Mudik Bale Kampung

Oleh: Junaidi Ana

Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”

Mudik itu ada cinta, rindu, dan pengorbanan. Mudik tidak memaksa kita untuk segera pulang, tapi mudik memberi jeda pada kita tuk menapaki kembali jejak langkah yang pernah dilalui. Setiap tapak kan terhitung hingga ada kisah yang tak akan terlewati, tidak ada cerita  yang terputus, dan tak ada episode yang hilang.

Mudik itu ibarat kita berkelana hingga batas langkah kaki, tapi akan berbalik pada langkah awal kita memulai. Mudik sesungguhnya adalah kembali pada siapa pemegang kompas kehidupan kita yang sesungguhnya.

Saat ini kita sedang berkelana di dunia yang menipu, dunai yang penuh jebakan, dunia yang penuh intrik, dan penuh ujian. Sekarang kita jadi perantau di negeri yang penuh Lika liku. Ramadan hadir memberi kita waktu tuk mengumpulkan pundi-pundi amal sebagai bekal tuk mudik ke alam abadi kelak.

Mudik itu sejatinya kita kembali sejenak bersua bersama sanak famili, bertukar cerita, berbagi kebahagiaan, menghadirkan kebersamaan, menumbuhkan rasa empati antar sesama, dan meluluhkan cerita pahit sebagai anak rantau.

Hanya anak rantau yang dapat merasakan kelegaan saat mudik tiba, dari sapanya bulan suci Ramadan yang menghadirkan kenangan agar segera bale (balik) kampung halaman. Dengan merantau kita dapat merasakan mudik itu sangat berarti.

Mudik itu rindu yang hadir dalam ruang sepi. Mengetuk setiap dinding hati yang lapang penuh cinta, menggeser tirai penghalang berkilo meter jauhnya. Mudik menumbuhkan rasa pengorbanan penuh keikhlasan berselimut keharuan kala jumpa keluarga.

Ketika mudik memberi ruang tuk melangkah pergi dari tempat rantauan, saat itulah pengorbanan memaksa kita untuk ikhlas dalam beramal. Memberi tuk kembali walau kan tak bersisa. Merantau itu mudik yang sesungguhnya.

Dari mudik kita akan belajar tentang syukur kepada Allah Swt. Allah memberi kesempatan kita tuk bersilaturaim bersama keluarga, sahabat, teman karib, dan orang-orang yang pernah memberi kita kisah tuk merantau agar dapat bmdik kelak.

Dengan mudik kita akan tahu bagaimana jarak memaksa kita untuk menempuhnya hingga dapat menuliskan kisah yang tak akan terlupakan oleh zaman. Dari deru mesin mobil, pesawat, kapal dan juga motor. Menikmati pengapnya asap jalanan dengan lelah yang bertambah.

Setiap deru mesin ada episode yang tak akan terlewatkan dengan kisah yang heroik dari cerita para petarung jalan hingga mereka yang duduk tenang dalam ruang burung besi menikmati dinginnya AC tuk menempuh perjalanan jauh hanya beberapa saat saja.

Mudik tidak harus pergi jauh, tapi dari mudik kita dapat belajar bagaimana melepas rindu, memupuk cinta kasih, melepas kangen, merajut persaudaraan, merangkai makna berbagi cerita, dan membingkai kedamaian dari senyum anak rantau.

Pada hakikatnya, mudik yang sesungguhnya adalah kita kembali pada yang kuasa setelah jatah hidup kita di dunia telah usai. Dunia adalah tempat rantau sesungguhnya. Kala panggilan dari sang pencipta yang agung, tak ada lagi yang dapat menunda sedetik pun apalagi ada negosiasi dengan-Nya.

Mari siapkan bekal dalam bulan Ramadan penuh berkah ini, agar ketika dia meninggalkan kita dan mudik tiba, kita punya bekal bale kampung yang abdi cukup untuk memberi pertangungjawabannya dihadapan sang ilahi sejati.

Mudik itu kembali pada pemilik cinta sejati dari hamba-Nya yang merantau di dunia yang fana ini. Tetap tersenyum walau selalu terhimpit rindu tuk kembali pada kampung halaman tercinta.

Bagi yang mudik, hati-hati di jalan kawan. Keselamatan dijaga, persiapkan dengan matang jika berkendara sendirian. Tetap waspada, jangan lupa istirahat kala lelah menyapa, rasa kantuk menghampiri, dan jangan lupa berbuka jika merasa kuat menempuh perjalanannya. (*)

Scroll to Top