
Oleh: Iwan Wahyudi
Penulis Buku “Energi Ramadan”
Ramadan sudah memasuki setengah bagian akhirnya. Saat awal dan pertengahan ini bisa dilihat perbandingannya. Ada semangat yang mulai mengendor, tilawah harian kurang halamannya, bangun sahur ngantuk-ngantukan, shaf salat tarawih mulai berkurang, dan ibadah lain yang turun gairahnya.
Setiap proses merupakan seleksi yang terjadi sedemikian rupa. Mereka dengan kualifikasi terus menurun, akan memetik buah yang kurang manisnya. Siapa yang terus bertahan sampai titik akhir, merekalah yang lulus penempaan dengan penuh kebahagiaan dan hasil maksimal.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 2-3)
Kita tentu pernah melihat bagaimana para pengrajin senjata tajam menempa besi atau baja sehingga menjadi senjata atau pisau dapur terbaik. Bahan baku berupa lempeng baja awalnya dipanaskan hingga merah membara agar mudah dibentuk. Dalam keadaan masih berwarna merah tersebut lalu ditempa dengan pukulan palu berkali-kali dengan kekuatan penuh hingga berbentuk sesuai yang diinginkan.
Proses manis, asam dan pahitnya kehidupan merupakan sebuah perjalanan penempaan dan pembentukan manusia hingga menjadi lebih matang dan dewasa.
Begitu pula halnya dengan Ramadan, merupakan bulan penempaan (tarbiyah) bagi kaum muslimin. Menurut Sayyid Quthb penulis tafsir Fii Zilalil Qur’an ada tiga aspek yang ditempa Ramadan yaitu :
Penempaan Kemauan (Tarbiyah Iradiyah)
Penempaan kemauan dalam hal ini bagaimana membentuk, menata dan menjaga kemauan agar tetap bersama diri kita. Kemauan bisa berupa sesuatu kebaikan atau amal agar tetap kemudian menjadi karakter pasca Ramadan. Atau ia berupa penempaan kemauan meninggalkan kebiasaan yang tidak bermanfaat yang selama ini sudah menjadi hal melekat dalam diri walau kita menyadari itu menggerogoti. Kemauan dan tekad biasanya akan kuat diawal dan lambat laun akan melemah dan bisa jadi memudar, sehingga harus ditempa agar tetap berkesinambungan sepanjang hayat.
Penempaan Penguatan Ketabahan (Taqwiyatul Ihtimal)
Godaan senantiasa ada bahkan tak bisa dimusnahkan dalam setiap langkah manusia karena itu merupakan ikrar dan sumpah syaitan sang penggoda pada Allah Swt hingga hari kiamat kelak.
“Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 16-17)
Dalam diri seseorang sebenarnya memiliki imunitas terhadap godaan tersebut, cuma kita sendiri yang melemahkan imunitas tersebut dengan menumbuh suburkan godaan hingga menurutkan nafsu dalam diri. Imunitas itu akan senantiasa kuat sebagai benteng saat ketabahan diri meningkat.
Melatih Diri Mengutamakan Ibadah Kepada Allah SWT Daripada Santai (Itsaru ‘ibadatillah ‘ala ar-rahah)
Ibadah jalan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa sehingga melahirkan ketakwaan. Sifat santai, lalai dan menunda seruan beribadah yang telah tiba waktunya menjadi salah satu faktor yang menghambat dan merusak penempaan diri bagi seseorang.
“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)
Ada mereka yang menunggu-nunggu seruan, bersegera memenuhi panggilan, menunda-nunda atau melalaikan diri, dan terakhir mereka yang meninggalkan ajakan pada kebaikan. Ramadan menempa kita agar menjadi orang yang menanti dan menyegerakan diri dalam hal beribadah.
Jika hidup adalah proses penempaan, maka Ramadan proses mempercepat dan memoles tempaan itu menjadi lebih mempesona.
Semoga kita semakin semangat dalam proses penempaan Ramadan hingga sebulan penuh. Dan yang terpenting hasil tempaan itu bertahan selama di luar Ramadan kelak.(*)

