
Oleh: Iwan Wahyudi
Penulis Buku “Energi Ramadan”
“Kadang saat kita bocah lebih bisa menghitung amal Ramadan agar nilai agama tinggi, dibanding kita yang dewasa dengan banyak amal bolongnya dan kepastian hari perhitungan di akhirat kelak.”
Salah satu nostalgia kecil yang teringat saat Ramadan ialah mengisi buku atau lembaran kegiatan Ramadan yang diwajibkan oleh guru agama. Hampir semua ibadah harian memiliki kolomnya lengkap dengan isi ceramah alias kultum, khutbah Jum’at juga khutbah Idulfitri.
Ibadah harian saja dari puasa, shalat lima waktu, tadarus dan tilawah Al-Qur’an, buka puasa bersama, shalat tarawih, sahur hingga hafalan ayat pendek harus dibubuhi paraf orang tua dan imam shalat. Ditambah kegiatan shalat Jum’at, membayar zakat, takbiran dan shalat Idulfitri yang tentu disahkan dengan paraf orang tua dan paraf petugas ibadah tersebut.
Bayangkan jika semua lembar buku kegiatan Ramadan itu terisi semua, Masya Allah hampir 99% ibadah Ramadan beres dan tuntas. Begitulah memori masa sekolah dulu masih melekat hingga kini.
Setelah sekarang saya pikirkan, tega juga ya guru saat itu, padahal orang dewasa pun banyak yang tidak full ibadah hariannya. Termasuk para orang tua yang memberi paraf di lembar buku Ramadan itu. Tapi, senang juga sih jadi semangat kala itu dan banyak kesempatan ketemu teman sekolah tiap ibadah di masjid, termasuk takbir semalam suntuk hingga menjelang subuh.
Setiap mengisi lembaran buku Ramadan itu terbayang berapa nilai pelajaran agama. Tiap hari kelihatan mana yang bolong dan yang penuh terisi. Hari berikutnya seakan di gas agar penuh. Mau isi bohongan alias manipulasi, tidak akan berani karena ada teman yang jadi saksi. Masa isi penuh shalat tarawih padahal semua teman sekolah atau sekelas tau kita bolong datang ke masjid atau musala. Sebuah cara indah menanamkan pendidikan karakter, menumbuhkan nilai dan kepribadian anak bangsa.
Sampai hari ini saya lihat tradisi itu masih dilakukan sekolah, nah apakah itu di semua sekolah atau menjadi program terserah masing-masing sekolah? Tentu dengan cara yang lebih kekinian seperti mengisinya via aplikasi dong. Saya saja sampai seusia ini masih mengisinya, hitung-hitung untuk nostagia sekalian mengecek sejauh mana karakter itu masih membekas.
“Hisablah dirimu sebelum dihisab, timbanglah diri kalian sebelum ditimbang. Sesungguhnya berintropeksi bagi kalian pada hari ini lebih ringan dari pada hisab di kemudian hari” (HR. Iman Ahmad dan Tirmidzi)
Hal sederhana ini kan seperti mengelola negara dengan transparan. Mengisi lembaran/buku capaian kinerja sesuai dengan janji yang pernah diumbar atau rencana pembangunan (RPJM), termasuk realisasi anggarannya sebelum kemudian penyampaian Laporan Pertanggungjawaban alias LPJ. Cuma bedanya bisa “kongkalokong” atau “main mata” antara pengelola/pelaksana dan pengawas. Kalau lembar kegiatan Ramadan tidak bisa kongkalikong dengan imam atau penceramah biar diparaf penuh atau main mata dengan guru agama agar nilai bisa lebih tinggi dari kondisi sebenarnya.
Menulis timbangan amal sendiri ini, ibarat mendeteksi dini aib diri. Sebelum orang lain tahu dan bisa segera diperbaiki. Lebih-lebih sebelum saat perhitungan di akhirat kelak yang tak akan ada celah setipis apa pun, mengelak, apalagi menyogok. Hasan Al Basyri pernah berkata, “Seorang mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia menghisab dirinya karena Allah. Karena sesungguhnya hisab pada hari kiamat nanti akan ringan bagi mereka yang telah menghisab dirinya di dunia.
Yuk kita lirik kembali catatan kegiatan Ramadan 20 hari yang berlalu. Jika malu menimbangnya, masih ada 10 hari terakhir untuk gas poll agar timbangannya minimal membuat senyum kita lahir batin saat lebaran nanti. Bukan pura-pura menang padahal nilai jeblok dan hancur. Cuma kita tidak malu aja karena Allah swt menutupnya dengan semua amal ibadah puasa, Allah sendiri yang tau sebab amal rahasia yang “tersembunyi”.
Umar radhiallahu anhu mengatakan, “Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia” (HR. Tirmidzi). (*)

