
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
Jodoh sesungguhnya yang Allah siapkan untuk kita adalah dia yang menemani hingga menua bersama dan menjemput takdir kehidupan hingga akhir. Ta’aruf dan khitbah itu gerbang awal menjemput jodoh, bukan jodoh kita yang sesungguhnya, karena bisa jadi yang duduk di pelaminan adalah wajah lain dari yang di ta’aruf dan khitbah yang sesungguhnya. Maka jodoh yang sesungguhnya adalah ketika ijab qobul terucap antara mempelai pria dan sang wali dari perempuan dan disaksikan oleh para malaikat. Akan tetapi sesungguhnya, ketetapan jodoh itu adalah yang menemani hingga akhir hayat.
Jangan pernah menyesal jika suatu saat keputusan mu menghadiahkan luka. Tapi ketika keputusan mu memberikan senyum, maka bersyukurlah. Setiap orang adalah individu yang mandiri. Bergantung hanya pada pemilik semesta yang agung.
Ada orang yang mungkin baru sadar dan menyesal menjaga jodoh orang lain hingga jodohnya menjemput lalu membawa ke mahligai rumah tangga.
Ada juga yang mungkin dalam diam mencintai jodoh orang lain hingga khitbah dan ijab qobul membuat dia sadar akan takdir Allah SWT yang abadi.
Ada juga yang mungkin sama-sama menjaga dan akhirnya ikhlas melepaskan dan menjemput jodohnya masing-masing, namun meninggalkan luka yang terus menjalar pada kehidupan yang terus dibayangi oleh masa lalu.
Kehidupan dunia saat ini, semuanya begitu realistis, dogma agama mungkin akan memberi ruang pada kita bergerak dengan hati-hati agar tidak terjebak. Tapi kadang setiap individu saling memaksa untuk memahami prinsip hidup orang lain dan menuntut orang lain ikuti prinsip hidupnya. Padahal setiap orang punya prinsip hidup yang menurutnya benar dan sangat diyakini kebenarannya.
Dogma agama hadir menuntun kita sebagai makhluk yang beragama untuk memahami batasan benar dan salah, baik dan buruk, halal dan haram, boleh dan tidak, wajib dan sunah, serta menerima dengan keyakinan paripurna.
Takdir hidup setiap individu sudah diatur dalam koridor pengawasan langsung dari Allah pemilik semesta. Takdir tentang rezeki, jodoh dan kematian sudah ada dalam garis besar buku diari Allah yang tercatat rapi. Semua tidak dapat dirubah dalam catatan yang dijaga oleh-Nya.
Jika suatu saat, jodoh memaksamu untuk mengakhirinya lebih cepat, apakah kita harus memilih jalan pintas atau terus bersandar pada pemilik takdir sesungguhnya? Setiap ujian itu akan menghampiri kita dalam keadaan lapang juga sempit, tergantung bagaimana cara kita menghadapi takdirnya.
Cobalah tengok sejenak pada kisah ayahanda Rasulullah SAW dalam hal jodoh, nur Muhammad yang bersemayam dalam dirinya terus memancar pada wajahnya yang rupawan, sehingga memaksa para gadis bangsawan Quraisy ingin memilikinya walau hanya semalam, tapi dalam penjagaan Allah, semua tetap terjaga hingga menjemput jodohnya bunda Rasulullah SAW.
Bagaimana bunda Khadijah melamar Rasulullah? Semua bermula dari membangun kepercayaan dengan Khadijah sebagai saudagar kaya raya dan Muhammad sebagai pedagang yang membawa dagangan Khadijah untuk dijual. Sifat Shiddiq meneguhkan hati Khadijah pada Muhammad, sifat amanah semakin membangun kepercayaan paripurna Khadijah, kecerdasannya dalam berdagang semakin menguatkan tekad Khadijah tuk melamar Rasulullah, dan selalu menyampaikan detail setiap aktifitas dalam berdagang semakin mengokohkan posisinya jadi pilihan utama Khadijah untuk memilikinya.
Belajarlah pada Fatimah binti Muhammad, jodohnya terpilih dan dipilih yang terbaik. Siapa yang meragukan Abubakar sang sahabat yang menemani Rasullullah saat hijrah, siapa yang meragukan komitmen kepemimpinan Umar bin Khattab, semuanya menginginkan Fatimah, mereka melamarnya tapi Rasulullah sebagai wali tidak menjawab lamaran mereka, apakah mereka marah? Tidak! Mereka sadar bahwa ada orang pilihan yang dipilih oleh Rasulullah untuk putri tercintanya. Ali Karimullah wajhah adalah jodoh yang dipilih dan terpilih untuk Fatimah binti Muhammad.
Jodoh itu pilihan rahasia dari Allah untuk setiap hamba-Nya, siapa jodoh kita, itulah potret diri kita yang sesungguhnya. Jangan pernah memaksa jodoh dengan melanggar norma dalam agama, budaya dalam masyarakat, dan kehidupan sosial serta tradisi kehidupan kelompok untuk mengikuti kemauan zaman. Ada nilai yang tak boleh dilanggar, ada norma yang harus dijaga, ada tradisi yang terus dipupuk, dan ada kearifan yang terus dibangun untuk menjaga maruah setiap manusia.
Jodoh tidak memaksa kita untuk memilikinya, tapi jodoh memberi ruang pada kita untuk terus memantaskan diri dengan mendekat lalu mendekap-Nya dengan erat dalam pusaran sujud pada-Nya, bersimpuh memohon agar dipilih dari yang terbaik diantara yang baik, dituntun menuju mahligai rumah tangga yang barokah.
Jodoh itu kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menerima apa yang kita inginkan, tapi jodoh menuntun kita menuju pernikahan yang berkah, menuju tangga awal dalam menapaki setiap fase kehidupan yang awalnya sendiri menjadi berdua dan terus bertambah. Fase ini akan penuh drama yang sangat dramatis dengan riak ombak yang kadang teduh juga kadang ganas.
Gelombang kadang akan meninggi dengan arus yang makin deras lalu menyeret menuju tepian penuh ketegangan. Jika jodoh yang disiapkan itu lemah lembut, dia akan menuntun menuju tepian yang teduh penuh kedamaian, jauh dari riak ombak walau mungkin gelombang terus menghempas menghasilkan ombak yang memecah di tepian.
Jodoh itu ujian yang Allah siapkan pada setiap hamba-Nya, mungkin kita sering melihat pasangan yang begitu harmonis kala di luar rumah, kehidupannya begitu teduh, tak ada riak, tak ada gelombang, juga tak ada api yang berkobar. Bisa jadi ada lisan dan hati mereka yang terus bersyukur di tepian malam ketika kita semua tertidur lelap dengan sujud panjang pinta penjagaan Rab-Nya.
Mungkin juga ada pasangan yang bergelimang harta tapi tidak pernah akur dalam hidup, setiap hari kehidupannya penuh dengan intrik drama yang tak pernah usai oleh derai airmata. Piring yang pecah, sandal melayang, teriakan memekik tak pernah henti, selalu gaduh oleh ocehan tak berfaedah. Itulah ujian jodoh yang Allah hadiahkan pada hamba-Nya.
Setiap manusia dalam takdir jodoh, tak akan ada yang dapat memaksa jika itu sudah dalam kehendak sang pemilik semesta. Jodoh itu jati diri pasangan yang Allah siapkan untuk setiap hamba-Nya. Tak perlu terburu-buru apalagi memaksa-Nya untuk segerakan, tapi kita belum dapat memantaskan diri untuk mengarungi samudra kehidupan yang tak bertepi nantinya.
Tersenyumlah dalam setiap waktu, jika Allah sudah menghadiahkan jodoh yang saat ini sedang bersamamu, tapi jika yang belum ditakdirkan jodohnya menjemput, maka bersabar dan terus pantaskan diri untuk menunggu di terminal penantian yang tak bertepi bernama sajadah dengan sujud pinta pada-Nya yang terbaik dari yang baik.
Jodoh tak perlu dipaksa seperti Zulaikha menginginkan Yusuf, tapi kemudian Zulaikha sadar lalu memantaskan diri menunggu waktu yang tepat hingga bersanding dengan Yusuf sang nabi yang paling ganteng rupawan. Jadilah seperti Khadijah menunggu dengan terus memantau dari hasil dagangan Rasulullah yang memiliki sifat shiddiq, tabligh, amanah, dan fathanah, semua sifat ini jadi fondasi utama dalam meneguhkan pilihnya, hingga kala sudah tiada Rasulullah terus melabuhkan cintanya yang membuat Aisyah cemburu padanya.
Kawan…!
Jangan mengejar jodoh yang bukan disiapkan oleh Allah untukmu dengan melanggar norma agama, adat istiadat, dan nilai kebaikan yang dianut oleh setiap kalangan yang bermoral. Bisa jadi jodoh yang dikejar hingga ke planet mars sekalipun itu bukan jodoh takdir untukmu, maka kau sudah menghadiahkan luka untuk masa depan dengan jodoh yang mungkin saja itu adalah anak tetangga baik orang tua yang Allah takdirkan untuk bersama hingga menua. (*)

