Syawal Jaga Kualitas Ibadah

Oleh: Junaidi Ana

Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”

Berenang di samudra ibadah menggapai Lailatul Qadar, menapaki tangga muttaqin dengan menuntaskan puasa Ramadan penuh dalam penjagaan Rab-Nya. Sempurnakan dengan puasa Syawal enam hari berbilang setahun penuh.

Langit jadi selimut dan tanah jadi kasur ketika iktikaf jadi jalan memetik kemenangan. Dalam dekapan hangat cinta-Nya, sepuluh malam terakhir jadi ladang memanen berkah kemuliaan dari-Nya.

Semua telah berlalu dan belum dapat dipastikan tuk berjumpa lagi kelak. Semua itu jadi rahasia-Nya. Kita sebagai abid-Nya hanya terus berikhtiar dalam menggapai ridho dari-Nya.

Perjalanan ini baru dimulai dan baru di tangga pertama dalam tapak yang mungkin akan usai atau terus melaju. Dalam setiap tapak di bulan Syawal ini, ada enam hari yang akan mengantarkan kita memanen keistimewaan seolah setahun penuh.

Syawal datang menyempurnakan ibadah selama di bulan Ramadan, menjaga ritme ibadah kita yang sudah begitu intens dengan durasi tiga puluh hari tanpa henti. Di mana setiap amalan berbalas kali lipat.

Jangan lewatkan hadiah yang Allah janjikan pada setiap hamba yang terus mengejar pundi-pundi amal tanpa riya’ dan tak ingin terlihat tapi terus meningkat. Jangan biarkan perut kita terus terisi tanpa istirahat untuk balas puasa panjang di bulan Ramadan.

Ramadan mengajarkan kita tentang konsistensi dalam beribadah, sedangkan Syawal mengajarkan kita tentang komitmen dalam penjagaannya. Ketika Ramadan kita beribadah terus menerus, maka Syawal menuntun kita untuk terus menjaga kualitas ibadah kita agar terus ada dan tetap meningkat.

Ujian di bulan Syawal adalah istiqomah menjaga kualitas ibadah dari hadiah Ramadan. Hanya orang-orang pilihanlah yang dapat menjaga kualitas hubungan dengan sang pencipta dalam keadaan sepi juga ramai, dalam kesendirian atau bersama, dalam diam atau bergerak, dan dalam senang juga sedih.

Ramadan itu madrasah terbaik untuk melatih dan menjaga kualitas ibadah, sedangkan Syawal adalah proses menjaga konsistensi nilai-nilai kebaikan di bulan Ramadan agar tidak mengendor atau bahkan meredup dan hilang ditelan oleh waktu.

Ramadan memaksa kita belajar untuk menahan walaupun itu halal untuk disentuh, tapi Syawal menyapa kita untuk meraih yang halal jadi berkah. Namun ada keindahan sabar mengajarkan kita untuk tidak bablas kala menyantap berlebih kala porsi itu disodorkan.

Bersyukurlah pada pemilik semesta, yang masih mengizinkan kita tuk menapaki tangga awal dari bulan Ramadan dengan Syawal sebagai pembuka jalan menuju Ramadan yang akan datang.

Rindu itu akan terus ada dan tetap ada terselip disudut hati, tuk terus merindui bulan penuh keberkahan. Ketika Syawal tiba, jagalah terus cinta-Nya pada bulan penuh kemuliaan, agar tetap terhubung pada ibdah yang tak pernah putus di bulan Ramadan.

Syawal menyapa tuk jaga kualitas ibadah bulan Ramadan. Ketika Syawal tiba, semua hidangan kan jadi santapan, perut kenyang ibadah pastikan tergangu. Shaf masjid makin sedikit, tilawah makin kendor, shalat sunah mungkin mulai diabaikan, dan gosip tentang hidangan lebaran semakin menggema. Itulah ujian awal bagi kita setelah Ramadan pergi.

Tetaplah merinduinya

Hingga kelak kan jadi candu

Walau ada sebelas sekat yang harus dibuka

Tapi yakin jadi kunci tuk bersua kembali. (*)

Scroll to Top