal yang harus digaris bawahi: Pertama, Allah itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi manusia. Kedua, Allah pasti mengabulkan permintaan hamba-Nya. Ketiga, kewajiban untuk memenuhi dan menunaikan perintah dan beriman kepada-Nya sebagai syarat mutlak terpenuhinya doa.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H dalam Tafsir as-Sa’di nya menguraikan perihal kedekatan Allah dan doa pada ayat di atas sebagai berikut:

Kedekatan dari Allah dua macam; kedekatan dengan ilmuNya dari setiap makhlukNya, dan kedekatan dari orang-orang yang beribadah kepadaNya dan orang yang berdoa kepadanya dengan mengabulkan doa, menolong, dan memberi Taufik.

Barang siapa yang berdoa kepada rabbnya dengan hati yang hadir dan doa yang disyariatkan, lalu tidak ada suatu hal yang menghalanginya dari terkabulnya doa, seperti makanan haram dan sebagainya, maka sesungguhnya Allah telah menjadikan baginya doa yang terkabul, khususnya bila dia mengerjakan sebab sebab terkabulnya doa, yaitu kepasrahan kepada Allah dengan ketaatan kepada perintah perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, baik dalam perkataan maupun perbuatan, beriman kepadaNya yang mengharuskan timbulnya penerimaan tersebut.

Ibrahim bin Adham rahimahullah ketika ditanya “Mengapa kita berdoa tapi tidak dikabulkan Allah?”. Maka dijawabnya “Karena kalian mengenal Allah tetapi kalian tidak mentaati-Nya. Karena kalian mengenal Rasulullah, tapi kalian tidak mengikuti Sunnahnya. Karena kalian mengenal Al-Qur’an tapi kalian tidak praktikkan isinya. Karena kalian memakan nikmat Allah, tetapi kalian tidak menunaikan syukur atasnya. Karena kalian mengetahui surga tapi kalian tidak memburunya. Karena kalian mengetahui neraka, tapi kalian tidak mau menjauhinya. Dan karena kalian sibuk dengan aib orang lain dan meninggalkan aib kalian sendiri.”

Saudaraku, Doa juga memiliki waktu-waktunya, waktu yang merupakan saat mustajab untuk dikabulkan. Doa dan puasa, dua ibadah yang sangat erat seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamTiga kelompok manusia yang tidak ditolak permohonan mereka: Orang yang sedang berpuasa, pemimpin yang adil dan doa orang yang terzalimi” (HR. Turmudzi)

Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab Shahih-nya, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa adalah senjata kaum mukminin dan merupakan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.”

Bila doa itu senjata, maka hendaklah menyiapkannya sejak sekarang. Menempa, membentuk dan mengasahnya agar tajam. Saat ia kita butuhkan entah kapan waktu yang tepat menurut-Nya dikabulkan, sudah siap dan memakainya dengan seksama.

Hari-hari ini, waktu-waktu untuk mustajab berdoa itu begitu panjang, karena kita semua sedang berpuasa Ramadan dibulan yang menjadi penghulu bulan lainnya dengan membawa berjuta kemuliaan. Mari jangan kering lisan ini berdoa, jangan jeda hati ini berharap dan jangan jera jiwa ini untuk selalu meminta pada-Nya, menabung untaian doa-doa agar dapat dikabulkan-Nya pada waktu yang tepat nantinya.(*)

Scroll to Top